Tampilkan postingan dengan label Jihad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jihad. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Juli 2009

Merasakan Adanya Musuh

1. Waspada

Guna kehati-hatian terhadap bahaya dari musuh, kita harus menyadari bahwa taktik yang digunakan mereka dewasa ini sangat berbeda dari yang dipakai oleh musuh Islam pada zaman Nabi. Musuh-musuh Islam pada waktu itu umumnya bertekad menghapus Islam dengan cara yang radikal, berani menentang Islam dengan ucapan-ucapan yang kasar dan terang-terangan. Mungkin mereka melakukan keradikalan itu, karena memahami bahwa pemeluk Islam pada waktu itu masih dianggap sebagai kelompok yang masih kecil serta dapat dihancurkan secara kekerasan.

Sudah tentu lain lagi dengan yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam pada abad sekarang ini. Yang mana mereka berusaha melenyapkan Islam dengan jalan berangsur-angsur, melalui politik yang lumat dan licin. Misalnya : menyebarluaskan kebudayaan yang merusak moral generasi umat, mengadakan proyek kemaksiatan, serta menciptakan aliran-aliran kepercayaan yang merongrong peribadatan umat Islam. Juga, cara-cara berselubung lainnya yang dianggap oleh mereka bakal merugikan potensi Islam. Jelasnya, bila hendak mengetahui tentang musuh-musuh Islam, maka tidak perlu terlebih dulu mengetahui akan adanya pernyataan yang terang-terangan anti terhadap Islam.

Walaupun antara musuh pada zaman Nabi dan musuh yang kita hadapi dewasa ini dijumpai perbedaannya dalam taktik, namun “strategi musuh” adalah sama yaitu bertujuan supaya kita mengikuti ideologi mereka, dan paling tidak agar kita mencampuradukkannya dengan ajaran Islam. Seperti misalnya, berpuasa secara Islam sedang hubungan bermasyarakat dilandasi hukum kafir. Sehingga tidak terasa diri terperosok ke jurang kemusyrikan. Mestikah bahwa untuk melawan mereka itu kita harus menunggu terjadinya peristiwa-peristiwa seperti : di Spanyol, Philipina, Kamboja atau di negeri komunis lainnya ?

Sudah dijelaskan bahwa bagi kita tidak asing bila mengetahui adanya antek-antek sebangsa iblis yang tidak melarang mengeluarkan zakat, pergi haji bahkan menyuruhnya karena mereka memperoleh keuntungan secara material maupun politis. Karena itu, bukan lagi persoalan mengenai Islam tidak dilarang, atau shalat dan berpuasa dibolehkan. Akan tetapi, apakah dalam keadaan demikian itu kita ini masih sama berperilaku sebagaimana mereka yang fasik, mencampuradukkan yang hak dengan yang bathil. Yakni memakai sebagian ajaran Islam, namun memakai pula hukum-hukum yang berlawanan dengannya karena dipaksa oleh mereka. Bilamana kita telah dipaksa oleh kekuasaan mereka, maka kita berhak menyatakan bahwa pemerintah sedemikian itu musuhnya Islam. Dikiaskan dengan setan selaku musuhnya orang beriman (QS. 2 : 168), maka para penentang hukum-hukum Al-Qur’an pun adalah kawan-kawannya setan (QS. 7 Al-A’Raaf : 27).

a. Bukti Ketidakwaspadaan yang Terjadi di Indonesia

Semua telah memahami bahwa musuh yang paling berbahaya ialah yang menyaru sebagai muslim, membuat sebagian mu’minin terpedaya tidak dapat membedakan siapa kawan dan siapa lawan. Dalam hal ini kita perhatikan Firman Allah yang bunyi-Nya :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالاً وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ

أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ اْلاَيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ (118)

“Hai orang-orang beriman janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaan orang-orang di luar kalanganmu, mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu, mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sesungguhnya telah kami terangkan kepadamu ayat-ayat (kami) jika kamu memahaminya.” (QS. Ali Imron : 118).

Ayat itu sebagai bahan analisa bahwa tidak mustahil jika lemahnya perjuangan Islam, maka antara lain penyebabnya yaitu adanya kegiatan musuh yang tidak diketahui hingga sempat dibawa kerja sama oleh sebagian tokoh yang berpredikat Islam. Bukti sejarah telah terjadi di Indonesia, sebagian yang pada waktu itu belum dapat menilai yang bagaimana lawan Islam dan mana pembela Islam. Mereka menyukai bergabung dengan kekuatan pancasilais dari pada dengan yang mendirikan negara berazaskan Kitabullah dan Hadist SAW. Meskipun sesudah masa itu masih ditemukan lontaran kata “memperjuangkan Islam”, namun karena telah terbius…. oleh kepercayaan terhadap konsesi buatan manusia (parlementer ala Barat), akhirnya banyak yang terus terlena dibuai oleh beraneka ayunan kursi kepangkatan. Dan selanjutnya bersimpuh dalam lingkaran singgasana Nasakom (Nasional, Komunis, Agama). Walaupun sebagiannya telah memberontak setelah adanya apa yang mereka namakan “Kegagalan Konstituante”, namun memberontaknya itu hanyalah sebab tidak setuju terhadap Sukarno yang mendudukkan komunis dalam pemerintahannya, PRRI muncul karena politik Nasakom dan karena Pusat kurang memperhatikan pembangunan daerah, “kata Syafrudin” (“TEMPO”, 21 Desember 1985 hal. 14). Sungguh mereka menganggap seakan-akan bahwa musuh Islam itu hanya komunis (PKI). Karenanya masih bersedia pula berangkulan dengan kaum sosialis (PSI), sehingga masih saja membawa-bawa pancasila bahkan mendukungnya. “PRRI itu ‘kan mendukung Pancasila”, katanya” (Ibid (pem, ucapan Syafrudin Prawiranegara). Nyata, berontaknya itu (PRRI) tidak bertujuan Islam.

Tentu sebenarnya mereka telah merasakan pahitnya pengalaman tatkala bergabung dengan kaum sekuler pancasilais lainnya yang bersikeras dan curang dalam mempertahankan Ideologi. Akan tetapi, mungkin karena terlanjur komitmen terhadap Pancasila, atau gensi dan lainnya, maka kelanjutannya pun mereka mengambil kawan dari pihak yang tujuan perjuangannya lain Islam. Firman Allah yang bunyi-Nya :

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ تَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مَا هُمْ مِنْكُمْ وَلَا مِنْهُمْ…(14)

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman ? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (juga) dari golongan mereka….” (QS. Al Mujadilah : 14).

Meskipun PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) itu masih dalam kekuatan yang utuh, baik dari segi personal maupun persenjataan, namun karena tidak mempunyai ketegasan ideologi (tidak mempunyai furqon), maka setelah di antara pemimpinnya (dari pihak sosialis) melepaskan tangan, kemudian tokoh-tokoh yang lainnya pun berunding dan menyerah dalam waktu singkat. Dan memberikan persenjataannya kepada pemerintah yang sedang menumpas pejuang-pejuang Islam. Akhirnya persenjataan yang terhitung modern pada waktu itu berikut timbunan amunisi sebagai dropping dari Liga Anti Komunis Dunia yang dicadangkan untuk sekian tahun itu, digunakan menghantam Tentara Islam Indonesia (TII) di Jawa Barat, Sulawesi, Kalimantan dan Sumatra.

b. Kewaspadaan Didapati Dalam Furqan

Resapilah bahwa setiap jiwa yang melayang dibunuh dalam berperang harus dapat dipertanggungjawabkan di hadirat Allah SWT. Sebab itu, di dalam Islam bahwa landasan untuk berperang hanyalah satu yaitu “Fisabiilillah”, maka azasnya harus tegas “Islam” tanpa embel-embel. Dalam hal itu tidak boleh sekedar tujuan pembangunan daerah, propinsialis atau kesukuan, serta kepangkatan dan sebagainya yang membuat diri keluar dari lillah.

Jalan berperang menurut Islam hanya satu yakni menegakkan dan mempertahankan “Kalimattullah”. Maka, andaikata sekalipun yang namanya PKI (Partai Komunis Indonesia) sudah tidak ada, namun bila masih ada rintangan terhadap berlakunya Undang-Undang Islam, maka pintu untuk berperang wajib dibuka ; senjata musti digenggam ! Sudah berdasarkan Islam dengan sendirinya harus tidak ada tempat bagi komunis, tidak ada kesukuan dan kedaerahan atau kepentingan pribadi.

Mati dalam berperang tanpa dasar Islam, maka mati jahiliyah dan fisabiilitthagut (Q.S. An Nisa : 76) dan juga mati dalam komando yang tidak bermisikan perjuangan Islam adalah mati konyol. Dari itu haram bagi mu’min mengambil pimpinan yang tidak menyalur dengan sabilillah. Dua jalan di Dunia ini : ialah : fisabilillah dan fisabilitthagut (jalan setan). Dengan itu bila di Indonesia telah ada FURQON yaitu berdirinya lembaga negara yang berlandaskan hukum-hukum Allah, maka yang mengingkarinya adalah pada jalan “thagut”.

Ayat-ayat yang maknanya telah kita simpulkan pada uraian lalu itu menerangkan bahwa mereka terus menginginkan diri kita mengikuti ideologi mereka. Juga, kebencian yang disembunyikan dalam hati mereka adalah lebih besar dari yang diucapkan. Maka, tiada jalan bagi kita selain kesadaran ; bahwasanya kebaikan apa pun yang diberikan oleh yang ideologinya kontra dengan Islam, pada titik akhirnya akan menghambat tujuan kita. Kalaulah dalam hal ini kita mengingat lipatan sejarah, bahwa Rasulullah SAW pernah kompromi dengan Yahudi Banu Quraizah dalam menghadapi serangan kaum Quraisy pada Perang Parit, maka kita harus ingat pula bahwasanya itu dilakukan karena umat Islam sudah berkuasa. Dalam hal itu juga hanya dengan yang sudah loyal terhadap kekuasaan Islam. Pun, guna menahan serangan dari luar wilayah. Adapun di dalam sudah beres. Bukankah dengan kekuasaan itu Rasulullah SAW telah dapat menghukum Yahudi yang mengkhianati agreenmentnya ?

Perjanjian bersatu dengan yang non-Islam, sedang kitanya sendiri tidak mempunyai kekuasaan, maka hasilnya akan tetap dibawah kendali mereka. Sebab, bagaimana pun keadaannya maka manusia yang berideologi thagut itu, pada dasarnya akan tetap berusaha agar kita berada di bawah kaki mereka. Karena itu Islam mewajibkan adanya furqan bagi umatnya, supaya dapat berwaspada terhadap musuh. Dan juga Islam tidak membutuhkan pengikut yang banyak, sedang campuraduk dengan para pengemban konsepsi kebathilan.

2. Mengerti Tentang Pemisahannya Antara Kita dan Musuh yang Tersembunyi Atau Pun yang Nyata

Setelah paham apa yang dituju oleh musuh, yaitu menyimpangkan kita dari rel Islam. Maka, harus pula kita memahami yang bagaimanakah sebenarnya musuh itu. Dalam hal ini untuk sekian kalinya kita ulangi lagi ayat yang bunyinya : “Mereka ingin kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir lalu kamu menjadi sama (seperti mereka). Sebab itu, janganlah kamu jadikan dari antara mereka kawan hingga mereka berhijrah pada jalan Allah”. (QS. An-Nisa : 89).

Sebab-sebab turunnya ayat itu, ringkasnya ; beberapa orang datang kepada Nabi di Madinah dan masuk Islam. kemudian mereka ditimpa “demam Madinah”. Dan mereka kafir lagi kemudian keluar dari Madinah (kelembagaan negara Islam). Kemudian berjumpa dengan para sahabat Nabi. Para sahabat ini menjadi dua golongan ; sebagian berpendapat bahwa mereka sudah kafir. Dan sebagian lagi berpendapat bahwa mereka masih Islam. Lalu turunlah ayat ini mencela golongan yang berpendapat bahwa yang keluar dari lembaga ulil amri itu masih Islam.

Pengertian dari ayat diatas tadi ialah bahwa orang-orang yang sudah menjadi kafir itu menginginkan agar orang-orang mu’min menjadi kafir. Sedang yang dimaksud dengan istilah “kafir” itu tidak hanya seseorang itu mengaku dirinya bukan Islam, melainkan juga perbuatannya bertolak belakang dengan “hijrah pada jalan Allah”. Dengan perkataan lain yaitu berbuat sesuatu yang merugikan kedaulatan Islam. Dengan itu meskipun didapat yang mengaku Islam, namun bila dirinya itu tidak menyukai atau mengingkari terhadap lembaga kekuasaan yang berdasarkan hukum-hukum Islam, maka sama halnya dengan kafir. Dari ayat itu pun diambil jelasnya bahwa garis pemisah antara kawan dan lawan adalah ditentukan dengan “hijrah pada jalan Allah”. Dalam arti lain yaitu oleh tidak atau adanya kesetiaan terhadap “lembaga ulil amri berazaskan Islam”. Sungguh mudah dimengerti bahwa apa pun yang dilakukan seseorang, tetapi bila dibalik itu dirinya ingkar terhadap pemerintahan bersendikan Islam, maka berarti tidak patuh terhadap hukum-hukum Islam itu sendiri. Dan berarti “kafir” baginya.

http://abuqital1.wordpress.com/2009/07/27/merasakan-adanya-musuh/#more-299

Rabu, 25 Maret 2009

Telunjuk yang Bersyahadat




Ulama, da’i, serta para penyeru Islam yang mempersembahkan nyawanya di Jalan Allah, atas dasar ikhlas kepadaNya, senantiasa ditempatkan Allah sangat tinggi dan mulia di hati segenap manusia.

