Tampilkan postingan dengan label motivation. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivation. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Mei 2009

Apakah Benar Engkau Seorang Pejuang?

Benarkah engkau seorang pejuang? Mengaku diri sebagai pejuang, sebagai jundullah, sebagai aktivis, namun akhlak maupun tsaqafahnya tidak mencerminkan hal itu. Mengaku diri sebagai mujahid, namun niat ternoda oleh selain-Nya. Inilah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sindir di dalam Al Qur’an :


“Apakah kamu mengira kamu akan dibiarkan saja mengatakan ‘kami beriman’ sedang mereka tidak di uji lagi?” (QS. Al Ankaabut: 2-3)

Sang Pejuang Sejati

Masing-masing kita sebaiknya mengevaluasi diri, apakah kita memang sudah benar-benar menjadi pejuang di jalan-Nya atau jangan-jangan, baru sebatas khayalan dan angan-angan kosong belaka. Inginkan syurga, tetapi tidak siap menggadaikan diri, harta dan jiwa.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS. 3:142).

Ya,,, kita mengira akan masuk surga dengan pegorbanan yang sedikit, seakan ingin menyamakan diri dengan hukum ekonomi kapitalis, “Mendapatkan output yang sebesar-besarnya, semaksimal mungkin, dengan input yang seminimal mungkin.”

Aduhai,, sesungguhnya hari akhir itu adalah perkara yang besar. Dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi itu, sangat mahal harganya. Rasulullah SAW bersabda :

“Generasi awal sukses karena zuhud dan teguhnya keyakinan, sedang ummat terakhir hancur karena kikir dan banyak berangan muluk kepada Allah.”

Saat nasyid-nasyid perjuangan dilantunkan, gemuruh di dalam dada menjadi berkobar-kobar untuk berjuang. Tetapi sayang, ternyata hanya tersimpan di dalam dada dan semangat itu ikut surut seiring dengan berakhirnya lantunan nasyid. Tidak keluar dalam amaliyah yang nyata.

Demi Allah, keimanan bukanlah dilihat dari yang paling keras teriakan takbirnya, bukan pula dari yang paling deras air matanya kala muhasabah, dan bukan pula dari yang paling ekspresif menunjukkan kemarahan kala melihat Israel menyerang Palestina. Bukan pula dari yang paling banyak simbol-simbol keagamaannya. Karena itu semua hanya sesaat.

Sesungguhnya keistiqomahan dalam berjuang, itulah indikasi keimanan sang pejuang yang sebenarnya. Pejuang yang sabar menapaki hari-hari dengan mengibarkan panji Illahi Rabbi. Yang selalu bermujahadah mengamalkan Al Qur’an. Teguh pendirian. Tak kenal henti. Hingga terminal akhir, syurga.

Pengorbanan

Apakah dengan memakai sedikit waktu untuk berda’wah, sudah menganggap diri telah melakukan totalitas perjuangan? Padahal para nabi tidaklah menjadikan da’wah ini hanya sekedarnya saja, tetapi sebagaimana dicantumkan dalam Surat Nuh ayat 5 :

“….Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam.”

Pun dalam surat Al Muzzamil,
“Hai orang yang berselimut, bangunlah lalu berilah peringatan, dan Rabbmu agungkanlah.”

Sejak ayat itu turun, sang nabi akhir zaman selalu siaga dalam kehidupan. Bahkan, hingga menjelang ajalnya, Rasulullah tengah menyiapkan peperangan untuk menegakkan Al Haq.

Sang pejuang, tetapi makanannya adalah sebaik-baik makanan, dan pakaiannya adalah sebaik-baik pakaian. Dan dengan tanpa rasa berdosa, asyik menonton sinetron-sinetron cinta dan acara gosip, mendengar lagu-lagu cinta, berghibah, perut kenyang, banyak tidur, dan mengabaikan waktu, lalu berharap mendapatkan syurga? Sangatlah jauh, bagaikan pungguk merindukan rembulan.

Alangkah berbedanya dengan yang dicontohkan Rasulullah saw, Abu Bakar, Umar, Mush’ab bin Umair dan para sahabat yang lainnya. Yang setelah mendapatkan hidayah, mereka justru menjauhi kemewahan hidup. Mereka mampu secara ekonomi, tetapi mereka tidak rela menikmati dunia yang melalaikan.

Seorang pejuang harus memahami jalan mendaki yang akan dilaluinya. Sang Nabi tak pernah tertawa keras apatah lagi terbahak-bahak. Dan hal itu dikarenakan keimanan yang tinggi akan adanya hari akhir, akan adanya syurga dan neraka. Ada amanah da’wah yang besar di pundaknya, lantas bagaimana mungkin seorang pejuang akan banyak bercanda? Imam Hasan Al Banna memasukkan “keseriusan” atau tidak banyak bergurau sebagai bahagian dari 10 wasiatnya. Dan dikisahkan pula bahwa Sholahuddin Al Ayyubi tak pernah tertawa karena Palestina belum terbebaskan.

Keringnya suasana ruhiyah di lingkungan kita, bisa jadi karena di antara kita -saat di luar halaqah- jarang saling bertaushiyah tentang hari akhir. Bahkan sungguh aneh, dapat tertawa dan tidak menyimak ketika Al Qur’an dibacakan di dalam pembukaan ta’lim. Atau saat kaset murottal diputar, mengobrol tak mengindahkan. Yang mengindikasikan bahwa Al Qur’an itu baru sampai di tenggorokan saja.

“Akan tiba suatu masa dalam ummat ketika orang membaca Al Qur’an, namun hanya sebatas tenggorokannya saja (tidak masuk ke dalam hatinya).” (HR. Muslim).

Dimanakah air mata keimanan? Ya Rabbi., ampunilah kelemahan kami dalam menggusung panji-Mu.

Kederisasi generasi sebaiknya tidak melulu tentang pergerakan dan mengabaikan aspek keimanan. Keimanan harus senantiasa dihembuskan dimana saja karena ia adalah motor penggerak yang hakiki. Iman adalah akar.

20 Muwashofat Sang Pejuang

Setidaknya, ada 20 kriteria yang harus dimiliki pejuang, yang disarikan dari Al Qur’an dan hadits, yaitu :

1. Aqidahnya bersih (saliimul ‘aqiidah)
2. Akhlaknya solid (Matiinul khuluqi)
3. Ibadahnya benar (Shohiihul I’baadah)
4. Tubuhnya sehat dan kuat (Qowiyyul jismi)
5. Pikirannya intelek (Mutsaqqoful fikri)
6. Jiwanya bersungguh-sungguh (Mujaahadatun nafsi)
7. Mampu berusaha mencari nafkah (Qaadiirun ‘alal kasbi)
8. Efisien dalam memanfaatkan waktu (Hariisun ‘alal waqti)
9. Bermanfaat bagi orang lain (Naafi’un lighoirihi)
10. Selalu menghindari perkara yang samar-samar (Ba’iidun ‘anisy syubuhat)
11. Senantiasa menjaga dan memelihara lisan (Hifdzul lisaan)
12. Selalu istiqomah dalam kebenaran (istiqoomatun filhaqqi)
13. Senantiasa menundukkan pandangan dan memelihara kehormatan (Gaddhul bashor wahifdul hurumat)
14. Lemah lembut dan suka memaafkan (Latiifun wahubbul ‘afwi)
15. Benar, jujur dan tegas (Al Haq, Al-amanah-wasyja’ah)
16. Selalu yakin dalam tindakan (Mutayaqqinun fil’amal)
17. Rendah hati (Tawadhu’)
18. Berpikir positif dan membangun (Al-fikru wal-bina’)
19. Senantiasa siap menolong (Mutanaashirun lighoirihi)
20. Bersikap keras terhadap orang-orang kafir (Asysyidda’u ‘alal kuffar)

Penutup

Menjadi pejuang, hendaknya bukanlah angan-angan kita belaka. Menjadi pejuang, memiliki kriteria (muwashofat) yang harus di penuhi. Jangan sampai kita terkena hadits ini, “Akan datang suatu masa untuk ummatku ketika tidak lagi tersisa dari Al Qur’an kecuali mushafnya dan tidak tersisa Islam kecuali namanya dan mereka tetap saja menyebut diri mereka dengan nama ini meskipun mereka adalah orang yang terjauh darinya.” (Ibnu Babuya, Tsawab ul-A mal).