Di antara da’i dan penyeru Islam itu adalah Syuhada (insya Allah) Sayyid Qutb. Bahkan peristiwa eksekusi matinya yang dilakukan dengan cara digantung, memberikan kesan mendalam dan menggetarkan bagi siapa saja yang mengenal Beliau atau menyaksikan sikapnya yang teguh. Di antara mereka yang begitu tergetar dengan sosok mulia ini adalah dua orang polisi yang menyaksikan eksekusi matinya (di tahun 1966).

Salah seorang polisi itu mengetengahkan kisahnya kepada kita:

Ada banyak peristiwa yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya, lalu peristiwa itu menghantam kami dan merubah total kehidupan kami.

Di penjara militer pada saat itu, setiap malam kami menerima orang atau sekelompok orang, laki-laki atau perempuan, tua maupun muda. Setiap orang-orang itu tiba, atasan kami menyampaikan bahwa orang-orang itu adalah para pengkhianat negara yang telah bekerja sama dengan agen Zionis Yahudi. Karena itu, dengan cara apapun kami harus bias mengorek rahasia dari mereka. Kami harus dapat membuat mereka membuka mulut dengan cara apapun, meski itu harus dengan menimpakan siksaan keji pada mereka tanpa pandang bulu.

Jika tubuh mereka penuh dengan berbagai luka akibat pukulan dan cambukan, itu sesuatu pemandangan harian yang biasa. Kami melaksanakan tugas itu dengan satu keyakinan kuat bahwa kami tengah melaksanakan tugas mulia: menyelamatkan negara dan melindungi masyarakat dari para “pengkhianat keji” yang telah bekerja sama dengan Yahudi hina.

Begitulah, hingga kami menyaksikan berbagai peristiwa yang tidak dapat kami mengerti. Kami mempersaksikan para ‘pengkhianat’ ini sentiasa menjaga shalat mereka, bahkan sentiasa berusaha menjaga dengan teguh qiyamullail setiap malam, dalam keadaan apapun. Ketika ayunan pukulan dan cabikan cambuk memecahkan daging mereka, mereka tidak berhenti untuk mengingat Allah. Lisan mereka sentiasa berdzikir walau tengah menghadapi siksaan yang berat.

Beberapa di antara mereka berpulang menghadap Allah sementar ayunan cambuk tengah mendera tubuh mereka, atau ketika sekawanan anjing lapar merobek daging punggung mereka. Tetapi dalam kondisi mencekam itu, mereka menghadapi maut dengan senyum di bibir, dan lisan yang selalu basah mengingat nama Allah.

Perlahan, kami mulai ragu, apakah benar orang-orang ini adalah sekawanan ‘penjahat keji’ dan ‘pengkhianat’? Bagaimana mungkin orang-orang yang teguh dalam menjalankan perintah agamanya adalah orang yang berkolaborasi dengan musuh Allah?

Maka kami, aku dan temanku yang sama-sama bertugas di kepolisian ini, secara rahasia menyepakati, untuk sedapat mungkin berusaha tidak menyakiti orang-orang ini, serta memberikan mereka bantuan apa saja yang dapat kami lakukan. Dengan ijin Allah, tugas saya di penjara militer tersebut tidak berlangsung lama. Penugasan kami yang terakhir di penjara itu adalah menjaga sebuah sel di mana di dalamnya dipenjara seseorang. Kami diberi tahu bahwa orang ini adalah yang paling berbahaya dari kumpulan ‘pengkhianat’ itu. Orang ini adalah pemimpin dan perencana seluruh makar jahat mereka. Namanya Sayyid Qutb.

Orang ini agaknya telah mengalami siksaan sangat berat hingga ia tidak mampu lagi untuk berdiri. Mereka harus menyeretnya ke Pengadilan Militer ketika ia akan disidangkan. Suatu malam, keputusan telah sampai untuknya, ia harus dieksekusi mati dengan cara digantung.

Malam itu seorang sheikh dibawa menemuinya, untuk mentalqin dan mengingatkannya kepada Allah, sebelum dieksekusi.

(Sheikh itu berkata, “Wahai Sayyid, ucapkanlah Laa ilaha illa Allah…”. Sayyid Qutb hanya tersenyum lalu berkata, “Sampai juga engkau wahai Sheikh, menyempurnakan seluruh sandiwara ini? Ketahuilah, kami mati dan mengorbankan diri demi membela dan meninggikan kalimat Laa ilaha illa Allah, sementara engkau mencari makan dengan Laa ilaha illa Allah”. Pent)

Dini hari esoknya, kami, aku dan temanku, menuntun dan tangannya dan membawanya ke sebuah mobil tertutup, di mana di dalamnya telah ada beberapa tahanan lainnya yang juga akan dieksekusi. Beberapa saat kemudian, mobil penjara itu berangkat ke tempat eksekusi, dikawal oleh beberapa mobil militer yang membawa kawanan tentara bersenjata lengkap.

Begitu tiba di tempat eksekusi, tiap tentara menempati posisinya dengan senjata siap. Para perwira militer telah menyiapkan segala hal termasuk memasang instalasi tiang gantung untuk setiap tahanan. Seorang tentara eksekutor mengalungkan tali gantung ke leher Beliau dan para tahanan lain. Setelah semua siap, seluruh petugas bersiap menunggu perintah eksekusi.

Di tengah suasana ‘maut’ yang begitu mencekam dan menggoncangkan jiwa itu, aku menyaksikan peristiwa yang mengharukan dan mengagumkan. Ketika tali gantung telah mengikat leher mereka, masing-masing saling bertausiyah kepada saudaranya, untuk tetap tsabat dan shabr, serta menyampaikan kabar gembira, saling berjanji untuk bertemu di Surga, bersama dengan Rasulullah tercinta dan para Shahabat. Tausiyah ini kemudian diakhiri dengan pekikan, “ALLAHU AKBAR WA LILLAHIL HAMD!” Aku tergetar mendengarnya.

Di saat yang genting itu, kami mendengar bunyi mobil datang. Gerbang ruangan dibuka dan seorang pejabat militer tingkat tinggi datang dengan tergesa-gesa sembari memberi komando agar pelaksanaan eksekusi ditunda.

Perwira tinggi itu mendekati Sayyid Qutb, lalu memerintahkan agar tali gantungan dilepaskan dan tutup mata dibuka. Perwira itu kemudian menyampaikan kata-kata dengan bibir bergetar, “Saudaraku Sayyid, aku datang bersegera menghadap Anda, dengan membawa kabar gembira dan pengampunan dari Presiden kita yang sangat pengasih. Anda hanya perlu menulis satu kalimat saja sehingga Anda dan seluruh teman-teman Anda akan diampuni”.

Perwira itu tidak membuang-buang waktu, ia segera mengeluarkan sebuah notes kecil dari saku bajunya dan sebuah pulpen, lalu berkata, “Tulislah Saudaraku, satu kalimat saja… Aku bersalah dan aku minta maaf…”

(Hal serupa pernah terjadi ketika Ustadz Sayyid Qutb dipenjara, lalu datanglah saudarinya Aminah Qutb sembari membawa pesan dari rejim thowaghit Mesir, meminta agar Sayyid Qutb sekedar mengajukan permohonan maaf secara tertulis kepada Presiden Jamal Abdul Naser, maka ia akan diampuni. Sayyid Qutb mengucapkan kata-katanya yang terkenal, “Telunjuk yang sentiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalatnya, menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukan atau menyerah kepada rejim thowaghit…”. Pent)

Sayyid Qutb menatap perwira itu dengan matanya yang bening. Satu senyum tersungging di bibirnya. Lalu dengan sangat berwibawa Beliau berkata, “Tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah bersedia menukar kehidupan dunia yang fana ini dengan Akhirat yang abadi”.

Perwira itu berkata, dengan nada suara bergetar karena rasa sedih yang mencekam, “Tetapi Sayyid, itu artinya kematian…”

Ustadz Sayyid Qutb berkata tenang, “Selamat datang kematian di Jalan Allah… Sungguh Allah Maha Besar!”

Aku menyaksikan seluruh episode ini, dan tidak mampu berkata apa-apa. Kami menyaksikan gunung menjulang yang kokoh berdiri mempertahankan iman dan keyakinan. Dialog itu tidak dilanjutkan, dan sang perwira memberi tanda eksekusi untuk dilanjutkan.

Segera, para eksekutor akan menekan tuas, dan tubuh Sayyid Qutb beserta kawan-kawannya akan menggantung. Lisan semua mereka yang akan menjalani eksekusi itu mengucapkan sesuatu yang tidak akan pernah kami lupakan untuk selama-lamanya… Mereka mengucapkan, “Laa ilaha illah Allah, Muhammad Rasulullah…”

Sejak hari itu, aku berjanji kepada diriku untuk bertobat, takut kepada Allah, dan berusaha menjadi hambaNya yang sholeh. Aku sentiasa berdoa kepada Allah agar Dia mengampuni dosa-dosaku, serta menjaga diriku di dalam iman hingga akhir hayatku.

Diambil dari kumpulan kisah: “Mereka yang kembali kepada Allah”
Oleh: Muhammad Abdul Aziz Al Musnad
Diterjemahkan oleh Dr. Muhammad Amin Taufiq.

Jumat, 06 Maret 2009

20 Tahun Hengkangnya Sovyet Dari Afghanistan

"Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh."(Al-Anbiya' 21:105)

Bismillahirrohmanirrohim



Imarah Islam Afghanistan-Taliban
20 Tahun Hengkangnya Sovyet Dari Afghanistan
15 Februari 2009 M

"Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh."(Al-Anbiya' 21:105)

20 tahun yang lalu, 26 Dzul Qa'dah 1367 H bertepatan 15 Februari 1989 M, Rusia dipaksa keluar dan lari terbirit-birit dari bumi Afghanistan.

Pasukan Rusia yang dipersenjatai dengan berbagai jenis senjata modern kala itu, jatuh di tangan penduduk Afghanistan dan tak satupun kemenangan yang mereka raih dalam penjajahan yang mereka lakukan selama 10 tahun. Bahkan mereka mendapatkan kematian, luka dan hilangnya puluhan ribu tentara. Ribuan kendaraan tempur hancur. Mereka mengalami kerugian dana hingga trilyunan dolar. Itu semua adalah akhir kisah cerita sang adidaya nun perkasa yang tertipu yang dahulu kala dikenal dengan nama Uni Sovyet.

Dengan hengkangnya pasukan Uni Sovyet dari Afghanistan maka hancurlah kekaisaran Rusia. Bangsa-bangsa yang berada di bawah pemerintahannya mulai melepaskan diri dan merdeka. Robohlah pakta Warsawa dan Tembok Berlin.

Perjuangan jihad penduduk mujahid Afghan melawan Sovyet menyelamatkan dunia dari kejahatan komunisme. Dulu Sovyet tidak hanya semata menjajah Afghanistan, tapi dengan melakukan penjajahan di negeri ini mereka menginginkan air hangat di laut India, dan dari sana mereka akan melakukan perluasan/ekspansi terhadap lawan-lawan mereka.

Tapi dengan kurnia Allah dan disusul dengan keutamaan jihad Afghan yang suci, Uni Sovyet tidak hanya gagal menjajah Afghanistan, bahkan kekaisaran merah mereka berakhir di jantung Kremlin dan ideologi komunis menjadi hina, menjadi bahan tertawaan di seluruh dunia.

Dan dari keberkahan jihad Afghanistan dalam menghancurkan kekuatan komunis yang merajalela, maka giliran Amerika menjadi satu-satunya super power di dunia. Tapi sayangnya Amerika tidak memanfaatkan momen ini untuk kepentingan mereka dan dunia menuju hal positif, tapi justru mereka berjalan berlawanan dengan hal tersebut dengan meniti langkah Uni Sovyet dalam rangka politik ekspansi barat di seluruh dunia.

Dimulai dengan kejahatan dan pembantaian masal kaum muslimin di seluruh pelosok dunia. Mereka tidak memberikan hak hidup merdeka bagi seorang pun tanpa seizin mereka. Sampai mereka melakukan serangan brutal dan kejam terhadap Imarah Islam Afghanistan berlandaskan politik diktator mereka yang bertentangan dengan seluruh peraturan-peraturan dan norma-norma standar nasional dan internasional. Sebagaimana halnya dengan Sovyet, mereka juga melakukan pembakaran terhadap rakyat Afghanistan yang terdhalimi dalam kobaran-kobaran api. Rakyat yang semestinya mendapatkan penghormatan layaknya pahlawan.

Sebagaimana sitiran penduduk Afghanistan : "Sarang rajawali tidak akan kosong dari rajawali", maka di rumah-rumah rajawali itu terdapat rajawali lainnya yang akan merobek tulang belulang para penjajah Amerika yang tertipu dengan anti-peluru baja mereka sebaimana merobek tulang belulang tentara Sovyet dan yang sebelum mereka tentara kafir Inggris.

Imarah Islam Afghanistan di saat yang bersejarah dan membanggakan ini, bagi rakyat Afghanistan khususnya dan bagi umat islam umumnya, memanggil mereka lagi untuk menjaga parit-parit jihad yang suci untuk mempertahankan diri dari serangan Amerika dan sekutunya. Dan menyeru mereka agar berkonsentrasi pada persatuan dan kesatuan barisan jihad diantara mereka. Dan jangan pernah puas dan cukup kecuali dengan kemerdekaan penuh untuk negeri Islam Afghanistan dari penjajahan salibis Amerika.

Imarah Islam Afghanistan juga mengumumkan dalam perkataan yang jelas dan gamblang, pernyataan yang selalu diulang, pesan kepada para penanggung jawab Amerika yang tertipu; Agar mereka menarik seluruh pasukan penjajah dari negeri jihad Afghanistan sebelum mereka menemui nasib yang sama sebagaimana nasib Sovyet. Agar mereka mengambil pelajaran dari akhir kisah menyedihkan dan menghinakan Sovyet dengan menghentikan ekperimen kekuatan di bumi Afghanistan. Agar mereka mengerjakan hal-hal logis dan berpengetahuan untuk menemukan solusi seluruh persoalan. Bukan berdasar kepandiran dan keras kepala. Tak butuh waktu lama mulai dari sekarang bagi Amerika koboi untuk bangun dan menyelamatkan rakyat dan pemerintahannya dengan menarik prajuritnya, yang telah kehilangan semangat, dari Afghanistan.

Masa berlalu dan tak menyadarkan seorang pun. Hilangnya kesempatan yang tepat seperti ini tidak akan memberikan ketentraman dan kesenangan apa pun bagi pemerintahan Amerika melainkan derita dan penyesalan.

Wassalaam

Imarah Islam Afghanistan


Dan jika dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan." (Al-Baqarah 2:11)
Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (Al-Baqarah 2:12)


http://www.arrahmah.com/index.php/blog/read/3400/20-tahun-hengkangnya-sovyet-dari-afghanistan

Jumat, 06 Februari 2009

Kisah Semangat Jihad Anak-anak Pada Zaman Rasulullah SAW

Kisah Semangat Jihad Anak-anak Pada Zaman Rasulullah SAW
Percakapan dan perbualan para sahabat Rasulullah (saw) mengenai jihad sedemikian rupa, sehingga hal itu sangat berpengaruh kepada cita2 dan semangat juang anak2 mereka. Jika hari ini anak2 kita berbincang hal2 kosong tentang tokoh2 fiktif yang tidak ada kaitannya dengan aqidah mereka, maka perbincangnan diantara anak2 para sahabat adalah keberanian dan tanggung jawab orangtua2 mereka dalam meninggikan kalimah Allah (swt).

Sedemikian rupa keadaan mereka, sehingga setiap dari mereka ingin segera terlibat bersama orang2 dewasa dalam memperjuangkan agama mereka. Meskipun mereka belum lagi mencapai usia baligh, akan tetapi sepak terjang mereka yang heroik telah menjadi kisah2 abadi yang menjadi teladan bagi orang2 di belakang hari. Bukan saja terhadap anak2 kita, akan tetapi juga menjadi teladan bagi orang2 dewasa, bagaimana seharusnya kita bersikap dalam memperjuangkan agama ini.

Sedemikian rupa keadaannya, maka hampir menjadi kebiasaan Rasulullah (saw) untuk meminta kepada mereka yang siap keluar jihad, untuk berparade dalam suatu barisan. Hal itu selain sesuai dengan kehendak Allah (swt) [1], juga agar Rasulullah (saw) dapat memastikan bahwa tidak ada anak2 di bawah umur yang turut serta bersama mereka.

Demikian pula halnya pada hari2 menjelang perang Uhud. Nabi (saw) terpaksa meredam semangat jihad anak2 dengan cara mengembalikan mereka ke rumah2 orangtua mereka masing2. Diantara mereka adalah Abdullah bin Umar (ra), Zaid bin Tsabit (ra), Usamah bin Zaid (ra), Zaid bin Arqam (ra), Barra bin Azib (ra), Amr bin Hizam (ra), Usaid bin Zhuhair (ra), Urabah bin Aus (ra), Abu Sa'id al Khudri (ra), Samurah bin Jundub (ra) dan Rafi' bin Khadij (ra).

Tentu saja, anak2 tersebut merasa sangat kecewa. Dan melihat kekecewaan anaknya, maka Khadij (ra) berusaha untuk membela anaknya agar dia tetap dapat pergi ke medan perang. Khadij (ra) berkata, "Rafi' anak saya ini pandai memanah." Dan seiring dengan pembelaan ayahnya tersebut, dengan semangat baja, Rafi' menjijitkan kakinya agar terlihat lebih tinggi. Dan selanjutnya Rasulullah (saw) mengizinkan Rafi' bin Khadij (ra) ikut berperang.

Melihat keberhasilan Rafi' (ra), maka Samurah bin Jundub (ra) merayu ayah tirinya, Murrah bin Sinan (ra), "Ayah, Rafi' diperbolehkan ikut berperang, sedangkan saya tidak, padahal saya lebih kuat daripadanya. Jika adu tanding, pasti saya dapat mengalahkannya."

Rasulullah (saw) memperkenankan usulannya, sehingga keduanya ditandingkan di hadapan beliau. Ternyata Samurah bin Jundub (ra) dapat mengalahkan Rafi' bin Khadij (ra). Kemudian Samurah diizinkan beliau untuk ikut berperang.

Pertandingan itu benar2 membangkitkan semangat anak2 yang lain, sehingga banyak diantara mereka yang kembali mengajukan permohonan kepada Nabi (saw) agar mereka diijinkan untuk ikut berperang. Bagaimanapun akhirnya Nabi (saw) hanya membenarkan beberapa anak saja yang dapat menyertai peperangan ini. Subhanallah.


Catatan kaki:
[1] "Sesungguhnya Allah menyukai orang2 yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur se-akan2 mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (Qs ash Shaff 61:4).

Disarikan dari Subhan Ibn Abdullah, Pattaya, 15/04/2005


sumber :kebun hikmah

-------------

subhanalloh.. ^^
merasa tertinggal jauuuhhhh

Rabu, 21 Januari 2009

Hamas, Brigade Izuddin Al Qassam & Seruan Jihad Yang (Seharusnya) Tidak Pernah Padam

Internation Jihad Analysis - Sepekan setelah peristiwa penabrakan sekelompok pekerja Muslim oleh tentara Israel di Al Maqthuroh, Palestina, Intifadhah dimulai. Peristiwa 8 Desember 1987 tersebut oleh HAMAS (Harokah Muqowwamah Islamiyah) atau Gerakan Perlawanan Islam Palestina dijadikan momentum dimulainya perjuangan suci membebaskan tanah Palestina, tanahnya orang-orang Muslim dari cengkraman zionis Israel, dengan jihad sebagai satu-satunya jalan pembebasan!

Munculnya HAMAS merupakan kulminasi perjuangan panjang kaum Muslimin Palestina dan dilatarbelakangi beberapa hal penting, seperti macetnya langkah-langkah penyelesaian yang ditempuh negara-negara Arab dan PLO. Usaha-usaha perdamaian yang diprakarsai oleh Dewan Keamanan PBB hanya mengeluarkan resolusi-resolusi yang tidak pernah mau dipatuhi Israel. Kondisi PLO sendiri semakin melemah karena konflik internal dan juga karena tekanan dan pengkhianatan negara-negara Arab moderat membuat PLO akhirnya menerima usulan Amerika mengakui negara zionis Israel. Hancurnya kekuatan PLO ini semakin membuat Israel lupa daratan dan mabuk kemenangan.

Di sisi lain, tokoh-tokoh Muslim Palestina dibebaskan dari penjara dan kamp-kamp penyiksaan, termasuk ulama kharismatik Palestina, Syekh Ahmad Yassin yang kemudian menjadi inspirator dan pemimpin spiritual HAMAS.

Izzudien Al Qassam Brigade
Mujahidien Brigade Izzudien Al Qassam

Brigade Izuddin Al Qossam adalah sayap militer HAMAS dalam merealisasikan jihad atas kaum yahudi. Nama Izuddin Al Qassam diambil dari nama salah seorang anggota HAMAS yang syahid pada tanggal 25 November 1935, setelah terjadi pertempuran hebat melawan pasukan kafir Inggris di Junain.

Brigade Izuddin Al Qassam tampil sebagai kekuatan militer yang sangat ditakuti Israel. Beberapa operasi militer yang sangat spektakuler telah dilakukan brigade ini dan berhasil membuat tentara Israel menderita kerugian yang cukup banyak. Kehadiran mereka secara perlahan namun pasti telah menciptakan kondisi keamanan tertentu yang nampaknya tidak dapat dikontrol lagi oleh pasukan zionis Israel, terutama di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Brigade Izuddin Al Qassam memulai operasi mereka dengan menghancurkan patroli Israel di perkampungan Al Syujaiyah dan membunuh tiga prajurit Israel. Dengan pekik takbir yang membahana, mereka mengumumkan pertanggung jawaban atas penyerangan tersebut. Israel pun segera memberlakukan larangan ke luar rumah dan melakukan pemeriksaan dari rumah ke rumah dan memantau situasi dengan helikopter.

Dua hari kemudian, Brigade Izuddin Al Qassam kembali menyatakan diri bertanggung jawab atas penembakan sebuah mobil patroli Israel di kota Al Khalil yang menewaskan seorang prajurit kafir Israel.

Saat itu, liputan media massa belum menyentuh Brigade Izuddin Al Qassam, sehingga mereka dan HAMAS belum cukup dikenal luas. Namun, setelah Brigade Izuddin Al Qassam berhasil menculik dan menawan seorang komandan militer Israel di kota Al Lad, dunia pun gempar. Komandan tersebut dijadikan tebusan yang hanya bisa ditukar dengan pembebasan pemimpin mereka, Syekh Ahmad Yasin. Peristiwa tersebut menjadikan nama Brigade Izuddin Al Qassam menjadi buah bibir dikarenakan dalam waktu yang singkat berhasil mempelopori berbagai aksi militer yang spektakuler.

Brigade Izuddin Al Qassam mulai tampil ke permukaan secara terang-terangan pada 1 Januari 1992 ketika mereka berhasil membunuh ketua pengaman perumahan Israel. Peristiwa tersebut bersamaan dengan perayaan ulang tahun PLO sehingga sempat mengecoh berbagai kalangan dengan asumsi yang melakukan aksi tersebut adalah PLO. Tetapi setelah Israel menangkap para pelaku aksi tersebut, saat itu pula Brigade Izuddin Al Qassam mengumumkan kehadirannya secara luas.

Selain dikenal dengan aksi-aksi militer yang spektakuler, Brigade Izuddin Al Qassam telah menyumbangkan beberapa pejuangnya dalam aksi istisyhad (aksi syahid), seperti : Ghosan Abu Nada (dari Jabaliyah), Mohammad Abu Naqiroh (dari Rafah), Thoriq Duhkhan dan Yasir Al Hasanat (dari An Nur Syirot), Mohammad Jundul (dari Al Maghozi), dan lain-lain.

Kini, mata dunia kembali tertuju kepada HAMAS, terutama Brigade Izuddin Al Qassam. Sejak gempuran membabi buta zionis Israel, Sabtu, 27 Desember 2008, ke wilayah Gaza, HAMAS melalui Brigade Izuddin Al Qassam tetap bertahan dan melancarkan serangan balik dengan roket-roket yang mereka buat sendiri.

Secara perhitungan akal, kekuatan dua pasukan yang bertempur itu sangat tidak seimbang. Bagaikan Daud melawan Goliath. Angkatan bersenjata Israel, IDF (Israel Defence Forces) memiliki kekuatan 176 ribu infanteri bersenjata lengkap, 286 helikopter serbu, 875 jet tempur berkecepatan supersonik, 2800 tank, dan 1.800 senjata artileri seperti meriam, rudal, peluncur roket yang semuanya siap ditembakkan.

Sementara itu, HAMAS hanya berkekuatan 20.000 mujahid, tanpa pesawat tempur, jet atau helikopter patroli satu pun. Hanya saja, mereka memiliki Allah SWT yang selalu bersama mereka, dan semangat jihad yang menyala-nyala. Hebatnya lagi, dengan pertolongan Allah, mereka mampu membuat roket sendiri yang diberi nama Battar, dan peluru Al Bana, dan Al Yasin yang menjadi senjata paling ampuh dan terkenal melibas zionis yahudi.

Dalam video yang dikeluarkan oleh Ar Rahmah Media berjudul HAMAS The Brigade of Izuddin Al Qassam, dijelaskan visi misi Brigade Izuddin Al Qassam dan ditunjukkan bagaimana mereka berlatih, mempersiapkan serangan dan pukulan mematikan kepada zionis Israel.

Pimpinan Politik HAMAS, Ismail Haniya, dalam video tersebut mengatakan :

“Perlawanan yang dipimpin oleh HAMAS sayap militer Brigade Syahid Izuddin Al Qassam, Intifadhoh Aqso yang mulia membentuk perlawanan dengan Yahudi, pertama karena perlawanan adalah pilihan rakyat Palestina, setelah lebih tujuh tahun perdamaian mandul, yang mana rakyat Palestina melalui ini semua, ditambah kesanggupan orang-orang dan tim pelatih untuk memperbaiki alat-alat untuk perlawanan. Gaza memiliki orang-orang yang punya keinginan yang lebih panas bagai bara api. Sudah menjadi kewajiban bagi HAMAS dan Brigade Izuddin Al Qassam untuk menunjukkan kepada musuh zionis yang biadab apa yang bisa mereka lakukan.”

Perjuangan Panjang HAMAS dan Jihad Palestina

HAMAS dibangun pertama kali oleh ulama kharismatik Syekh Ahmad Yassin, ulama kelahiran tahun 1939 di Al Joura, 20 km utara Gaza, dan kemudian tinggal di sebuah flat di kota Gaza sejak awal tahun 1970-an. Saat itu, banyak pemimpin Islam di Palestina maupun tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin di berbagai negara Arab yang dibebaskan dari penjara dan kamp-kamp penyiksaan, termasuk Syekh Ahmad Yasin. Saat usia beliau masih 10 tahun, beliau dan keluarganya telah dipaksa menjadi pengungsi oleh agresor Israel pada tahun 1948. Saat masih remaja Syekh Ahmad Yassin mengalami kecelakaan saat ia berolah raga. Setelah kejadian tersebut, ia menjalani hidupnya di atas kursi roda. Di atas kursi roda itulah seruan intifadhah beliau serukan dan di atas kursi roda itu pulalah tiga rudal zionis Israel menghantarkan beliau syahid.

Beliau tampil membina dan membimbing umat yang saat itu sudah rusak dan hampir putus asa, dibantu oleh Fathi Yakan, Syekh Ahmad Qathan, dan lainnya. Mereka membangkitkan kembali ruhul Islam dan ruhul Jihad kaum Muslimin Palestina sehingga memunculkan momentum intifadhah yang sekaligus memunculkan HAMAS untuk komitmen berjuang membebaskan tanah Palestina, tanahnya orang-orang Muslim dari agresor zionis yahudi.