Pejuang di jalan-Nya hendaknya bukan dari kacamata kita, tetapi dari kacamata Allah Subhanahu wa Ta’ala. Alangkah ruginya bila kita menganggap diri sebagai pejuang, padahal dalam pandangan Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita tak ada apa-apanya. Maka, bersama-sama kita memuhasabahi diri, agar cinta kita kepada-Nya bukan hanya angan semata, agar cinta kita tak bertepuk sebelah tangan. Karena pembuktian cinta haruslah mengikuti dengan keinginan yang dicinta. Jika tidak, maka patut dipertanyakan kebenaran cintanya itu. Cinta sejati, tidak hanya dimulut dan disimpan di dalam dada saja, tetapi harus dibuktikan, agar sang kekasih percaya bahwa kita mencintainya. Kita mencintai-Nya dan Dia pun mencintai kita.

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya..” (QS. Al Maidah : 54 - 56).


www.iqraku.blogspot.com

------------------

the shamefaced - diya

Kamis, 28 Mei 2009

DIEN INI HANYA AKAN DIPIKUL OLEH ORANG-ORANG YANG BERTEKAD BAJA

Ketahuilah bahwa dien ini hanya tegak di atas pundak orang-orang yang memiliki ‘azzam yang kuat. Ia tidak akan tegak di atas pundak orang-orang yang lemah dan suka berhura-hura, tidak akan pernah !!!

Dien yang agung Ini hanya akan tegak di pundak orang-orang yang agung pula. Tanggung jawab besar yang sempat ditolak oleh langit dan bumi, pasti hanya akan di pikul oleh ahlinya, RIJAAAAALLLLLLNYA.

Bagaimana mungkin Islam akan tegak tanpa ‘azzam seteguh ‘azzam Anas bin Nadhar yang pernah berkata;” Sekiranya Allah memberi kesempatan kepadaku untuk memerangi orang-orang musyrik, niscaya Dia akan melihat apa yang akan aku lakukan.”

Lalu ia mengikuti perang Uhud, berperang dan gugur disana. Pada tubunya didapati lebih dari 80 luka bekas anak panah, pedang dan tombak. Tubuhnya terkoyak tak terkenali lagi. Hanya saudarinya perempuannya yang mengenalinya, dari jari-jemarinya.

Bagaimana mungkin Islam akan tegak dan kembali jaya dan mulia tanpa ‘azzam sekokoh ‘azzam Abu Bakar ash Shidiq saat terjadi gerakan murtad massal. Saat itu, ia yang lanjut usia dan gampang menangis, dengan ketegaran batu karang mengatakan,” Demi Allah, aku akan memerangi siapapun yang memisahkan antara shalat dan zakat. Sesungguhnya zakat adalah hak harta. Demi Allah sekiranya mereka tidak membayarkan satu iqal yang mereka bayarkan kepada RAsululllah niscaya aku akan benar-benar memerangi mereka karenanya.”

Bagaimana mungkin Islam akan tegak dan kembali mendapatkan kemuliaannya dan ‘izzahnya tanpa tekad baja seperti tekad Mus’ab bin umair. Tekad yang membuatnya meninggalkan kehidupan masa muda, masa hura-hura, menuju kehidupan yang keras,fakir dan bersahaja. Tekad yang telah menjadikan Mus’ab sebagai pintu masuk islamnya kebanyakan penduduk Madinah.

Bahkan anda akan merasakan bahwa Mush’ab adalah seorang pemilik tekad, sampai di saat kematiannya !!!!! ia yang memegang panji dalam perang Uhud, tangan kanannya terputus, sehingga ia memegangnya dengan tangan kirinya. Tangan kirinya pun terputus, maka ia mamagang panji dengan kedua lengannya. Dalam keadaanseperti itu, ibnu Qum’ah [yang terlaknat] meyabetkan pedangnya, dan mus’ab pun gugur, semoga Alllah merahmatinya…..

Bagaimana mungkin Islam akan tegak dan kembali mendapatkan kemuliaannya dan ‘izzahnya tanpa tekad baja seperti tekad Shalahuddin al Ayubi. Tekad yang telah memporak porandakan pasukan salib di Hittin dan mengembalikan ummat islam kepada aqidah yang benaar….setelah hamper saja tenggelam di kegelapan lautan Syi’ah dan kesesatan Bathiniyyah.
Seluruh hidupnya dia habiskan di bwah terpaan terik dan keringnya gurun pasir di musim panas serta dinginnya angina bertiup dan salju yang turun di musim dingin…ia bersama MUJAHIDIIN.

Betapa indahnya penuturan seorang sejarawan, Ibnu yidad tetangnya, “ Kecintaan dan rindu dendamnya terhadap jihad telah meluapi hati dan seluruh persendiannya. Semua pembicaraanya tentang jihad. Semua kajiannya tentang perlengkapan jihad. Semua perhatiannya tentang pasukan tempur. Semua kecenderunngannya terhadap orang –orang yang mengingatkan dan mendorong kepada jihad. Demi cintanya kepada jihad fi sabilillah, ia telah meninggalkan keluarga, anak-anaknya, kampungnya, tempat tinggalnya dan seluruh negerinya dan rela memilih hidup di bawah kemah yang bergoyang ke kanan dan ke kiri dihembus angina.”

Bagaimana mungkin Islam akan tegak dan kembali mendapatkan kemuliaannya dan ‘izzahnya tanpa tekad baja seperti tekad Umar bin adul aziz, yang lewat tangan Umar bin abdul aziz Allah membaharui kondisi umat dalam waktu dua setengah tahun saja !!!! sampai-sampai dikatakan seekor serigala pun berdamai dengan seekor kambing pada masanya.”

Sehubungan dengan urgensi tekad iniilah Rasulullah SAW memohon kepdaa Rabb-nya
اللهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ الثَباتَ فِي الأَمْرِ والعَزِيْمَةَ عَلَى الرُشْدِ
“ ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu keteguhan dalam melaksanakan perintah dan tekad yang utuh memberi petunjuk.”

Ini adalah pengajaran bagi kita, pendidikan bagi ummat islam pada umumnya, dan bagi para aktivis pada khususnya. Untuk itu, hendaknya kita banyak- bnyak memanjatkan doa yang agung ini disertai dengan memenuhi faktorfaktor pendukungnya.l

Himmah, semangat yang tinggi benar-benar menggelegak di dalam dada orang-orang yang memilikinya seperti air mendidih dalam kuali. Ia akan mendorong pemiliknya untuk terus- menerus bekerja, BERAMAL dari paGi hingga sore hari, sehingga terwujudlah penuturan Imam Syafi’i, “ BAGI RIJAAL, ISTIRAHAT ITU SAMA SAJA DENGAN KELALAIAN.”

Pemilik himmah yang tinggi akan menjadikan syair yang selalu di gemakan oleh Imam Syafi’I berikut ini sebagai motto hidupnya…..
أَنَا إِنْ عِشْتُ لَسْتُ أَعْدِمُ
قُوْتًا وَ إِذَا مِتُّ لَسْتُ أُحْرَمُ قَبْرًا
هِمَّتِيْ هِمَّةُ الْمُلُوْكِ وَ نَفْسِيْ
نَفْسُ حُرٍّ تَرَى الْمَذَلَّةَ كُفْرًا

Aku, jika aku masih hidup aku pasti akan bisa makan
Dan jika aku mati aku pasti kebagian kuburan
Semangatku adalah semangat para raja..
Jiwaku adalah jiwa merdeka….
Yang memandang kehinaan adalah kekufuran…

Btapa kita sangat membutuhkan himmah yang tinggi itu. Himmah yang tidak mengenal kata mustahil, yang tidak berhenti karena adanya aral melintang…apapun itu…

Apakah kita tidak malu kepada seorang Waraqah bin Naufal. Seorang yang telah lanjut usia…. lemah jasadnya….rapuh tulangnya…bunggkuk punggungnya.. dan memutih rambutnya…kepada Rasulullah ia ber’azzam, “ sungguh, jika aku nanti mendapati harimu, aku akan menolongmu dengan SEBENAR-BENARNYA….!!!”

from a friend..

Jumat, 06 Maret 2009

Semakin kami disuruh melupakan syari’ah, khilafah dan jihad, semakin Muslim akan membayar dengan darah untuk menegakkan nilai-nilai itu

Ceramah Yvonne Ridley* di Global Peace & Unity Conference 2006, London 30-11-2006

Awalnya saya ingin mempersembahkan pidato saya di Global Peace and Unity Conference ini kepada Imam Anwar Al-Awlaki-seorang ulama terkemuka dan dihormati di komunitas Muslim berbahasa Inggris – yang ditahan di Yaman dua bulan yang lalu.

Namun, saya juga harus berterima kasih kepada saudara Fahad Ansari dari Islamic Human Rights Commission, penulis artikel “God Save The Deen”, yang menginspirasi saya menulis ceramah ini. Sebagian besar isi ceramah ini terinspirasi oleh tulisannya itu.

Keislaman saya masih amat belia, karena saya baru menjadi muslimah pada 2003 – dan meskipun masih banyak yang harus saya pelajari, saya dapat merasakan frustasi yang dirasakan umat muslim pada saat ini. Saya tahu serangan 11 September berdampak luar biasa besar pada dunia, tapi itu bukan suatu awal … itu adalah kelanjutan dari warisan imperalisme AS dan ketakutannya terhadap Islam.

Sekitar 10 tahun yang lalu, para pemuda Muslim dari berbagai belahan dunia membanjiri Bosnia untuk membantu saudara-saudara mereka berjuang mempertahankan diri menghadapi Serbia yang melancarkan genosida, sementara dunia hanya berdiam diri menontonnya. Jihad menyatukan Muslim dari segala kebangsaan, status, dan kultur. Semua disatukan, bahkan mereka yang tidak bisa berangkat untuk berperang berusaha mengulurkan bantuan dalam berbagai bentuk lain seperti penggalangan dana, penyelenggaraan acara penyadaran masyarakat, dan demonstrasi.

Hasilnya, umat Muslim berhasil mematahkan usaha genosida. Dunia Barat baru melakukan intervensi setelah tampak jelas bahwa Muslim Bosnia akan meraih kemenangan. Mereka tidak bisa menerima berdirinya sebuah negera Islam di jantung Eropa, sehingga mereka pun mengitervensi. Ini buka semata-mata kesimpulan saya, tapi mantan Presiden Bill Clinton pun mengakuinya dalam autobiografinya.

Ketakuan terhadap Islam telah berkembang selama 10 tahun belakangan, sehingga darah saudara-saudara kami kini mengalir bagaikan sugai-sungai yang melintasi Chechnya, Kashmir, Palestina, Afganistan, Irak, dan baru-baru ini kita semua menyaksikan apa yang terjadi di Lebanon. Saya pernah mendatangi banyak dari ladang-ladang pembantaian ini dan izinkan saya mengatakan kepada Anda bahwa tubuh-tubuh rusak, meledak berkeping-keping dari saudara-saudara Muslim kami sama persis dengan tubuh-tubuh yang tersebar pada hari ini sangat jelas: darah Muslim adalah komoditas murah.

Sementara itu, puluhan ribu Muslim tak bersalah masih disiksa di tempat-tempat terpencil seperti Teluk Guantanamo, Bandara Bagram di Afganistan, Abu Gharib, Diego Garcia, dan penjara-penjara rahasia di berbagai penjuru dunia.

Sementara itu, di penjara-penjara bawah tanah di Suriah, Yordania, Maroko, Tunisia, Algeria, Mesir … saudara-saudara kami disiksa atas prakarsa dan tuntutan pemerintah AS. Dan saya yakin pemerintah Inggris pun terlibat dalam hal ini … Para pejabat intelejen Inggris tidak lama lagi akan dipermalukan karena keterlibatan mereka.

Bahkan sampai sekarang, masih ada 9 warga negara Inggris yang ditahan di Guantanamo – orang-orang Amerika tidak menginginkan mereka, tapi pemerintah Inggris juga tidak mau menerima mereka. Meskipun Departemen Luar Negeri memberikan berbagai dalih, sebenarnya mereka hanya perlu menelepon untuk meminta pembebasan saudara kami itu. Dan jangan pikir hanya laki-laki yang disekap dan disiksa – Moazzam bisa mendengan jeritan seorang perempuan di sel penyiksaan di Afganistan tempat dia ditahan oleh Amerika.

Temuilah Moazzam Begg di stan Cage Prisoners hari ini dan tanyakan kepadanya, apa yang bisa Anda lakukan untuk membantu. Karena kita bisa membantu. Hampir tak ada tahanan yang dibebaskan berkat proses pengadilan, melalui tekanan politik … yaitu ketika pemerintah turut campur tangan.

Anda yang hadir hari ini bisa membuat perubahan. Jangan hanya duduk di sini dan memendam kegeramam – beraksilah. Tekanlah para politisi Anda dan ingatkan mereka bahwa Andalah tuan-tuan mereka.

Dalam surah Al-Áshr, Allah menyatakan bahwa seluruh umat manusia, termasuk Muslim, berada dalam kerugian; kecuali mereka yang BERIMAN, MELAKUKAN AMAL KEBAIKAN, dan SALING MENGINGATKAN TENTANG KEBENARAN DAN KESABARAN. Hanya dengan memenuhi 4 kriteria ini, kita akan dapat berjumpa dengan Tuhan. Namun, jika kita membenamkan kepala kita di pasir dan berpura-pura tidak ada penindasan di dunia, dan penderitaan saudara-saudara kita itu tak berarti apa pun bagi kita, maka mungkin kita tidak akan bisa berjumpa dengan-Nya.

Bahkan Ken McDonald, jaksa di Inggris, merasa jijik dengan tindakan-tindakan pemerintah – ia menyerang dengan sengit apa yang disebut “pengadilan-pengadilan rahasia“.