HAMAS tidak menganggap intifadhah sebagai akhir dari perjuangan mereka, tetapi sebagai mata rantai dari perjuangan panjangnya. Gerakan Perlawan Islam tidak menghendaki pengorbanan habis-habisan melalui perang dengan batu, melainkan sebuah upaya membebaskan tanah Palestina secara menyeluruh melalui peperangan yang melibatkan seluruh putra Palestina juga seluruh kaum Muslimin di dunia.

Komitmen dan perjuangan nyata HAMAS berhasil merebut simpati umat Palestina, khususnya di Gaza dan Tepi Barat. HAMAS yang juga memiliki sayap politik dan sosial selain sayap militer semakin dikenal dan disukai masyarakat Palestina secar luas. Pada saat itulah ujian dan cobaan menerpa HAMAS. Perjuangan suci untuk membebaskan tanah Palestina dengan satu-satunya jalan, yakni jihad mulai dikotori dengan sistem pemilu demokrasi ala Barat yang nampak indah dan memukau.

HAMAS akhirnya terjebak untuk ikut sistem pemilu demokrasi kufur, yakni pada pemilihan parlemen pada tahun 2006. HAMAS, terutama sayap politiknya semakin terpedaya dan terpukan dengan kemenangan yang mereka peroleh, mendapatkan 76 dari 132 kursi yang diperebutkan. Kemenangan HAMAS dalam demokrasi kufur terebut sudah barang tentu tidak diakui Israel. Selain itu, kemenangan HAMAS menjadi pemicu kecemburuan faksi Fatah yang sedari dulu menempuh jalan kompromi dan damai dengan Israel. Pertikaian antara HAMAS dan Fatah pun tidak bisa dihindari

Pimpinan HAMAS, Khaled Mashal, dalam sebuah wawancara dengan Koran Rusia, Nezavisimaya Gazeta, pada tanggal 13 Februari 2006 menyatakan kemungkinan HAMAS untuk hidup berdampingan dengan Israel dengan beberapa syarat. Syarat itu antara lain pengakuan batas wilayah 1949, penarikan Israel dari semua wilayah Palestina yang diduduki termasuk Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Selain itu Israel juga harus mengakui hak-hak warga Palestina, termasuk hak untuk kembali ke tanah airnya.

Sikap melunak HAMAS ini tentu saja sangat disesali sebagian besar kaum Muslimin yang telah menyadari bahwa kaum zionis yahudi Israel tidaklah mengenal bahasa damai dan taat terhadap perjanjian yang dibuat. Organisasi jihad global Al Qaida, melalui Syekh Aiman Az Zawahiri saja sampai mengeluarkan sebuah statemen yang cukup keras kepada HAMAS sebagai sebuah nasihat agar tidak mengambil jalan dami, jalan parlemen, dan hanya menggunakan jalan suci jihad fie sabilillah untuk membebaskan tanah Palestina.

Dampak pilihan HAMAS mulai terjadi. Pasca terbentuknya kabinet HAMAS melalui sistem kufur pemilu demokrasi, pada tanggal 20 Maret 2006, HAMAS bentrok dengan Fatah di jalur Gaza. Bentrokan yang sangat memilukan tersebut akhirnya bisa diakhiri pada 27 Juni 2006. Namun kesepakatan tersebut tidak berarti karena sejak 9 Juni 2006 Israel memulai penyerangan kepada HAMAS di Gaza.

HAMAS berhasil menangkap seorang tentara Israel Gilad Shalit. Israel membalas dengan menangkap 64 pejabat HAMAS, termasuk anggota kabinet dan legislatif. Penangkapan politisi HAMAS ini memberi peluang Fatah untuk mengambil kesempatan yang akhirnya menimbulkan konflik susulan antara HAMAS dan Fatah dan diakhiri dengan dibagi duanya wilayah Palestina dimana HAMAS menguasai Gaza dan Fatah menduduki Tepi Barat.

Pada tanggal 18 Juni 2008 tercapai kesepakatan gencetan senjata antara Israel dengan HAMAS selama enam bulan. Kompensasinya adalah HAMAS harus menyerahkan Gilad Shalit untuk ditukarkan dengan 40 tawanan HAMAS oleh Israel.

Belum genap perjanjian gencetan senjata berakhir, Israel menunjukkan watak aslinya sebagai kaum pengkhianat. Pada 4 November 2008, Israel menyerang enam pejuang HAMAS dalam sebuah patroli militer di Gaza. HAMAS pun membalas serangan tersebut dengan menembakkan roket-roketnya ke wilayah Israel. Israel tidak terima wilayahnya diserang dan melalui Perdana Menterinya, Ehud Barak, dilancarkanlah serangan bumi hangus dengan sandi “Operation Cast Lead” pada tanggal 27 Desember 2008 hingga detik ini.

Ribuan kaum Muslimin Palestina menemui syahid dan ribuan lainnya mengalami luka-luka. Wilayah Gaza kembali menjadi saksi bahwa Israel hanya mengenal bahasa perang. HAMAS kembali diuji komitmennya untuk berjihad mempertahankan dan membebaskan tanah Palestina. Tanahnya kaum Muslimin.

Nasehat & Semangat Jihad Untuk Hamas

Sesungguhnya perlawanan kaum Muslimin dan jihad Palestina tidak pernah lepas dari pengamatan seluruh kaum Muslimin di dunia, khususnya Mujahidin. Derita yang dialami Gaza saat ini pun menjadi fokus mereka, sebagaimana hari-hari sebelumnya. Banyak nasehat bahkan kritik keras disampaikan kaum Muslimin khususnya Mujahidin kepada HAMAS agar tetap melancarkan jihad malawan agresor Israel dan mengenyahkan sistem kufur demokrasi.

Melalui Departemen Media At Tauawi yang difasilitasi oleh Front Media Islam Global, Tandzim Al Qaeda, melalui tokoh utamanya yang selalu aktif di forum-forum jihad on line berbahasa Arab, Asad Al Jihad, mengeluarkan sebuah pesan berjudul “Wahai Rakyat Palestina, Siapakah Lawan dan Kawan Kalian !” Dalam pesan tertanggal 27 Desember 2008, saat dimana Israel baru saja melancarkan serangan kepada kaum Muslimin Palestina itu, Asad Al Jihad menegaskan sikapnya, yakni bersama Mujahidin Palestina.

“Sesungguhnya saya menegaskan sikapku tentang peperangan ini adalah bahwa saya bersama Ahli Tauhid di Gaza pada umumnya, dan bersama para mujahid Hamas, Jaish Al Islam dan Jaisy Al Ummah serta sebagian jamaah jihad lainnya, untuk saling bersatu dan membantu penduduk Gaza.”

Dalam pesan tersebut juga disampaikan perkataan pimpinan Al Qaeda, Syekh Usamah bin Ladin untuk membantu kaum Muslimin di Palestina.

“Demi Allah, sungguh kami akan menolong kalian walaupun harus merangkak…. Atau kami akan merasakan sebagaimana apa yang dirasakan oleh Hamzah bin Abdul Mutholib”.

Abu Mush’ab Abdul Wadud, Amir Tandhim Al Qaeda Biladul Maghrib Al Islamy, mengeluarkan rilis sebagai peryataan resmi tandzim jihad mereka atas serangan brutal agresor Israel kepada kaum Muslimin Palestina. Rilis tertanggal 30 Desember 2008 tersebut disebarkan di situs dan forum-forum jihad dan berintikan keinginan kuat mereka untuk membantu jihad di Palestina.

“Wahai saudara kami di Gaza. Allah tahu sekiranya bukan karena pembatas-pembatas yang dibuat oleh orang-orang kafir dan sekiranya bukan karena para penguasa murtad yang berusaha membunuh kalian sungguh akan kami datangi kalian, akan kami bela kalian meskipun dengan merangkak, akan tetapi apalah kuasa kami sementara para pengkhianat yang mencekik leher umat berusaha menghalangi kami untuk sampai kepada kalian. Kami bermohon kepada Allah agar memberikan kekuatan kepada kami untuk menolong kalian dengan apa yang kami miliki dan tidaklah sulit bagi Allah untuk melakukannya.”

Mereka juga mengancam dan menuntut balas kepada agresor yahudi Israel akan tumpahnya darah kaum Muslimin di Gaza, Palestina.

“Adapun kalian wahai para yahudi! Bergembiralah kalian dengan berbagai hal yang menghatui kalian karena para mujahidin, pelindung dien, tanah dan kehormatan, dengan izin Allah akan menuntut balas atas kematian mereka di Gaza meskipun berselang masa.”

Tidak ketinggalan, Hakimul Ummat, orang kedua Al Qaeda, Syekh Aiman Az Zawahiri ikut menyemangati kaum Muslimin dimana pun untuk berjihad, menyerang kepentingan Israel, Amerika, dan sekutu-sekutunya dimanapun mereka berada.

“Maka dari itu, marilah kita serang instalasi-instalasi mereka di mana saja, sebagaimana mereka berkumpul untuk menyerang kita dari mana saja. Dan hendaklah mereka ketahui bahwa setiap dolar yang mereka keluarkan untuk membunuh umat Islam maka kelak akan terbalas dengan darah, dan setiap peluru yang mereka tembakkan kepada kita akan dibalas dengan ledakan seperti letusan gunung berapi, dan bahwa mereka tidak akan dapat menghina dan memcaci Nabi kita shallallahu ’alaihi wasallam.”

Sebelumnya, Syekh Aiman memang secara keras mengkritik dan menasehati HAMAS agar tidak tersesat bujuk rayu demokrasi dan menyingkirkan jihad. Nasehat ini tentu saja sebagai tanda kecintaan beliau kepada HAMAS dan perjuangan jihad Palestina. Syekh Aiman mensifati HAMAS sebagai saudara yang jika diperlukan harus dinasehati dan jika salah harus ditegur. Bukankah tangan kanan dan tangan kiri saling bekerja sama untuk menghilangkan kotoran. Dengan demikian, Syekh Aiman dan Mujahidin yang bersama beliau merupakan tangan yang lain bagi saudaranya yang berada di HAMAS.

Amirul Mukminin Daulah Islamiyah Iraq, Syekh Abu Umar Al Baghdady pernah menyerukan kepada Brigade Izuddin Al Qassam untuk memisahkan diri dari HAMAS karena masih terus berjalan di atas jalan yang sesat sampai hari ini, yakni mengikuti pemilu demokrasi yang sesat, dan tidak mempedulikan nasehat yang telah diberikan oleh saudara-saudara mereka yang lebih berpengalaman.

Bahkan dalam rilis terbaru mereka yang dikeluarkan khusus menanggapi masalah serangan Gaza dengan judul “Solusi Terhadap Palestina”, Syekh Abu Umar Al Baghdady kembali berpesan kepada Brigade Izuddin Al Qassam agar memisahkan diri dari HAMAS.

“Anggota Brigade al-Qassam yang ikhlas harus mengumumkan pemisahan mereka dari gerakan HAMAS, dan mengumumkan keterpisahan mereka dari kepemiminan politiknya yang telah rusak dan menyimpang.”

Beliau melanjutkan :

“Kami tahu bahwa banyak pemuda-pemuda di dalam tubuh al-Qassam, dan juga beberapa tokoh dan pemimpinnya, mereka merasa sesak melihat penyimpangan yang dilakukan oleh para pemimpin politik mereka. Andaikata tidak kami temukan penyimpangan yang sangat jauh dari syari’ah rabbul ‘alamin (aturan Tuhan pencipta alam) niscaya kami tidak menyerukan kepada para pemuda al-Qassam yang ikhlas untuk membangkang terhadap pemimpin politik mereka.”

Kesungguhan dan kecintaan Amirul Mukminin Negeri Dua Sungai (Iraq) ini tercermin dari doa dan harapan beliau untuk dapat membebaskan tanah Palestina, tanahnya kaum Muslimin.

“Adapun tentang peranan Negara Islam di bumi dua sungai untuk membebaskan Palestina, maka kami berharap kepada Allah, dan juga memohon kepadaNya agar bisa seperti negara yang dipimpin oleh Nuruddin asy-Syahid. Negara itu merupakan batu loncatan untuk mengembalikan al-Aqsha kepada pangkuan ummat Islam. Kemudian muridnya, Shalahuddin sang Penakluk berhasil memasuki Palestina di dalam perang Hitthin, sebagaimana al-Faruq Umar bin Khaththab berhasil melakukan hal itu. Maka sesungguhnya kami pun berdo’a kepada Allah, dan bercita-cita untuk menjadikan Negara Islam Iraq sebagai batu loncatan untuk mengembalikan Palestina ke pangkuan ummat Islam.”

Dari bumi jihad Afghanistan, Mujahidin Taliban, di bawah komando Amirul Mukminin Imarah Islam Afghanistan, Mullah Muhammad Umar, tidak lupa menyemangati seluruh kaum Muslimin untuk bersatu berjihad melawan Israel.

“Kami harap umat Islam bisa mengesampingkan semua halangan yang ada selama ini. Kita semua wajib berjihad dan membantu saudara kita di Palestina, Iraq dan Afghanistan.”

Terakhir dan yang paling ditunggu-tunggu, baik oleh kawan maupun lawan adalah statemen resmi dari pimpinan Al Qaeda, Singa Islam, Syekh Usamah bin Ladin. Pesan jihad yang paling ditunggu itu pun akhirnya keluar dalam sebuah pesan audio berdurasi 22 menit yang dirilis oleh sayap media Al Qaeda, As Sahab Media.

Dalam pesan tersebut Syekh Usamah menyampaikan pesan jihad kepada seluruh kaum Muslimin untuk menghentikan agresi Israel ke Gaza.

“Maka yang wajib adalah tahridh (menyemangati) terhadap jihad yang hukumnya sudah fardhu ain, mendaftar para pemuda untuk bergabung dalam pasukan-pasukan jihad fi sabilillah, melawan aliansi zionis salibis dan antek-anteknya di Kawasan. Bukan menyalurkan energi para pemuda dengan turun ke jalan-jalan untuk melakukan demonstrasi-demonstrasi tanpa senjata.