Pengadilan-pengadilan itu mengadili tersangka terorisme yang tidak diizinkan melihat bukti-bukti yang memberatkan mereka. Itu sungguh suatu penghinaan terhadap keadilan.

Dalam sebuah wawancara eksklusif denga Islam Channel News, dia berkomentar: “Kita harus menegaskan bahwa prinsip-prinsip ini tidak bisa ditawar-tawar. Dalam tekanan politik apa pun, dalam iklim apa pun, prinsip-prinsip ini adalah hakikat dari keadilan: persidangan yang terbuka dan dilakukan di hadapan pengadilan yang independen dan netral.

“Kita tidak menginginkan pengadilan-pengadilan rahasia, kita tidak menginginkan hakim yang dipilih secara rahasia, kita tidak menginginkan keadilan rahasia. Pengadilan yang berimbang; fairness di antara penuntut dan pembela tidak bisa ditawar-tawar; hak mendapat keterangan lengkap tentang kasus yang dituduhkan Negara terhadap Anda tidak bisa ditawar-tawar.

“Pembela berhak mengetahui tuduhan yang dihadapinya, dan mereka berhak mendapatkan bahan-bahan yang dimiliki Negara, termasuk yang merugikan tuduhan Negara atau menguntungkan tertuduh. Hak naik banding tidak bisa ditawar-tawar.

”Dan asas praduga tak bersalah, standar pembuktian kejahatan – yang melampaui keraguan-keraguan yang masuk akal – dengan tanggung jawab pembuktian terletak di pundak Negara, tak satu pun dari prinsip-prinsip ini bisa ditawar-tawar.”

Dan tentu saja ia benar – tapi Tony Blair berkata bahwa Muslim harus berhenti memiliki mentalitas korban. Namun, kalau kepala kejaksaan saja mengeluh, tentu kami punya alasan kuat.

Coba bayangkan, apa tanggapan anak-anak muda Muslim atas semua ini? Mereka membaca kisah-kisah kepahlawanan Salahuddin Al-Ayyubi, Khalid bin Walid, Tariq bin Ziad, dan menyimak kisah-kisah keberanian dan keperwiraan Nabi Muhammad saw, yang amat kami cintai. Tahukan Anda, 5 tahun lalu, saya sama sekali tidak tahu siapa Nabi saw itu. Namun, sekarang saya bersedia mengorbankan tetes darah terakhir saya untuk membela nama, kehormatan dan kenangan tentang beliau. Bahkan setelah wafat, beliau menunjukkan dirinya mampu menyatukan Ummah dalam protes terhadap karikatur jahat dari Denmark itu.

Pahlawan-pahlawan modern kami mencakup Malcolm X dan Sayyid Qutb, yang tulisan keduanya membantu saya mendefinisikan diri sebagai Muslim.

Mereka menjadi semacam role model yang diikuti anak-anak muda kami. Namun, mereka malah menerima informasi-informasi yang simpang siur dan membingungkan. Blair mencoba melarang Milestones (Buku karangan Sayyid Qutb) – ia diberi tahu bahwa Usamah bin Ladin membaca buku itu … Well, Usamah juga membaca Shakespeare. Apakah kita juga harus melarang Tweifth Nightm Hamlet, dan karya-karya klasiknya yang lain? Satu menit, anak-anak muda kami diberi tahu untuk hanya takut kepada Alla SWT, tapi menit berikutnya, mereka diberitahu untuk “melunakkan“ Islam mereka dan menunjukkan kepala dengan patuh.

Sejak peristiwa 11 September, diluncurkan kampanye gencar untuk mengubah Islam menjadi sesuatu yang lebih sesuai dengan menyuarakan Barat. Tujuannya adalah menciptakan satu Islam yang sekuler dan kultural yang rukun dengan dunia karena ia tunduk kepada penindas-penindasnya, bukannya kepada Allah; sebuah Islam tanpa jihad, syariah dan khilafah – hal-hal yang diperintahkan Allah kepada kami untuk menjalankannya, demi tegaknya din Allah di muka Bumi.

Dan upaya-upaya ini tampak di mana pun saya mengarahkan pandangan. Hijab direnggut dari kepala saudari-saudari kami di Tunisia, Prancis, dan Turki. Saudari-saudari kami di Belanda dan Jerman juga menjadi sasaran. Dan di Inggris, ada Jack Straw, mantan Menteri Luar Negeri Inggris yang mempermasalahkan Jilbab – dia mungkin tidak suka niqab, tapi saya berharap ia memakainya, ditambah sebuah berangus yang besar. Saya tidak membutuhkan laki-laki kulit putih setengah baya untuk memberi tahu saya atau saudari-saudari saya bagaimana kami harus berpakaian. Nikab, seperti jilbab, seperti hijab menjadi simbol penolakan terhadap gaya hidup Barat yang negatif seperti penggunaan obat-obatan terlarang, mabuk-mabukkan, dan seks bebas. Sikap tersebut adalah pernyataan kepada Barat bahwa kami tidak mau menjadi seperti dirimu.

Muslim yang memilih menjadi lebih kebarat-baratan ketimbang orang Barat sendiri membuat saya tertawa – tidak sadarkah mereka bahwa tampak konyol di mata dunia? Mereka bersembunyi di balik deskripsi-deskripsi semacam moderat – lagi-lagi, pesan apakah yang ingin disampakan kepada anak-anak muda kami? Jika kita meminta mereka untuk menjadi moderat, tidakkah itu menyiratkan bahwa ada sesuatu yang salah dengan Islam yang perlu dilunakkan, dijinakkan?

Apa itu moderat dan apa itu ekstremis? Saya tidak tahu. Saya hanya seorang Muslim. Saya tidak mengikuti ulama atau aliran mana pun … saya hanya mengikuti Nabi saw. Dan Sunnahnya. Apakah itu membuat saya menjadi seorang ekstremis? Saya tidak yakin Tony Blair memahami dirinya sendiri – saya menulis surat kepadanya tiga bulan yang lalu dan sampai sekarang saya masih menunggu balasannya. Menjadi Muslim itu agak mirip dengan mengandung. Pernahkah mendengar ada orang yang mengandung dengan moderat?

Islam telah diserang selama 1.400 tahun dan kami sekarang sudah belajar untuk hanya bergantung kepada Allah. Namun, masih ada Muslim yang mencium tangan yang menampar mereka. Saya khawatir bahwa kita tak lagi bisa memercayai seseorang hanya karena mengenakan busana Islami. Ada pemimpin-pemimpin Muslim yang mengklaim bahwa mereka membimbing dan melindungi kami, tapi tidak semuanya memikirkan kepentingan kami. Generasi muda kami harus sangat hati-hati sejak peristiwa 11 September dan Bom London 7 Juli. Kami harus memberi tahu generasi muda kami bahwa apa yang terjadi di Palestina, kashmir, Chechnya, Irak dan Afganistan adalah perlawanan yang dibenarkan terhadap pendudukan militer yang brutal, sedangkan kejahatan-kejahatan seperti 11 September dan Bom London adalah terorisme. Menyamakan keduanya berarti mengkhianati saudara-saudara kami yang tak punya pilihan selain melawan atau terhapus dari muka planet ini.

Hamba-hamba baru Dunia Barat menghujat partai-partai Islam dan pemerintah-pemerintah yang menerapkan syari’ah. Saya menyebut mereka “Penggembira“. Mereka diterbangkan pemerintah dari AS, Kanada, Yaman, dan Mauritania untuk menyebarkan Islam yang jinak. Hasil akhirnya adalah penjinakan din Allah, sebuah Islam yang lemah dan pasif, mau menerima status quo yang menindas dan menghinakan Muslim; sebuah Islam yang mendorong Muslim mengutuk aksi saudara-saudara mereka yang denga gagah berani melawan pendudukan dan penindasan dengan segala yang mereka punya. Bahkan mendoakan mereka pun sekarang menjadi kejahatan – berapa lama lagi sebelum kami diberi tahu untuk tidak mendoakan mujahidin?

Salah satu panglima perang terbesar yang pernah dikenal dunia, Salahuddin Al-Ayyyubi, pembebas Al-Quds, pernah ditanya mengapa dia tak pernah tersenyum. Dia menjawab, bagaimana mungkin dia tersenyum padahal dia tahu Masjid Al-Aqsa masih diduduki? Saya bayangkan bagaimana tanggapannya terhadap situasi dunia sekarang? Saat ini para pemimpin Arab menari perut tanpa malu di hadapan Amerika sambil menyerahkan Irak di atas sebuah piring. Pemimpin-pemimpin Arab itu berpaling sementara Palestina yang jelita tak henti-hentinya diperkosa dan “putrid jelita” Arab lainnya, lebanon … kemanakah Dunia Arab ketika ia diserang dengan amat brutal?

Dan genderang perang kembali ditabuh. Bukan janya seluruh dunia menyaksikan, melainkan anak-anak kami, generasi muda kami, masa depan kami. Kita harus mendidik dan menginspirasi mereka dengan kisah-kisah Nabi dan para Sahabat. Selama Ummah memunculkan tokoh-tokoh seperti Khalid bin Walid, Salahuddin Al-Ayyubi, Sayyid Qutb, dan Malcolm X, kami tidak akan kalah. Semakin kami ditindas oleh para tiran, semakin sengit kami melawan. Inilah sifat Islam.

Dan inilah Islam yang perlu diikuti anak-anak muda kami, dengan bimbingan dan ispirasi. Kami harus mengganti pemimpin-pemimpin yang mengebiri diri mereka sendiri dalam upaya menyedihkan untuk menjadi lebih Barat ketimbang bangsa Barat sendiri. Banyak anak muda Muslim sekarang menyadari bahwa tak peduli seberapa keras mereka mengompromikan din mereka untuk melebur ke dalam masyarakat yang lebih luas, ketika keadaan menjadi runyam, mereka akan diperlakukan dengan penuh kecurigaan. Semakin kami disuruh melupakan syari’ah, khilafah dan jihad, semakin Muslim akan membayar dengan darah untuk menegakkan nilai-nilai itu. Jihad yang kita saksikan di Palestina, Irak, Afghanistan, Kashmir, dan Chechnya adalah sesuatu yang mulia, sebuah perang yang dibenarkan melawan kezaliman dan tirani.

Aksi para jihadis sama sekali tidak menimbulkan ancaman terhadap Barat atau gaya hidup orang Barat. Perlawanan mereka bukan hanya dibenarkan tetapi bahkan didukung oleh hukum international. Ekstremis religius yang sungguh-sungguh menimbulkan ancaman terbesar meradikalisasi anak-anak muda kita adalah Kristen Fundamentalis di Gedung Putih dan Downing Street. Bush dan Blair telah menjadi agen perekrutan terbaik Al-Qaidah.

Semakin banyak anak muda Muslim menyadari bahwa bukan terorisme atau ekstremisme yang menjadi target, tetapi Islam sendirilah yang menjadi target.

Kini Ummah-lah yang harus memimpin dan menginspirasi generasi muda Muslim, seperti Nabi memimpin dan menginspirasi jutaan manusia dan akan terus demikian adannya. Dan pelajaran pertama yang harus kami sampaikan kepada generasi muda kami adalah takut kepada Allah SWT.


*Yvonne Ridley, wartawati-feminis Inggris, yang menjadi mualaf setelah ditawan Taliban, dan kini menjadi pembela Islam di Barat



Sumber:
http://andricipta.wordpress.com/2007...n-menuju-iman/
http://s3nn4.multiply.com/journal/item/264
http://c4kra.multiply.com/journal/item/212/212

diterjemahkan dari:
http://yvonneridley.org/yvonne-ridle...don.-uk-4.html

Sabtu, 21 Februari 2009

Dua Polisi yang Menyaksikan Eksekusi atas Sayyid Qutb

Ulama, da’i, serta para penyeru Islam yang mempersembahkan nyawanya di Jalan Allah, atas dasar ikhlash kepadaNya, sentiasa ditempatkan Allah sangat tinggi dan mulia di hati segenap manusia.

Di antara da’i dan penyeru Islam itu adalah Syuhada (insya Allah) Sayyid Qutb. Bahkan peristiwa eksekusi matinya yang dilakukan dengan cara digantung, memberikan kesan mendalam dan menggetarkan bagi siapa saja yang mengenal Beliau atau menyaksikan sikapnya yang teguh. Di antara mereka yang begitu tergetar dengan sosok mulia ini adalah dua orang polisi yang menyaksikan eksekusi matinya (di tahun 1966).

Salah seorang polisi itu mengetengahkan kisahnya kepada kita:

Ada banyak peristiwa yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya, lalu peristiwa itu menghantam kami dan merubah total kehidupan kami.

Di penjara militer pada saat itu, setiap malam kami menerima orang atau sekelompok orang, laki-laki atau perempuan, tua maupun muda. Setiap orang-orang itu tiba, atasan kami menyampaikan bahwa orang-orang itu adalah para pengkhianat negara yang telah bekerja sama dengan agen Zionis Yahudi. Karena itu, dengan cara apapun kami harus bias mengorek rahasia dari mereka. Kami harus dapat membuat mereka membuka mulut dengan cara apapun, meski itu harus dengan menimpakan siksaan keji pada mereka tanpa pandang bulu.

Jika tubuh mereka penuh dengan berbagai luka akibat pukulan dan cambukan, itu sesuatu pemandangan harian yang biasa. Kami melaksanakan tugas itu dengan satu keyakinan kuat bahwa kami tengah melaksanakan tugas mulia: menyelamatkan negara dan melindungi masyarakat dari para “pengkhianat keji” yang telah bekerja sama dengan Yahudi hina.

Begitulah, hingga kami menyaksikan berbagai peristiwa yang tidak dapat kami mengerti. Kami mempersaksikan para ‘pengkhianat’ ini sentiasa menjaga shalat mereka, bahkan sentiasa berusaha menjaga dengan teguh qiyamullail setiap malam, dalam keadaan apapun. Ketika ayunan pukulan dan cabikan cambuk memecahkan daging mereka, mereka tidak berhenti untuk mengingat Allah. Lisan mereka sentiasa berdzikir walau tengah menghadapi siksaan yang berat.

Beberapa di antara mereka berpulang menghadap Allah sementar ayunan cambuk tengah mendera tubuh mereka, atau ketika sekawanan anjing lapar merobek daging punggung mereka. Tetapi dalam kondisi mencekam itu, mereka menghadapi maut dengan senyum di bibir, dan lisan yang selalu basah mengingat nama Allah.

Perlahan, kami mulai ragu, apakah benar orang-orang ini adalah sekawanan ‘penjahat keji’ dan ‘pengkhianat’? Bagaimana mungkin orang-orang yang teguh dalam menjalankan perintah agamanya adalah orang yang berkolaborasi dengan musuh Allah?