Syekh Usamah dalam risalahnya tersebut mengomentari pelbagai cara dan tuntutan yang dilakukan oleh sebagian besar kaum Muslimin dan sebagiannya adalah menyimpang, lalu memberikan solusi yang benar sesuai syari’at Islam.

“Meskipun terdapat banyak jalan menyimpang, namun di sana ada satu jalan lurus untuk merebut kembali Al-Aqsha dan Palestina, yaitu jihad fi sabilillah, seperti yang telah kami singgung tadi.”

Beliau juga menyinggung mereka yang mencukupkan diri dengan hanya membebankan tanggung jawab masalah Palestina hanya kepada penguasa dan ulama.

“Mencukupkan diri membebankan tanggung jawab kepada penguasa dan ulama, setelah itu berpangku tangan dari jihad, tidaklah membebaskan kalian dari tanggung jawab. Tidak lain itu juga merupakan jalan untuk melarikan diri. Perintah Allah di dalam Al-Quranul Karim untuk berjihad di jalan-Nya sudah jelas, baik berjihad dengan jiwa maupun harta, hingga kebutuhan (jihad) tercukupi.”

Terakhir beliau berpesan kepada kaum Muslimin Palestina.

“Saudara-saudaraku di Palestina…Berkali-kali kalian menanggung kesusahan seperti yang dialami bapak-bapak kalian selama sembilan dekade ini, dan sesungguhnya kaum Muslimin bersimpati terhadap kalian karena apa yang mereka saksikan dan mereka dengar. Sedangkan kami, mujahidin, juga bersimpati kepada kalian. Dan simpati kami lebih besar, karena mujahidin juga mengalami kehidupan sama dengan yang kalian alami. Yang mereka rasakan lebih susah dari apa yang kalian rasakan. Mereka dibombardir sebagaimana kalian dibombardir, dengan pesawat-pesawat yang sama. Mereka kehilangan orang-orang tercintanya sebagaimana kalian kehilangan. Maka segala puji bagi Allah, kita adalah milik Allah dan kepada-Nya saja kita akan kembali.”

Damai Dengan Israel, No Way

Berita terakhir dari Gaza telah terjadi sebuah gencetan senjata sepihak dari Israel. Setelah tiga pekan dengan brutal menyerang dan membumi hanguskan Gaza, kini dengan seenaknya Israel menyerukan gencetan senjata selama seminggu, setelah 1.300 nyawa melayang dan 5.300 lainnya luka-luka. Kekhwatiran dan bahaya besar yang mengancam adalah apabila HAMAS dan gerakan jihad disingkirkan untuk kemudian digantikan dengan negoisasi dan perjanjian damai dengan zionis Israel.

Arrahmah.com memberitakan (18/1), setelah Israel mengumumkan gencatan senjata sepihak, sejumlah faksi pejuang Palestina antara lain Hamas, Jihad Islam dan Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLP) menggelar pertemuan di Damaskus dan hasilnya, mereka menyatakan gencatan senjata selama satu minggu dengan syarat selama sepekan itu Israel sudah harus menarik seluruh pasukannya dari Jalur Gaza.

Musa Abu Marzuk, pimpinan biro politik HAMAS di Damaskus, Suriah, pada hari ahad, 18 Januari mengatakan :

"Kami yang tergabung dalam gerakan perlawanan Palestina mengumumkan gencatan senjata di Jalur Gaza dan menuntut pasukan musuh mundur dalam jangka waktu satu minggu serta membuka semua perbatasan agar bantuan kemanusiaan dan kebutuhan dasar bisa masuk."

Sementara itu di Mesir, diadakan pertemuan gabungan antara sejumlah pimpinan negara Arab dan Eropa, diantaranya dari Mesir, Inggris, Perancis, Jerman, Italia, Spanyol, Turki, dan Yordania. Pertemuan ini juga dihadiri pimpinan Liga Arab, Amr Musa, Sekjen PBB, Ban Ki Moon, dan Presiden Palestina, Mahmud Abbas. Tentu saja pertemuan ini hanyalah sekedar basa basi dan sebuah konspirasi untuk melemahkan perlawanan jihad kaum Muslimin Palestina. Untuk itu, seharusnya tidak ada kata damai dengan Israel, hingga zionis yahudi agresor itu keluar seluruhnya dari bumi suci Palestina.

Menurut Syekh Umar Bakri Muhammad dalam bukunya, Tidak Ada Damai Dengan Israel, menyatakan bahwa dalam ilmu ushul, sebuah kaidah menyatakan bahwa “Tidak ada ijtihad dalam hal perdamaian”. Hal ini dikarenakan ayat-ayat Al Qur`an yang membahasnya telah jelas. Terhadap orang-orang kafir yang menduduki tanah kaum muslimin, Islam telah memutuskan, Allah SWT memerintahkan kita secara jelas dan meyakinkan dalam Al- Qur`an bahwa:

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah melampaui batas karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS 2:190).

Nabi Muhammad SAW. bersabda:

“Siapapun yang mati mempertahankan tanahnya maka dia mati syahid.”

Allah SWT. berfirman:

“...Barangsiapa yang menyerangmu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.” (QS. 2:194).

Dalam buku tersebut, ulama yang kini mukim di Libanon itu menjelaskan bahwa gencatan senjata dengan orang kafir yang menduduki tanah kaum muslimin, hanya bisa terjadi jika memenuhi 4 kondisi, yaitu :

1. Pembuat perjanjian atas nama seluruh umat muslim adalah khalifah atau amirul mukminin yang sah, atau wakilnya yang ditunjuk, karena dalam hadits Nabi SAW.,

“Setiap orang dari kamu adalah peminmpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya.”

2. Isi perjanjian harus didasarkan pada Islam dan selain itu tidak diperbolehkan, karena Allah SWT. berfirman:

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang kamu perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima sepenuhnya.” (QS. 4:65).

Dan Nabi juga bersabda:

“Syarat-syarat perjanjian yang tidak terdapat dalam Al-Qur`an maka batil.”
(At-tabrani dalam Al-Mujam al-Kabir dan Al-Suyhuti dalam Aljamai’ Al-Saghir Volume 2: hal 9.77).

3. Perjanjian harus dibatasi dalam batas waktu tertentu, karena perjanjian Hudaibiyah dibatasi sampai 10 tahun, dan Allah SWT. berfirman bahwa kaum muslimin harus membuat perjanjian dengan orang-orang kafir dalam waktu 4 bulan.

"Penuhilah janji-janjimu dengan mereka sampai batas yang telah ditentukan, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa. Apabila sudah habis bulan-bulan haram itu, maka bunuhlah mereka dimana saja kamu menjumpainya dan tangkaplah mereka."(QS. 9:4-5).

Setelah Rasulullah SAW. menguasai Mekkah. Beliau memberi batas 4 bulan, tetapi dalam perjanjian Hudaibiyah 10 tahun (menurut Sirah Ibnu Hasyim). Para ulama berkata bahwa ini berarti kaum muslimin mempunyai posisi yang kuat dalam perjanjian dengan orang-orang kafir untuk batas waktu perjanjian 4 bulan dan dalam posisi lemah dalam batas perjanjian 10 tahun.

4. Perjanjian harus melindungi Agama Islam dan Umat Islam, yang dijelaskan oleh syariat. Jika kondisi ini tidak ditemui, maka perjanjian tersebut batil. Oleh karena itu secara jelas diketahui bahwa perdamaian dengan Israel adalah haram dan juga fatwa-fatwa ulama yang mendukung hal tersebut.

Sementara itu, gencetan senjata yang terjadi saat ini jelas tidak memenuhi syarat-syarat Islami yang dengan demikian harus ditolak. Secara sepihak Israel memaksakan gencetan senjata, dan tetap mengancam HAMAS dan kaum Muslimin Palestina. Pihak Israel menyatakan tidak menentukan jadwal penarikan mundur pasukannya dari Jalur Gaza, sampai HAMAS dan faksi pejuang Palestina menghentikan tembakan roket-roketnya.

Juru bicara militer Israel, Avital Leibovich bahkan dengan congkaknya mengatakan akan tetap melanjutkan operasi militer menyerang Gaza. .

"Operasi militer belum berakhir. Ini cuma gencatan senjata,"

Dengan demikian sudah jelas, kaum Muslimin harus menolak damai dengan Israel dan meneruskan jihad fie sabilillah mengusir agresor Israel dari tanah suci Palestina. HAMAS, terutama Brigade Izuddin Al Qassam, dan jama’ah-jama’ah jihad yang lainnya saat ini tengah diuji oleh Allah SWT, apakah mereka akan tetap berpegang teguh kepada tali agama Allah SWT, atau malah terpedaya dengan janji-janji palsu setan melalui perjanjian damai.

Para ulama yang ikhlas dan jujur di seluruh dunia telah memfatwakan haram berdamai dengan yahudi zionis israel. Mereka semua menyatakan bahwa damai dengan para perongrong (zionis yahudi) adalah haram menurut syariat karena itu sama saja dengan mengijinkan para perampas itu tetap melakukan apa yang dilakukannya selama ini, dan berarti melegalkan tindakan mereka; sehingga kaum Muslimin dilarang untuk mengadakan perjanjian damai dengan orang-orang Yahudi karena sama saja mengijinkan mereka menduduki tempat-tempat suci kaum Muslimin.

Oleh karena itu kaum muslimin harus berusaha sekuat tenaga untuk membebaskan tanah tersebut dari Yahudi dengan tangan mereka sendiri, seluruh kaum muslimin harus berpartisipasi dalam melaksanakan kewajiban jihad sampai kita mendapatkannya kembali dari Yahudi, apa yang telah kita miliki. Kita menghimbau kepada seluruh kaum Muslimin untuk berpegang teguh kepada tali agama Allah SWT. dan melakukan apa saja untuk martabat dan kemuliaan kaum muslimin, demikian para ulama telah berfatwa.

Dengan demikian, saat ini adalah waktu yang tepat. Sebuah kesempatan bagi HAMAS, terutama Brigade Izuddin Al Qassam, dan kelompok jihad lainnya untuk membuktikan kepada zionis Israel bahwa kita adalah umat yang kuat dan mencintai jihad. Karena hanya dengan jihad fie sabilillah, masalah Palestina akan diselesaikan secara tuntas dan syar’i. Karena memang sudah seharusnya seruan jihad tidak pernah padam, hingga akhir dari kehidupan ini.

Wallahu’alam bis showab!

sumber: arrahmah.com

Senin, 19 Januari 2009

Mujahidin Kaukakus Utara Sebagian Besar Para Pemuda Yang Berjuang Demi Agama

KAUKAKUS (Arrahmah.com) – Profil dari mereka yang bergabung dengan kelompok pejuang di Kaukakus Utara sebagian besar adalah pemuda dan mereka berasal dari wilayah yang tersebar.

Komposisi kualitas dari militer bawah tanah yang berada di Kaukakus Utara kini meningkat, lebih tinggi dari aktivitas militer di Kaukakus Utara pada tahun 1999-2000 silam. Ini menyiratkan bahwa mereka yang tergabung dengan kelompok-kelompok jihad tidak hanya termotivasi oleh romantisme (pembalasan dendam kematian orang tua, saudara, dll-red), tetapi mereka dengan sadar bergabung untuk menumbangkan kekuasaan penguasa dzolim demi menegakkan syariat Islam (motivasi agama).

Para pengamat sering menyimpulkan bahwa para pemuda tersebut ditarik untuk bergabung karena satu akumulasi permasalahan yang belum terpecahkan di masyarakat. Organisasi-organisasi HAM juga seringkali menyederhanakan permasalahan dengan menyimpulkan, bahwa para pemuda tersebut tergabung untuk membalaskan dendam atas kejahatan-kejahatan yang menimpa keluarga mereka yang terkait dengan penguasa (http://www.livechechnya.org/Archiv/12_09_08.htm). Menurut penafsiran ini, segala sesuatu menjadi sederhana, jika tidak memiliki pekerjaan, maka mereka bergabung, jika pernah berurusan dengan polisi, maka mereka bergabung.

Sesungguhnya, jihad iitu bukanlah sesuatu yang sederhana. Sebelum akhirnya menyatakan diri untuk bergabung, pemuda-pemuda tersebut telah mempersiapkan diri mereka. Baik secara fisik maupun secara ilmu. Mereka, para pemuda banyak belajar melalui internet, di mana mereka mendapatkan informasi-informasi mengenai para mujahidin yang berperang melawan penguasa kafir, ideologi yang dianut kelompok jihad, dan mereka (para pemuda) mempelajari banyak hal sehingga akhirnya mereka siap untuk terjun ke medan jihad.

Satu analisa sederhana yang didapatkan dari mereka yang sering mengunjungi forum-forum jihad (di kaukakus) dapat menghasilkan sebuah profil rata-rata dari suatu doktrin salafi di internet. Mereka berusia sekitar 18-20 tahun, hampir keseluruhannya adalah mahasiswa yang merantau. Mereka boleh jadi seorang siswa di Moscow, atau di Negara-negara Barat atau juga di timur tengah. Apapun, mereka adalah para pemuda yang hanya ingin memulai kehidupan bebas, seseorang yang mudah tertarik hingga dapat menarik kesimpulan dan dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Selanjutnya, dia akan menjadi manusia yang senang mengkritik terhadap apa yang ia lihat, di rumah, atau dimanapun, karena ia telah mendapatkan “sesuatu” dalam pemikirannya.

Walaupun para pemuda adalah representasi mayoritas dari mereka yang bergabung dengan kelompok-kelompok jihad di dalam pegunungan, mereka tetap tidak dengan mudah menjadi inti dari kelompok-kelompok tersebut. Ini semata-mata untuk menjaga kerahasiaan dan ketertiban organisasi.