Maka kami, aku dan temanku yang sama-sama bertugas di kepolisian ini, secara rahasia menyepakati, untuk sedapat mungkin berusaha tidak menyakiti orang-orang ini, serta memberikan mereka bantuan apa saja yang dapat kami lakukan. Dengan ijin Allah, tugas saya di penjara militer tersebut tidak berlangsung lama. Penugasan kami yang terakhir di penjara itu adalah menjaga sebuah sel di mana di dalamnya dipenjara seseorang. Kami diberi tahu bahwa orang ini adalah yang paling berbahaya dari kumpulan ‘pengkhianat’ itu. Orang ini adalah pemimpin dan perencana seluruh makar jahat mereka. Namanya Sayyid Qutb.

Orang ini agaknya telah mengalami siksaan sangat berat hingga ia tidak mampu lagi untuk berdiri. Mereka harus menyeretnya ke Pengadilan Militer ketika ia akan disidangkan. Suatu malam, keputusan telah sampai untuknya, ia harus dieksekusi mati dengan cara digantung.

Malam itu seorang sheikh dibawa menemuinya, untuk mentalqin dan mengingatkannya kepada Allah, sebelum dieksekusi.

(Sheikh itu berkata, “Wahai Sayyid, ucapkanlah Laa ilaha illa Allah…”. Sayyid Qutb hanya tersenyum lalu berkata, “Sampai juga engkau wahai Sheikh, menyempurnakan seluruh sandiwara ini? Ketahuilah, kami mati dan mengorbankan diri demi membela dan meninggikan kalimat Laa ilaha illa Allah, sementara engkau mencari makan dengan Laa ilaha illa Allah”. Pent)

Dini hari esoknya, kami, aku dan temanku, menuntun dan tangannya dan membawanya ke sebuah mobil tertutup, di mana di dalamnya telah ada beberapa tahanan lainnya yang juga akan dieksekusi. Beberapa saat kemudian, mobil penjara itu berangkat ke tempat eksekusi, dikawal oleh beberapa mobil militer yang membawa kawanan tentara bersenjata lengkap.

Begitu tiba di tempat eksekusi, tiap tentara menempati posisinya dengan senjata siap. Para perwira militer telah menyiapkan segala hal termasuk memasang instalasi tiang gantung untuk setiap tahanan. Seorang tentara eksekutor mengalungkan tali gantung ke leher Beliau dan para tahanan lain. Setelah semua siap, seluruh petugas bersiap menunggu perintah eksekusi.

Di tengah suasana ‘maut’ yang begitu mencekam dan menggoncangkan jiwa itu, aku menyaksikan peristiwa yang mengharukan dan mengagumkan. Ketika tali gantung telah mengikat leher mereka, masing-masing saling bertausiyah kepada saudaranya, untuk tetap tsabat dan shabr, serta menyampaikan kabar gembira, saling berjanji untuk bertemu di Surga, bersama dengan Rasulullah tercinta dan para Shahabat. Tausiyah ini kemudian diakhiri dengan pekikan, “ALLAHU AKBAR WA LILLAHIL HAMD!” Aku tergetar mendengarnya.

Di saat yang genting itu, kami mendengar bunyi mobil datang. Gerbang ruangan dibuka dan seorang pejabat militer tingkat tinggi datang dengan tergesa-gesa sembari memberi komando agar pelaksanaan eksekusi ditunda.

Perwira tinggi itu mendekati Sayyid Qutb, lalu memerintahkan agar tali gantungan dilepaskan dan tutup mata dibuka. Perwira itu kemudian menyampaikan kata-kata dengan bibir bergetar, “Saudaraku Sayyid, aku datang bersegera menghadap Anda, dengan membawa kabar gembira dan pengampunan dari Presiden kita yang sangat pengasih. Anda hanya perlu menulis satu kalimat saja sehingga Anda dan seluruh teman-teman Anda akan diampuni”.

Perwira itu tidak membuang-buang waktu, ia segera mengeluarkan sebuah notes kecil dari saku bajunya dan sebuah pulpen, lalu berkata, “Tulislah Saudaraku, satu kalimat saja… Aku bersalah dan aku minta maaf…”

(Hal serupa pernah terjadi ketika Ustadz Sayyid Qutb dipenjara, lalu datanglah saudarinya Aminah Qutb sembari membawa pesan dari rejim thowaghit Mesir, meminta agar Sayyid Qutb sekedar mengajukan permohonan maaf secara tertulis kepada Presiden Jamal Abdul Naser, maka ia akan diampuni. Sayyid Qutb mengucapkan kata-katanya yang terkenal, “Telunjuk yang sentiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalatnya, menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukan atau menyerah kepada rejim thowaghit…”. Pent)

Sayyid Qutb menatap perwira itu dengan matanya yang bening. Satu senyum tersungging di bibirnya. Lalu dengan sangat berwibawa Beliau berkata, “Tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah bersedia menukar kehidupan dunia yang fana ini dengan Akhirat yang abadi”.

Perwira itu berkata, dengan nada suara bergetar karena rasa sedih yang mencekam, “Tetapi Sayyid, itu artinya kematian…”

Ustadz Sayyid Qutb berkata tenang, “Selamat datang kematian di Jalan Allah… Sungguh Allah Maha Besar!”

Aku menyaksikan seluruh episode ini, dan tidak mampu berkata apa-apa. Kami menyaksikan gunung menjulang yang kokoh berdiri mempertahankan iman dan keyakinan. Dialog itu tidak dilanjutkan, dan sang perwira memberi tanda eksekusi untuk dilanjutkan.

Segera, para eksekutor akan menekan tuas, dan tubuh Sayyid Qutb beserta kawan-kawannya akan menggantung. Lisan semua mereka yang akan menjalani eksekusi itu mengucapkan sesuatu yang tidak akan pernah kami lupakan untuk selama-lamanya… Mereka mengucapkan, “Laa ilaha illah Allah, Muhammad Rasulullah…”

Sejak hari itu, aku berjanji kepada diriku untuk bertobat, takut kepada Allah, dan berusaha menjadi hambaNya yang sholeh. Aku sentiasa berdoa kepada Allah agar Dia mengampuni dosa-dosaku, serta menjaga diriku di dalam iman hingga akhir hayatku.



Diambil dari kumpulan kisah: “Mereka yang kembali kepada Allah”
Oleh: Muhammad Abdul Aziz Al Musnad
Diterjemahkan oleh Dr. Muhammad Amin Taufiq.

Courtesy: Al Firdaws English Forum


-Forum Jihad al Tawbah-

Jumat, 06 Februari 2009

Izinkan Aku Bercerita Tentangmu…

Jangan pernah lelah wahai Mujahidku
Karena ku kan senantiasa dibelakangmu untuk mendukungmu
Jangan kau tengok ke belakang, lihatlah kedepan
Didepan ada musuhmu, musuh Tuhan kita
Jadikan mereka terhina dengan kekuatanmu
Janganlah ragu untuk melepaskan peluru dari selongsong senapanmu
Bidiklah tepat dijantungnya
Jadikan ia mati sia-sia, tak memberi kemenangan bagi sekutunya
Maju terus jangan pernah menyerah
Lepaskanlah duniamu
Karena sungguh dunia ini hina
Sesungguhnya disisi Tuhan kitalah sebenar-benarnya kebahagiaan
Ingatlah isteri-isteri akhiratmu menunggumu dengan penuh cinta
Mereka senantiasa mendendangkan syair kerinduan
Hanya untukmu, hanya untukmu..