Kesimpulannya, walaupun para pemuda merupakan unsur utama yang memenuhi jumlah jamaah, di sana juga terdapat para anggota yang terdiri dari kategori usia lainnya. Lebih dari itu, tiap-tiap generasi memiliki dukungan tersendiri untuk sebuah kelompok jihad.
(north caucacus weekly/arrahmah.com)

----------

jangan tertinggal melihat perjuangan mereka.. qta gimana? :)

Laporan Al-Qassam Mengenai Kecelakaan di Kubu Israel

GAZA (Arrahmah.com) - Brigade Izzudin Al-Qassam, menegaskan, pihaknya telah mampu memberikan pukulan keras terhadap musuh Zionis selama perang yang berlangsung 22 hari.

Juru bicara Al-Qossam, Abu Ubaidah dalam konferensi persnya kemarin (19/1) menyebutkan, dalam perang selama 22 hari tersebut, para mujahidnya telah menembak mati 49 serdadu Zionis dan melukai ratusan lainya. Itu belum termasuk korban mati akibat tembakan roket dan tembakan sniper. Dengan demikian diperkirakan jumlah serdadu Zionis yang tewas oleh pasukan Al-Qassam di medan pertempuran, tak kurang dari 80 orang. Jumlah ini belum termasuk korban mati akibat gempuran roket ke wilayah permukiman di sejumlah kota dan distrik Israel. Al-Qassam menantang militer Israel mengumumkan kerugian sebenarnya yang terjadi di medan pertempuran.

Syuhada Al-Qossam

Pada saat bersamaan, Abu Ubaidah mengumumkan jumlah syuhada yang meninggal akibat gempuran roket Israel mencapai 1300 orang. Kebanyakan warga sipil yang terdiri dari anak-anak, wanita dan orang tua. Jumlah ini menunjukan bahwa perang ini tiada lain hanya pembunuhan warga sipil, sebagai realisasi dari Aqidah Talmud mereka.

Ia mengatakan, perlawanan yang belum pernah terjadi dalam sejarah. Padahal Israel telah mempersiapkan ini dalam beberapa bulan sebelumnya. Abu Ubaidah menjelaskan, siapa yang membenarkan perang Israel dan menyebarkan kedustaan bahwa perang ini merupakan serangan balasan atas perlawanan, maka ia telah bersekutu dengan Zionis dan ikut bertanggung jawab dalam perang ini.

Hasil Jihad

Al-Qassam menegaskan, walaupun Israel telah memuntahkan semua roketnya dan membunuh semua yang bergerak di atas bumi ini serta menggunakan ratusan ton bom untuk membunuh bangsa Palestina, namun al-Qassam masih sanggup melancarkan taktik perangnya dalam 23 hari terakhir.

Al-Qoassam telah meluncurkan 980 roket yang terdiri dari 240 roket qassam, 213 roket grad dan 422 roket ringan.

Dari jumlah tersebut, 47 tank Israel rontok dan 4 pesawat tempur mereka jatuh. Satu diantaranya pesawat pengintai tanpa awak.

Tawanan Perang

Juru bicara Al-Qassam ini kemudian menyebutkan, para mujahidnya telah melakukan dua operasi penculikan terhadap serdadu Israel. Pertama dilakukan di sebelah timur Tufah pada hari ketiga serangan dan berhasil menawan sejumlah serdadu Israel. Di sela operasi itu, masuklah pesawat tempur Israel dan menembaki pasukan perlawanan Al-Qassam hingga mujahid Al-qassam, Mahmud Raifi gugur syahid dan terbunuhnya satu serdadu Israel. Sementara yang lainnya dapat meninggalkan tempat dengan selamat, walau beberapa orang terluka.

Adapun operasi kedua, dilakukan pada tanggal 5 Januari di sebelah Timur Jabaliya. Para pejuang al-Qassam mampu menawan satu serdadu Israel dengan pengawalan ketat dan menahannya selama dua hari di salah satu gedung di medan pertempuran. Kemudian pasukan Zionis mengirimkan salah seorang warga sipil yang ditahannya sebagai tameng hidup untuk dijadikan barang tebusan dengan serdadu Zionis. Namun pasukan perlawanan menolaknya. Pasukan Zionis berang dan mengirimkan pesawat tempur F16 mereka untuk membombardir gedung itu. Dalam serangan ini, tiga pejuang perlawanan yang menawan serdadu tadi gugur syahid sementara serdadu Israel mati terbunuh. Ketiga pejuang tersebut masing-masing, Muhammad Farid Abdullah, Muhammad Abdullah Ubaid dan Iyad Hasan Ubaid.

Pasukan Roket Tidak Terpengaruh

Terkait dengan klaim Israel bahwa targetnya di Gaza telah tercapai, Abu Ubaidah mengatakan, target Zionis di Gaza tidak ada satupun yang tercapai kecuali pembantaian dan kejahatan perang mereka.

Kami di Al-Qassam menegaskan, pasukan roket kami dengan izin Allah tidak tersentuh. Kami melesatkan roket-roket ini di saat perang tanpa henti dan kami masih mampu untuk melesatkan roket-roket ini selanjutnya. Kami tegaskan, roket kami terus berkembang dan meningkat kemampuannya. Musuh Zionis akan mendapatkan kerugian baru dan menjadi target serangan kami di masa yang akan datang. Kamipun melesatkan roket ini dengan perencanaan di saat perang. Seperti kami katakan di awal. Israel telah memulai perang. Namun mereka tidak mampu menghentikanya. Kamilah yang menentukanya.

Sejak awal mereka mengatakan, perang akan berlangsung sebentar. Tetapi kemudian mereka menggelar tahap kedua dan ketiga. Kerugian kami akibat perang ini sedikit sekali. Kami sudah memperbaikinya sebelum perang berakhir. Demikian juga dengan klaim Zionis yang mengatakan, telah menawan pasukan perlawanan. Ini adalah pernyataan dusta. Tidak ada satupun anggota perlawanan yang tertawan oleh mereka. Walaupun mereka menawan itupun hanya warga sipil biasa.

Persenjataan Akan Berlanjut

Juru bicara Al-Qassamm, Abu Ubaidah menegaskan, tujuan perang Zionis tertuju pada penghentian penyelundupan senjata melalui perbatasan. Dan ia minta dukungan internasional untuk menghentikanya. Kami katakan, kalau benar, kapankah penyelundupan senjata melalui jalur resmi perlintasan. Apakah mereka mengizinkannya ? tentu tidak. Tetapi yang penting kami tahu bagaiman senjata itu dibuat dan darimana senjata itu masuk Gaza.

Yang perlu kami katakan di sini adalah, senjata perlawanan tidak masuk dengan jalan diselundupkan. Sejak awal kami menginginkan senjata itu masuk secara resmi. Namun semua Negara menolak perlawanan rakyat Palestina. Oleh karena menjadi hak kami untuk memasukannya dengan cara yang kami bisa. Tekanan untuk melarang masuknya senjata bukanlah perkara baru. Sejak dahulu mereka melarang masuknya senjata perlawanan. Tidak ada satupun yang dapat menghalangi kami untuk melawan penjajahan.
(infopalestina/arrahmah.com)

-------------

ALlohuakbar.. tetap semangat.. Pertolongan ALloh sesungguhnya sgt dekat :)

Sabtu, 06 Desember 2008

Untuk Zionis Yahudi, Hanya Ada 1 Kata....JIHAD!

Antum semua tentu ingat dengan dengan peristiwa paling tragis sepanjang sejarah kekejaman Israel, yakni ditembaknya seorang bocah berumur 12 tahun, dengan 4 butir peluru yang merajam tubuh mungil tersebut. Nama lelaki kecil itu adalah Muhammad, dan di sisinya adalah ayahnya sendiri, yang berlindung di belakang tong sampah berusaha melindungi buah hatinya yang ditembaki selama 45 menit oleh kaum terbiadab di dunia. Dia sudah melambai-lambaikan tangannya ke tentara Israel yang menembakinya untuk berhenti, jangan tembak….jangan tembak…teriaknya dengan melambai-lambaikan tangannya. Namun, tentara Israel dengan membabi buta tetap menembak anaknya yang akhirnya tewas di pangkuannya.

Setiap muslim (bahkan siapa pun) yang masih memiliki hati pastilah tergetar bahkan meneteskan air mata melihat tragedi anak manusia paling memilukan ini. Si Bapak berkata saat Muhammad, anak tercintanya meregang nyawa : “Katakan Wahai putraku, ceritakan padaku tentang kemarahan dan kebencianku, akan tetapi wahai anakku janganlah kamu diam, nafasmu berhenti, janganlah kamu bunuh bunga hatiku . Wahai orang-orang yang melantunkan ayat dari Yaman hingga Syam, wahai orang-orang yang sholat dengan khusyu, wahai orang-orang yang memakai ihram, wahai ayah yang menyayangi anaknya, wahai para pemuda Islam, wahai yang merasakan kelezatan dunia, apakah kalian penolong-penolong keselamatanku ? Apakah ini yang namanya perdamaian sedangkan mereka merampas tanah kami? Kami terbunuh dengan tebusan peluru, saya tidak akan lupa dan tidak akan takut, saya tidak akan lupa, senjata kami adalah darah kami, saya berusaha dengan suaraku, minta tolong untuk dikasihani, akan tetapi panggilanku berlalu begitu saja, karena yang mendengarnya punya hati yang mati.

Penderitaan Palestina Penderitaan Seluruh Kaum Muslimin

Wahai Kaum Muslimin, cerita di atas bukanlah khayalan. Ini adalah realitas, dan itu terus terjadi pada ratusan dan ribuan Muslim di Palestina. Tidak ada keraguan jika semua hal tersebut di atas adalah kejahatan yang telah terjadi kepada orang lain– orang-orang kafir khususnya – itu tidak akan pernah ditolerir oleh komunitas internasional. Ini karena mereka: Kaum Muslimin tidak berharga, darah mereka lebih rendah daripada air, mereka tidak mempunyai kebebasan (untuk hidup berdasarkan pada ideologi mereka) dan mereka tidak mempunyai kemuliaan atas kehidupan mereka. Jika mereka berani untuk menyerang balik, melawan atau berteriak untuk melawan apa yang sedang terjadi pada mereka dan menyeru untuk kembali kepada syariat Islam yang benar, maka mereka akan dilabeli sebagai ekstrimis, fundamentalis dan teroris.

Apa yang telah dilakukan Yahudi di Palestina pada hari ini tidak diragukan lagi adalah sebuah penistaan kepada kaum muslimin. Kita terluka menyaksikan semua kejadian tersebut. Namun, apa luka kita akan sama jikalau melihat Muslim di Palestina menyeru untuk kebebasan Negara Palestina, konstitusi Palestina, hukum buatan manusia, demokrasi, kebebasan dan sebagainya. Kita melihat dan menyesalkan apa yang terjadi, seperti Hamas yang menyeru kepada pemimpin (thaghut) Arab – sama dengan orang-orang yang bertanggungjawab untuk melindungi Israel- untuk membantu mereka, disamping menyeru Ummat Muslim untuk berjihad. Mereka tidak mempunyai niat untuk menerapkan syar’ah secara kaafah, dan hanya fokus kepada kemerdekaan Palestina saja, atau negara nasionalis mereka.

Bagaimana kita bisa mengharapkan Allah SWT akan menjawab permohonan kita jika kita meninggalkan jihad, berbalik pada tawaghit (pemerintahan murtad) untuk membantu atau menyeru solusi kufur seperti sebuah Negara Palestina? Nabi Muhammad SAW mengutuk nasionalisme sampai pada tingkat bahwa dia menjauhi dirinya dari orang-orang yang menyeru pada nasionalisme, mati untuknya dan berperang untuknya,

“Dia adalah bukan dari golonganku yang menyeru pada nasionalisme, dan dia bukan dari golonganku yang berperang untuk nasionalisme, dan dia bukan dari golonganku yang mati karena nasionalisme.” (Al Jaami As Sahir dan Sunan Abu Daud)

Rasulullah SAW juga bersumpah untuk kehinaan dan aib bagi orang-orang yang meninggalkan jihad dan menjadi sibuk dengan dunia serta mencari kekayaan:

“Jika kamu melakukan ‘iinah (salah satu jenis riba’), mengikuti buntut sapi, sibuk dengan pertanian dan meninggalkan jihad, Allah akan mengirimkan kepadamu sebuah aib yang Allah akan membuangnya sampai kamu kembali pada dienmu.” (Sunan Abu Daud dan Musnad Imam Ahmad)

Untuk itu, kita harus kembali kepada Allah SWT untuk semua masalah dan penderitaan kita, Allah SWT akan terus menguji orang-orang beriman dengan membiarkan Kuffar mempunyai kekuasan atas kita. Mereka yang menyeru dan berperang untuk Nasionalisme tidak akan dibantu oleh Allah dan usaha mereka akan hampa dari berkah. Setiap Muslim harus menolak segala sesuatu yang tidak Islami, dan ini termasuk hukum buatan manusia, demokrasi, perdamaian dengan penjajah Yahudi dan bahkan sebuah negara nasional yang independen.

Palestina adalah sebuah masalah dari Ummat Muslim, bukan hanya untuk orang-orang Palestina. Ummat Muslim adalah Ummat yang satu dan satu tubuh, dan jika ada satu bagian yang merasakan sakit maka tubuh yang lainpun juga merasakan. Air mata orang-orang Palestina, Iraq dan Afghanistan adalah air mata kita juga, penderitaan mereka adalah penderitaan kita dan kesedihan mereka adalah kesedihan kita.

Jihad : Satu-satunya Solusi

Jika teroris adalah seseorang yang melawan penjajah, menyeru untuk menerapkan Islam dan berperang untuk haknya, maka saksikanlah bahwa kami adalah terorit.

Jika seorang warga negara adalah yang menduduki negeri, secara membabi buta membunuh wanita dan anak-anak, membom rumah sakit, masjid dan berperang untuk thaghut (demokrasi dan kebebasan), maka kami bukanlah warga negara.