Disaat kau pulang dengan membawa kemenangan
Maka janganlah kau merasa puas hingga Allah memenangkan agama ini atau kau menemui syahid dimedan itu
Dua pilihan yang menguntungkan, bukan?
Siapakah yang tidak suka dengan perniagaan demikian?
Sungguh merugi bagi orang yang membeli kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat
Bukankah kau tidak demikian?

Kau sering bercerita kepadaku tentang indahnya syurga
Dengan berbagai kenikmatan didalamnya
Dan akupun mendengarkan dengan seksama
Betapa indahnya jika kita termasuk penghuni didalamnya
Menuai keridhaan-Nya selamanya

Wahai Mujahidku.. aku sering melihatmu bercucuran air mata
Dan seketika itu kau tersungkur bersujud
Memanjatkan sebuah doa
Aku tak bisa mendengarnya karena suaramu tertahan oleh gejolak didadamu
Namun ku tau
Itu adalah gemuruh kerinduanmu padanNya
dan kau memohon untuk bisa membela saudara-saudaramu dari para Thagut kaum kuffar
mengembalikan izzah mereka

wahai Kekasihku.. ku kan senantiasa berdoa untuk mu agar harapanmu terpenuhi
untuk bisa kembali ke medan pertempuran itu
sungguh aku ridha jika harus dua kali atau bahkan berulang kali ditinggal olehmu
meski kerinduanku belumlah pupus
meski sajadahku belumlah kering karena banyaknya air mata kerinduan mengharap hadirmu disisiku
meski hari-hariku kan kembali sepi oleh canda dan petuahmu

meski kau tak lagi mengimamiku shalat
meski kau tak akan menyakasikan kehadiran Mujahid kecilmu menghirup udara kehidupan
aku ridha, sungguh aku ridha
asalkan Rabb kita memperkenankan kita bersua dan berkumpul di JannahNya
untuk selamanya
Jika kita tak berjumpa kembali
Maka kan ku semai cintamu disyurga
Dalam istana takwa

senyumku mengembang jika ku membayangkannya(syurga)
namun ku tak bisa menyembunyikan rasa cemburuku pada bidadari bermata jeli
yang akan membagi kasihmu dengan ku
kecantikan mereka tiada tandingan
meski kau selalu menyanjungku tiap pagi dan malam hari
namun seperti yang kau tau aku adalah wanita pecemburu
jiaka rasa itu menyerang maka aku kan mengingat kata-katamu
“kecantikan bidadari memang tiada duanya namun wanita dunia lebih mulia dan tiada tandingannya karena mereka bersusah payah beribadah sewaktu didunia
Dan seketika itu pula hatiku riang
Ahhh..kau selalu mengerti bagaimana caranya membuatku senang

Wahai pujaanku..tiada berita yang lebih kusukai selain berita tentang kesyahidanmu
Oleh karena itu janganlah berhenti untuk mengharap syahadah pada-Nya
Mudah-mudahan Allah melapangkan jalanmu menujuNya
Kau ingat bukan Rabb kita telah berfirman
"Barang siapa menolong agamanya maka dia akan menolongnya pula"
Yakinlah itu

Wahai kekasih hati..jangan pernah ragu untuk meninggalkanku kembali
Jangan fikirkan aku
Karena ku kan baik-baik saja
Ku kan setangguh isteri Handzalah
yang merelakan malam pengantinya untuk memenuhi seruan-Nya
Kan kutopang hidupku tanpamu
Karena kini ku telah terbiasa
Kau yang mengajarkannya padaku, bukan?
Bukankah kita telah berkomitmen dari awal perjumpaan
dan saat ijab Kabul diucapkan
untuk mendirikan bangunan kasih kita diatas jalanNya
hingga syahid menjemput?
Kita tau perjumpaan didunia adalah sementara
Karenanya kita memohon perjumpaan yang kekal
Hingga kau dan aku tak terpisahkan lagi oleh ruang dan waktu
Allaahumma Amiin

Salam rinduku untuk mu selalu

Aisyah-mu

-----

(dari seorang teman)

mempersiapkan diri untuk hal terburuk.. hmm.. sebenarnya bukan hal terburuk, tapi terindah.. :)

Selasa, 27 Januari 2009

Jembatan




Alkisah ada dua orang kakak beradik yang hidup di sebuah desa. Entah karena apa mereka jatuh ke dalam suatu pertengkaran serius. Dan ini adalah pertama kalinya mereka bertengkar sedemikian hebat. Padahal selama 40 tahun mereka hidup rukun berdampingan, saling meminjamkan peralatan pertanian, dan bahu membahu dalam usaha perdagangan tanpa mengalami hambatan.

Namun kerja sama yang akrab itu kini retak. Dimulai dari kesalahpahaman yang sepele saja. Kemudian berubah menjadi perbedaan pendapat yang besar. Dan akhirnya meledak dalam bentuk caci-maki. Beberapa minggu sudah berlalu, mereka saling berdiam diri tak bertegur-sapa.

Suatu pagi, seseorang mengetuk rumah sang kakak. Di depan pintu berdiri seorang pria membawa kotak perkakas tukang kayu. "Maaf tuan, sebenarnya saya sedang mencari pekerjaan," kata pria itu dengan ramah. "Barangkali tuan berkenan memberikan beberapa pekerjaan untuk saya selesaikan."

"Oh ya!" jawab sang kakak. "Saya punya sebuah pekerjaan untukmu. Kau lihat ladang pertanian di seberang sungai sana. Itu adalah rumah tetanggaku, ..ah sebetulnya ia adalah adikku. Minggu lalu ia mengeruk bendungan dengan buldozer lalu mengalirkan airnya ke tengah padang rumput itu sehingga menjadi sungai yang memisahkan tanah kami. Hmm, barangkali ia melakukan itu untuk mengejekku, tapi aku akan membalasnya lebih setimpal. Di situ ada gundukan kayu. Aku ingin kau membuat pagar setinggi 10 meter untukku sehingga aku tidak perlu lagi melihat rumahnya. Pokoknya, aku ingin melupakannya." Kata tukang kayu, "Saya mengerti. Belikan saya paku dan peralatan. Akan saya kerjakan sesuatu yang bisa membuat tuan merasa senang."

Kemudian sang kakak pergi ke kota untuk berbelanja berbagai kebutuhan dan menyiapkannya untuk si tukang kayu. Setelah itu ia meninggalkan tukang kayu bekerja sendirian.

Sepanjang hari tukang kayu bekerja keras, mengukur, menggergaji dan memaku. Di sore hari, ketika sang kakak petani itu kembali, tukang kayu itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya.

Betapa terbelalaknya ia begitu melihat hasil pekerjaan tukang kayu itu. Sama sekali tidak ada pagar kayu sebagaimana yang dimintanya. Namun, yang ada adalah jembatan melintasi sungai yang menghubungkan ladang pertaniannya dengan ladang pertanian adiknya. Jembatan itu begitu indah dengan undak-undakan yang tertata rapi. Dari seberang sana, terlihat sang adik bergegas berjalan menaiki jembatan itu dengan kedua tangannya terbuka lebar.

"Kakakku, kau sungguh baik hati mau membuatkan jembatan ini. Padahal sikap dan ucapanku telah menyakiti hatimu. Maafkan aku." kata sang adik pada kakaknya.

Dua bersaudara itu pun bertemu di tengah-tengah jembatan, saling berjabat tangan dan berpelukan. Melihat itu, tukang kayu pun membenahi perkakasnya dan bersiap-siap untuk pergi. "Hai, jangan pergi dulu. Tinggallah beberapa hari lagi. Kami mempunyai banyak pekerjaan untukmu," pinta sang kakak.