Jika perdamaian berarti menerima pendudukan, tetap diam akan kesedihan kaum Muslimin dan tidak memerangi kembali, maka kami tidak mengingikan kedamaian.

Satu-satunya solusi dan mentode wahyu (bersumber dari Al Qur’an dan Al Hadits) untuk membebaskan kaum Muslimin di Palestina adalah jihad. Jihad, dalam syari’ah, artinya adalah berperang, bukan memboikot Coca Cola atau Fanta, dan sejenisnya, dan secara pasti bukan voting atau ikut pemilu kepada hukum buatan manusia, sebagaimana yang difikirkan dan dilakukan oleh banyak munafiqin.

Jika kita menginginkan untuk membuang kehinaaan ini dari kita maka kita harus kembali pada Dien Allah SWT, dan kita harus mencari pertolonganNya semata. Rasulullah SAW bersabda:

“Jika kalian meminta, mintalah kepada Allah (saja). Jika kalian mencari pertolongan, carilah pertolongan dari Allah (saja).”

Lebih lanjut, kita seharusnya tidak pernah mencari pertolongan dari tawaghit, orang-orang murtad, atau Kuffar (seperti PBB), dan kita seharusnya tidak pernah meminta mereka untuk campur tangan dalam masalah kita.

Allah SWT telah memerintahkan jihad bagi orang-orang beriman dengan tujuan untuk (1) Mempertahankan kehidupan, kekayaan seseorang, atau (2) Menaklukan negeri. Pada saat negeri Muslim di bawah pendudukan maka menjadi kewajiban bagi semua Muslim yang berada di sekitarnya untuk berperang. Jika mereka tidak bisa untuk memukul mundur musuh maka kewajiban itu akan menjadi tanggungjawab bagi kaum Muslimin secara keseluruhan (seluruh dunia).

Ibnu ‘Abidin RH, seorang Ulama Hanafi berkata: “Jihad menjadi fardhu ‘ain jika musuh telah menyerang salah satu perbatasan tanah Muslim, dan menjadi fardhu ‘ain bagi orang-orang yang terdekat. Bagi orang-orang yang berada jauh darinya, itu adalah fardhu kifayah, jika bantuan mereka tidak diperlukan. Jika mereka membutuhkan, mungkin karena orang-orang yang dekat tidak bisa menahan musuh atau malas dan tidak berjihad, maka menjadi fardhu ‘ain kepada orang-orang yang berada dibelakang mereka, seperti wajibnya shalat dan puasa…”

Ibnu Abidin tidak membuat perbedaan antara jihad defensif dan shalat atau berpuasa – keduanya adalah fardhu atas setiap Muslim… tetapi mengapa kaum Muslimin saat ini hanya mengambil salah satunya dan meninggalkan yang lainnya?

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah RH berkata: “Tentang Jihad defensif, dimana mengusir agresor, adalah tugas jihad yang paling penting. Sebagaimana telah disepakati oleh setiap orang, adalah sebuah kewajiban untuk melindungi dien dan apa saja yag suci. Kewajiban pertama setelah iman adalah menolak musuh agresor yang menyerang agama dan kepentingan dunia. Tidak ada syarat yang dibutuhkan sebagaimana memberikan dan mengangkut; tetapi dia berperang dengan semua kemampuan yang dia miliki. Ulama, panutan kami dan lainnya telah membicarakan hal ini.”

Maka jihad asalah satu-satunya solusi untuk pendudukan Palestina. Ini penting untuk selalu berdiri pada teks (Al Qur’an dan As Sunnah) dan bukan menyimpang darinya dengan mengikuti kemauan seseorang atau keinginan kuffar. Banyak yang mengakui bahwa jihad adalah fardhu, tetapi mereka tidak ingin masuk dalam perjuangan fisik melawan musuh karena takut dilabeli sebagai teroris atau ekstrimis. Akhirnya, dengan tujuan untuk membuang semua kesalahan dari tidak melaksanakan jihad, mereka mencoba untuk menjual diri mereka kepada orang-orang, diri mereka sendiri, bahwa mereka ambil bagian dalam jihad dengan voting kepada hukum buatan manusia dan memboikot produk-produk Israel. Ini benar-benar suatu kesalahan, karena voting atau mengikuti pemilu pada hukum buatan manusia adalah sebuah tindakan murtad, bukan jihad; dan memboikot produk-produk Israel adalah sebuah balasan tetapi itu bukan solusi untuk masalah pendudukan Palestina.

Ada juga yang mengatakan solusi Palestina adalah Khilafah. Namun, kita seharunya tidak keliru tentang solusi permanen dengan kewajiban yang harus segera dilaksanakan. Khilafah secara tidak diragukan lagi adalah solusi permanen bagi Ummat Muslim, tetapi pada saat kesucian seseorang dinodai maka kewajiban mereka adalah berperang dan mempertahankan diri mereka, dan tidak lagi beralasan dengan belum tegaknya khilafah atau lebih dulu kita menegakkan khilafah.

Sebagai seorang Muslim kita mempunyai sebuah kewajiban untuk menciptakan kesadarang tetang dilema yang dihadapi Muslim dan menyeru pada solusi yang benar, solusi Islami. Pesan jihad harus sampai kepada seluruh Muslim dan setiap Muslim harus ambil bagian dalam masalah ini. Jika kita terus menyeru pada nasionalisme, hukum kufur dan membantu kuffar, pertolongan Allah tidak akan pernah sampai kepada kita. Allah SWT berfirman:

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (QS An Nuur, 24: 55)

Sebagaimana pernyataan ayat di atas, pertolongan ini, kekuasan dan dukungan memerlukan syarat, “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh…” Lebih lanjut, kita seharusnya tidak memutuskan kepada Kuffar atau mencari kehidupan dengan hukum buatan manusia (demokrasi dan kebebasan), karena semua ini adalah syirik. Untuk itu, kita harus kembali kepada solusi Islam untuk membebaskan tanah Palestina dari agresor Zionis Yahudi, yakni jihad fi Sabilillah.

Seruan Kepada Seluruh Kaum Muslimin

Untuk itu kami menyeru kepada seluruh kaum muslimin agar mendukung peningkatan jihad melawan musuh Allah SWT dan Rasul-Nya, Muhammad SAW, dengan menyeru kepada semua kaum muslimin baik individu maupun jama’ah dan organisasi untuk menunjukkan dukungan mereka secara lisan, fisik dan finansial (harta benda) kepada para Mujahid, orang yang berjuang melawan fasisme yang benar-benar ada, yang disebut dengan Israel; sehingga itu bisa dihancurkan. Dengan demikian tanah Palestina, dataran tinggi Golan dan jalur Gaza dapat dibebaskan dan akan menjadi milik kaum muslimin untuk menegakkan syariah Islam.

Kami menyeru kepada umat Rasulullah SAW untuk mengingat bahwa Masjid Al Aqsa berkaitan erat dengan aqidah kita. Masjid tersebut merupakan tempat dimana Allah SWT memberangkatkan Muhammad SAW. pada suatu malam di Mekkah dan dimana Beliau SAW dinaikkan ke surga dan tempat Nabi SAW memimpin semua Nabi termasuk Isa, Musa, dan Ibrahim as dalam aktivitas sholat.

Kami menyeru kepada semua umat muslim untuk mengekspose konspirasi Yahudi dan Nasrani dalam memecah belah umat muslim dan mencuri sumber kekayaan mereka. Kami menyarankan anda untuk mengekspose mereka. Sesungguhnya, realita motivasi/dorongan dari para penjajah (yang menduduki Palestina tidak untuk menyenangkan Tuhan mereka akan tetapi untuk menghancurkan Masjid Al Aqsa dengan harapan menemukan harta benda Nabi Ibrahim as yang telah hilang.

Kami menyeru kepada semua Imam masjid dan komunitas para pemimpin kaum muslimin untuk memotivasi umat muslim dimanapun berada untuk menekankan atas saudara mereka supaya menyerang/melawan dan mengerjakan tugas mereka mempertahankan kesucian Allah SWT, Rasulnya Muhammad SAW dan umat muslim di masa ini. Sesungguhnya, Allah akan menghisab masing-masing diantara kita untuk pertanggungjawabannya.

Kami menyeru kepada para mujahidin untuk tidak putus asa dalam meneruskan aktivitas mulia mereka untuk menyingkirkan kantor Israel dari tubuh umat Nabi Muhammad SAW. Do’a seluruh kaum muslimin bersamamu. Sesungguhnya kamu berada dalam salah satu garis terdepan perjuangan antara yang haq (benar) dan yang bathil (salah), antara Islam dan kufur (non muslim), antara muslim dan kafir.

Kami ingin mengingatkan kepada semua kaum muslimin bahwa Allah telah menjadikan dukungan terhadap jihad merupakan kewajiban atas muslim dimanapun mereka berada. Oleh karena itu, kami mengundang umat muslim untuk melaksanakan pemenuhan kewajiban mereka terhadap Palestina dengan membantu jihad dengan apa pun yang kalian mampu.

Kami menyeru kepada semua umat muslim untuk tetap kuat di masa ini ketika orang-orang kafir berupaya menghentikan semua bentuk jihad dan melakukan aktivitas perlawanan terhadap jihad dengan memberi nama yang buruk terhadap aktivitas jihad serta mengatakan jihad sebagai aktivitas yang tidak sah dipandang dari segi hukum (kafir), mereka memerangi aktifitas jihad dengan julukan “memerangi terorisme”. Kewajiban melaksanakan jihad adalah fardhu ‘ain (tugas individu) untuk saat ini yang menjadi tanggung jawab setiap muslim, sesuai dengan kemampuan mereka, dimanapun mereka berada. Oleh karena itu, mari kita respon seruan dari Allah SWT dan Rasul-Nya Muhammad SAW. Mari kita giring musuh-musuh Allah dan kaum muslimin pergi ke neraka.

Semoga Allah swt ridlo atas apa yang kami serukan kepadamu untuk bekerja sama memenuhi kewajiban ini.

source: arrahmah.com

Dialogue Between Muwaheed and Moderate

Moderat

Apakah Anda mengetahui tentang jihad fi sabilillah ?

Muwahid

Kami tidak akan menjawabnya secara ratio, kami menjawabnya sebagaimana Rasulullah saw. menjawab pada saat para Shahabat bertantang kepadanya,

“Apa hijrah yang terbaik? Beliau saw. menjawab, “Al Jihad Fii sabilillah”, mereka bertanya, “Apa jihad itu yaa Rasulullah?”Beliau saw. menjawab, “memerangi Kuffar jika kamu datang kepada mereka (berperang).” Mereka bertanya, “Apa jihad yang terbaik?” Beliau saw. menjawab “Seseorang yang kudanya terjatuh dan darahnya mengalir.” (Musnad Imam Ahmad)

Dan dalam riwayat yang lain, Shahabah bertanya,

“Manakah (kondisi) terbunuh yang sebaik-baiknya ?” Rasulullah Saw. menjawab, “Seseorang yang darahnya mengalir dan kudanya terbunuh.” (Abu Daud)

Maka tidak ada seorangpun yang bisa mengatakan bahwa sebaik-baik jihad adalah menuntu ilmu dan sebagainya, tetapi sebaik-baik jihad adalah terbunuh. Juga dalam riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw. bersabda,

“Pergilah dan kembalilah ke medan pertempuran karena Allah, itu lebih baik daripada dunia dan seisinya dan sebaik-baik Ghazwa adalah pada saat darahnya mengalir dan kudanya terbunuh.”

Moderat:

Tetapi waktu kita saat ini tidak sama dengan masa lalu, dimana ada Khilafah dan sebagainya, pada saat ini tidak ada jihad dengan pedang, tetapi pada saat ini jihad dengan pena, satelit dan sebagainya, dari ekonomi, voting dan sebagainya… kita harus membangun infrastruktur dari Ummat sebelum kita berperang.

Muwahid

Alasan mengapa kita harus berperang sekarang adalah karena Allah swt. memerintahkan kita,

“Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan (Nya).” (QS An Nisaa’, 4: 84)

Allah menjelaskan bahwa kita hanya harus berusaha dan Allah selanjutnya akan mementukan hasilnya. Menghentikan jihad dan mencegah mujahidin atau mengecilkan hati orang-orang dari berperang adalah sebuah karakter dari Munafiqun. Allah swt. berfirman,

“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka….” (QS Muhammad 47: 4)

Allah tidak mengatakan, pada saat kamu bertemu musuh, “tuntutlah ilmu” atau “bangunlah infrastruktur”, tetapi Dia swt. memerintahkan kita untuk memerangi mereka.

Lebih lanjut, Allah memerintahkan kita untuk menyeru kebaikan dan mencegah kemunkaran. Salah satu dari menyeru kebaikan dan mencegah kemunkaran adalah menyeru orang untuk shalat, puasa, membantu orang yang membutuhkan dan sebagainnya, dan diantaranya yang telah disepakati Ulama adalah,

“Tidak ada yang bisa menyamai jihad fii sabilillah (pada saat itu menjadi fardhu ‘ain)”

Pada saat jihad menjadi fardhu ‘ain, itu bahkan di atas shalat, zakat, haji dan semua ibadah lainnya, pada saat kita berperang dalam jihad defensif, jihad kita adalah shalat kita, kita tidak bisa menghentikan jihad bahkan untuk shalat, jadi bagaimana bisa menghentikan jihad dengan tujuan untuk menuntut ilmu?

Moderat

Kita tidak bisa berjihad; jika mempunyai hutang, bayarlah hutang terlebih dahulu.

Muwahid

Dalam jihad defensif kita tidak perlu membayar hutang terlebih dahulu, Imam Ibnu Qudama Al Maqdisi dalam Al Mughni jilid 9 berkata,

“Jika jihad menjadi Fardhu ‘ain, dia tidak perlu meminta izin dari seseorang yang memberikannya pijaman, itu teks dari Imam Ahmad, dari Ibnu Abbas, “Jika jihad menjadi fardhu, dia tidak perlu meminta izin dari orang yang meminjamkannya.”

Moderat

Laksanakan Shalat dulu.

Muwahid

Shalat adalah kewajiban dan meninggalkannya adalah kufur, tetapi jika jihad menjadi fardhu ‘ain, itu menjadi lebih penting daripada shalat, Imam empat mahzab menyetujui bahwa shalat adalah Fardhu, puasa adalah fardhu, zakat adalah fardhu, tetapi jika jihad menjadi fardhu ‘ain, itu lebih utama dari semua ibadah yang lain tetapi dia seharusnya melakukan sebisa mungkin jika dia bisa melakukannya, Imam Ahmad bahkan berkata,

“Jika musuh datang, kemudian sepanjang dia berperang, dia tidak bertanggungjawab atas semua kewajibannya yang lain sampai musuh berhenti.”

Imam Qurtubi berkata,

“Adalah sebuah kewajiban atas Imam untuk tetap menaklukan musuh setiap tahun…”

Ibnu Katsir berkata,

“Kita harus memerangi kuffar yang paling dekat sampai kita berjalan untuk mendatangi mereka.”

Allah swt. berfirman,

“Wahai orang-orang beriman perangilah orang-orang kafir yang paling dekat denganmu.”

Ini mempunyai implikasi, jika musuh memasuki negeri kita, mereka sangat dekat dengan kita kemudian kita harus memerangi mereka, jika mereka tidak masuk ke negeri muslim tetapi pemerintah mendeklarasikan Kufur Bawah (kekufuran yang nyata), mereka adalah musuh yang paling dekat dengan kita. Kemudian, jika ada Khilafah, musuh yang paling dekat adalah Kuffar yang berada di luar batas negara yang tidak mempunyai perjanjian dengan kita.

Moderat

Mengapa kita berperang?

Muwahid

Karena kita bukan Munafiqun dan seseorang yang tidak berparang adalah Munafiq, Nabi Muhammad saw. bersabda,

“Siapa saja yang mati dalam keadaan tidak berperang dan tidak juga mempunyai niat untuk berperang di jalan Allah dia mati dalam sebuah cabang Nifaq.”

Dan jika kita tidak mengatakan demikian, Allah swt., berfirman,

“Jika kamu tidak berperang Allah akan mengazabmu dengan amat pedih.”

Rasulullah saw. bersabda,

“Seseorang yang tidak berperang tidak juga menyiapkan orang-orang yang berperang, tidak juga memperhatikan keluarga orang-orang yang berperang, Allah akan mengirimkan kepadanya sebuah azab sampai hari pengadilan.”

Moderat

Setalah jihad, apakah yang kamu lakukan sebagai pengganti? Kita membutuhkan enginer (insinyur), dokter dan sebagainya.

Muwahid

Kita tidak mengatakan janganlah pergi berjihad karena kamu tidak mempunyai sebuah jawaban, kita membutuhkan enginer untuk membangun gedung, tapi, itu menjadi tidak penting jika kuffar masih membunuh Muslim, Allah swt. berfirman,

“Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan(Nya).” (QS An Nisaa’, 4: 84)

Allah tidak pernah memerintahkkan kita untuk menteror Kuffar dengan gelar, derajat dan pendidikan, Allah swt. berfirman,

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.” (QS Al Anfal, 8: 60)

Apakah Islam Agama Perdamaian?

“Islam berarti damai!” Islam adalah agama perdamaian”, kata ini sering kita dengar dari Muslim Moderat, yang gencar terdengar mengalahkan operasi-operasi jihad yang dilancarkan Mujahidin. Maka, kami di sini bertanya: Apakah Islam agama yang damai? Tidak sama sekali tidak !. Allah SWT secara tegas menjelaskan kepada kita untuk memerangi Kuffar sampai Islam mendominasi dunia dan Kuffar berhenti menduduki negeri kita serta sampai mereka membayar jizyah.

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari Kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (QS At Taubah, 9: 29)

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuh mu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepada mu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS Al Anfal, 8: 60)

Lebih lanjut, Allah SWT telah membuat berperang menjadi sebuah kewajiban ketika negeri Islam diduduki:

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi mu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi mu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.” (QS Al Baqarah, 2:216)

“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri Ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!". (QS An Nisaa’, 4: 75)

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai 'uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.” (QS An Nisaa, 4:95)

Dan Ulama telah menegaskan:

Ibnu Katsir berkata tentang ayat:

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagi mu, jika kamu Mengetahui.” (QS At Taubah, 41)

“Anas dari Abi Talha meriwayatkan bahwa Ali bin Zaid berkata maksud ayat ini, ‘berangkatlah (berjihad) tua dan muda sebagaimana Allah SWT tidak akan menerima alasan dari siapa pun.’ Kemudian Ali bin Zaid pergi dalam sebuah ekspedisi di Syam (Syiria) dimana dia terbunuh.”

Ibnu Qayyim berkata :

“…telah menjadi kewajiban atas mereka untuk memerangi musyirikin secara keseluruhan. Ketika perbuatan itu awalnya haram, maka telah diizinkan oleh (Allah SWT); selanjutnya telah diwajibkan memerangi mereka yang lebih dahulu memerangi dan terakhir (mereka) diperintahkan untuk memerangi Kuffar secara keseluruhan. Kewajiban terdiri dari dua kategori yaitu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah menurut pendapat ulama yang masyur. Ketika seseorang menyelidiki jenis jihad yang harus diwajibkan atas mereka yaitu dengan hatinya, lidahnya atau dengan kekayaan dan kekuatannya. Telah menjadi sebuah kewajiban atas setiap Muslim untuk berperang dengan cara-cara ini. Berkaitan dengan jihad oleh diri seseorang (fisik) maka ini adalah fardhu ‘ain. Berkaitan dengan jihad dengan kekayaan ada dua pernyataan tentangnya, yang paling benar adalah dimana itu adalah sebuah kewajiban karena perintah Jihad dengan harta dan diri seseorang telah disamakan dalam Al-Qur’an; sebagaimana Allah SWT berfirman, ‘Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan mu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar.’ (QS Ash Shaf, 61: 10-12) [Zaad Al Ma’ad Jilid. 3/ 72]

Ibnu Hajar berkata :

“Jenis Jihad memerangi kuffar adalah Fard Mu’ayyan (menjadi kewajiban setiap individu) atas Muslim; dan mereka bisa melakukan ini dengan tangan, lidah, harta atau bahkan dengan hati mereka.” [Fath al Bari jilid 6/ 28]

Ibnu Atiyyah berkata :

“Ulama telah sepakat bahwa kewajiban jihad atas ummat Muhammad adalah satu tanggung jawab bersama. Konsekuensinya, jika sebagian Muslim melaksanakannya maka kewajiban itu tidak lagi membebani lainnya; ini terus sampai musuh kalah di negeri Muslim. Ketika kondisi pendudukan maka Jihad menjadi sebuah kewajiban atas setiap individu. Al Mahdawi, diantara yang lainnya, telah menjelaskan riwayat bahwa Ath Thawri menyatakan bahwa Jihad adalah kewajiban yang bersifat suka rela.” [Tafsir Ibnu Atiya Jilid 2 / 43]

Allah SWT juga memerintahkan orang-orang beriman untuk menteror musuh-musuh Islam, dan menggentarkan hati mereka (QS Al Anfal, 6: 80) Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).

Kita juga bisa melihat riwayat dari Nabi Muhammad SAW: Ya’qub berkata, ‘telah diriwayatkan, ayahku dari Ibnu Ishaq yang berkata, ‘Dan telah diriwayatkan kepadaku, Yahya bin Urwah bin Az Zubair, dari ayahnya, ‘Urwah bin Abdullah bin Amr Ibnu Al Aws, yang berkata, ‘Aku berkata kepadanya, ‘Apa yang paling sering kamu saksikan dari suku Quraisy yang diserang oleh Rasul Muhammad SAW dan apa yang nyata tentang permusuhannya? Dia berkata, ‘Aku ada bersama dengan mereka dan orang-orang terbaik mereka ketika mereka bertemu pada suatu hari di Hajar Aswad. Kemudian mereka menyebutkan RasuluLlah dan berkata, ‘Kami belum pernah melihat seperti apa yang tersisa dari siapapun dari orang-orang ini. Dia menertawakan kecerdasanmu dan mengutuk ayah-ayah kami serta membuat agama kami terlihat jijik di saat perpecahan kelompok kami juga mengutuk tuhan-tuhan kami. Kami masih tinggal dengannya dalam sebuah masalah besar,’ atau sebagai mana mereka berkata (yaitu apa yang mereka katakan seperti ini).’ Dia berkata, ‘Maka saat mereka seperti itu, Rasulullah SAW datang kepada mereka dan mulai untuk menerima mereka sampai dia berpegang pada pilar. Kemudian dia melewati mereka pada saat tawaf di sekitar Ka’bah, disaat melewati mereka beliau dihina dengan sebagian apa yang dia katakan kemudian aku memperhatikan raut wajahnya. Kemudian dia melanjutkan sampai dia melewati mereka dan mereka mengejeknya dengan seperti itu kemudian aku memperhatikan ekspresi wajahnya. Kemudian dia melewati mereka dan untuk ketiga kalinya mereka menghinanya dengan seperti itu. Kemudian dia berkata, ‘Kamu mau mendengar, wahai kelompok Quraisy? Demi jiwaku yang berada di genggaman-Nya, aku datang untuk memerangi kalian!’ perkataannya menyerang mereka maka sungguh, bukanlah laki-laki diantara mereka, kecuali seolah-olah ada seekor burung yang menyerang kepala mereka ( yaitu terkejut, terteror dan membisu) – sebagaimana seseorang yang paling licik dan kasar serangan Nabi sebelum ini, telah berkata dengan sangat ramah dan tutur lembut dia bisa berfikir; seperti itu bahwa seseorang berkata kepada mereka, “Wahai Abul Qasim (Muhammad): Ayo! Ayo, wahai orang Shaleh! Sungguh, demi Allah kamu tidak bodoh!” Kemudian Rasulullah pergi. Keesokan harinya, mereka berkumpul bersama di Al Hijr dan aku bersama dengan mereka. Mereka bertanya satu sama lain, “Kamu ingat apa yang dia katakana kepadamu, dan apa yang kamu katakan kepadanya? Hingga demikian, dimana dia menyatakan kepadamu yang kau benci, namun kamu membiarkannya pergi!” kemudian ketika mereka berada di tempat ini, Rasul terlihat lagi. Kemudian mereka semua tiba-tiba mengelilinginya, dan bertanya kepadanya, “Apakah kamu orang yang menghina tuhan dan agama kami?” Nabi menjawab, “Ya, akulah yang mengatakan hal itu.” Aku melihat seseorang diantara mereka (mulai untuk) meletakkan pakaian Nabi, tetapi Abu Bakar melompat dan berdiri diantara mereka dan beliau. Sambil menangis Abu Bakar berkata,

“…Apakah kamu akan membunuh orang karena dia mengatakan: “Tuhanku adalah Allah…” [Ghafir, 28]


Setelah itu mereka meninggalkannya. Ini adalah hal yang paling buruk aku lihat dari Qurays melawan Nabi SAW. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad ditetapkan shahih, dan berkata, “Isnaduhu Shahih.” Dia juga menjelaskan bahwa telah diriwayatkan oleh Ibnu Hajar Al Haythami dalam Mujma’ Az Zawa’id (6/15-16), dan telah dirangkum oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Bari (7/128), dan Ibnu Katsir telah menyebutkan bahwa itu telah diriwayatkan oleh Baihaqi dalam At Tarikh (3/46). Ibnu Taimiyah, Siyaasah Syariah, Jilid 1 Hal. 18, mengutip perang Zaatul Salaasilin, di dalamnya Nabi SAW berkata: “Annal dahuuq al Qatal (Aku adalah orang yang tersenyum ketika membunuh). Dahuq adalah seseorang yang tersenyum dan Al Qattal adalah seseorang yang membunuh. Ibnu Taimiyah, Majmuu’a Al Fatawa Jilid 28, dalam tafsir surah Fath ayat 29 mengutip tafsir Dahaaq (Tabi’) dimana Rasulullah SAW berkata: Aku adalah Al Dahuuq al Qattal dan ini adalah untuk shidda (keras) kepada kuffar (sebagaimana pernyataan ayat).

Ibnu Katsir dalam Al Bidayah wal Nihaayah, jilid 3 hal. 199: Ali bin Ibrahim al Hasim ketika Yahudi Banu Qurayza dan Banu Nadhir datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya apa yang kamu serukan? Rasulullah SAW menjawab laailaaha illallah muhammadan rasulullah dan itulah yang telah diturunkan tentangku dalam Taurat dan yang Ulama informasikan tentangku, dimana aku datang dari Mekkah, seseorang yang merdeka, aku akan meninggalkan kesyirikan, khamr, Dimana aku akan menjadi Nabi penutup, aku akan meletakkan pedang ke dalam sarungnya dan dada, aku tidak akan takut kepada siapa pun dan aku akan tersenyum disaat aku membunuh dan dimana ada jejak kaki manusia atau hewan (kehidupan) kekuasaanku akan sampai disana.
Ibnu Taimiyah dalam Majmu’a Fatawa, jilid 28 dalam tafsir surah Fath ayat 29 mengutip tafsir Dahaq (Tabi’) dimana Rasulullah SAW berkata; Aku adalah Al Dahuuq al Qattal dan ini adalah untuk shidda (kasar) kepada kuffar (sebagaimana pernyataan ayat).

Ibnu Rushd berkata “Menteror itu dibolehkan berdasarkan ijma melawan semua kuffar.” [Al Hashiyah ‘Ala Ar Raudh Jilid 4/ 270)

Jadi, apakah Islam agama perdamaian ? Atau agama perang ?

Wallahu’alam bis showab!

 

Site Info

Followers

Tidak Ada Dien Yang Diridhai Allah Selain Islam Copyright © 2010 HN-newby L-F is Designed by ri-cka
In Collaboration with smooTBuuz