"Sesungguhnya saya ingin sekali tinggal di sini," kata tukang kayu, "tapi masih banyak jembatan lain yang harus saya selesaikan."

Minggu, 25 Januari 2009

Out Of Box

Membandingkan keadaan Jakarta, Bandung dan beberapa kota besar sekitarnya dengan keadaan kota kecil (mungkin setingkat kecamatan) yang berada di pedalaman pulau luar Jawa, nampak sangat kontras bedanya. Bahkan, dapat membuat kita, sebagai muslim (apakah anda mengaku muslim?) sejenak melupakan tugas2 pokok kita sbg manusia (hamba Alloh). Bisa jadi. ALlohua`lam.

Mungkin hal ini disebabkan beberapa kondisi dan lingkungan yang berbeda tsb. Di kota kecil nan jauh, namun sebagai penghasil barang tambang terkemuka, pendapatan per kapita penduduknya terbilang besar. Bahkan untuk seorang lulusan SMU pun. Tapi itu tidak selalu, saya hanya mau bilang di kota kecil itu hampir tidak dijumpai pengemis, anak-anak jalanan, penduduk miskin yang setara dgn level kemiskinan di Jakarta, Bandung, Botabek.

Islam cukup kondusif disana. Berbondong-bondong bapak-bapak, ibu-ibu, wanita dan laki-laki mengikuti berbagai kajian (yang katanya sih umum..tapi saya tau diadakan oleh sebuah harokah bersayap partai) islami yang sangat menjamur dimana-mana. Bahkan, itu yang terlihat vokal. Dengan satu-satunya yayasan sosialnya, induk kajian tersebut dengan mudahnya menggapai berbagai lini kehidupan masyarakat kota kecil itu. Dari SD hingga SMP, radio, badan amil zakat, hingga senam sehat. Dakwah terlihat menjanjikan. Saya belum melihat respon masyarakat yang sangat baik untuk kategori sebuah partai di sebuah kota, seperti di kota kecil itu.

Memang nyaman hidup di kota impian (andai saja kota itu tidak memiliki masalah dengan air, listrik, dan mall bagi yang membutuhkan). Karena hedonisme belumlah terfasilitasi. Kecuali korupsi, kolusi dan nepotisme yang sangat terfasilitasi. Saya pikir, kota itu cukuplah memberikan lingkungan yang baik untuk perkembangan islam dan syi`ar islam. Sekali lagi, bila dibandingkan dengan kota-kota besar di Indonesia, dimana banyak sekali kemacetan, tindakan asusila dan kriminal yang entah berapa kali terjadi per menitnya, gaya hidup hedon, pemurtadan, manusia-manusia hipokrit bla.. bla...

Namun.. bukan itu yang membuat kita berkembang. Bukan itu yang memicu semangat. Bukan itu yang melecut kesadaran. Saat melihat dunia luar, saat berinteraksi dengan pengemis, janda-janda tua, anak-anak jalanan, melewati pasar, mall, bahkan saat melihat adik-adik ABG-ABG modis.. dan berbagai objek-objek hidup atau tak hidup lainnya, justru akan terasa miris.

“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Al-A’la 16-17).

Disitulah nurani terasa ditusuk-tusuk. Perubahan seperti apa sebenarnya yang kita inginkan? Kita? Bukan.. ALloh.

Tidak cuma berpikir akan “Makan apa kita besok?” tapi cobalah untuk berpikir “Apa yang bisa kita lakukan besok?” dan bukan hanya berpikir “Apakah mall buka besok?” tapi sedikitlah berpikir “Apakah hukum-hukum Alloh masih diinjak-injak besok?”. Bukan juga “Bagaimana nasib kita?” tetapi “Bagaimana nasib saudara-saudara kita sesama muslim?” Dan juga bukan “Siapa dia?” tapi.. “Siapa kita?” hehehe aneh ya... :D
Ngga aneh juga sih.. Siapa kita? Apa kita mau disebut the dead body? Iya lah.. dead body, kerjaannya apa? Manusia yang tidak bermanfaat buat manusia lain (apalagi buat Tuhannya) kata-kata apa yang pantas selain “daging berjalan”? hihihi. Begitu banyak perumpamaan terhadap manusia di dalam alQuran..

“Dan kalau Kami Menghendaki sesunggunya Kami Tinggikan derjatnya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya dihulurkan lidah dan jika kamu biarkannya dia menghulurkan lidahnya juga. Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Cerita-cerita demikian bermaksud agar manusia memikirkannya.” (al-A’raf, 7: 176)

Dan untuk yang mengambil pelindung selain Alloh:

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti labah-labah yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah labah-labah kalau mereka mengetahui.” (Al-‘Ankabut, 29: 41)

Melihat keluar. Keluar Kotak. Inilah kenyataan teman. Bukan sekedar bekerja, bercanda, memenuhi kebutuhan pribadi. Terlalu jauh dari kenyataan, bisa membuat hati kita mengeras. Sekeras batu. Sehingga pernahkah kalian berpikir di belahan dunia sana masih banyak orang-orang yang hidup dengan tidak layak. Bahkan tidak layak pula untuk disebut hidup. Pernahkah kalian berpikir di belahan dunia sana para saudara-saudara kita sedang berperang demi izzul islam. Apakah kita merasa cukup dengan apa yang kita punya sehingga tidak peduli pada tujuan kita diciptakan?

Betapa banyak tugas bagi hamba-hamba yang mengaku menauhidkan Alloh. Begitu berat beban yang dipikul mereka yang berjuang dijalan islam. Akankah kita menjadi penonton atau menjadi pemain walau hanya 1/10.000.000.000 bagian andil yang kita sisipkan. Bahkan.. sebuah semangat pun sangat berharga dalam sebuah kemenangan. Melihat kenyataan yang sangat menyedihkan.. apakah islam bisa menang? Kapan islam akan menang? Yaa.. memang tidak akan menang kalau kita tidak melakukan apapun. Tidak cuma berpikir, membayangkan, tapi juga bergerak. Hidup adalah perjuangan :)
Allah berfirman:

“Musa berkata kepada kaumnya, ‘Minta tolonglah kalian kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al A’raf 128).

Ayat ini menunjukkan bahwa kemenangan akan diberikan kepada hamba-hambaNya yang bertakwa. Maksudnya adalah Islam dan umatnya. Dan ini pasti terjadi cepat atau lambat, sebab Allah tidak pernah mengingkari janji. Allah berfirman: “innallaaha laa yukhliful mii’aad (sesungguhnya Allah tidak pernah menyalahi janji.)” Ali Imran 9.

“berilah kabar gembira kepada umatku dengan kemenangan, ketenangan di negerinya, pertolongan Allah, dan kemulyaan agamanya, siapa yang menjadikan amal akhiratnya untuk dunia, maka ia tidak akan mendapatkan apa-apa di akhirat” (HR. Imam Ahmad no 20273).

Duuh.. saya ni cerita apa ya? Hehehe..
Eh, tapi walking-walking bagus juga untuk kesehatan ^^V

------------------------------------------------------

Untuk semua yang merasa masih di dalam kotak :)

Senin, 19 Januari 2009

Enam Seruan Untuk Insan Mukmin

bismillah..
semoga bermanfaat untuk yang mengaku muslim

QUM FAANDZIR
Bangkit dan berdirilah, Susun barisan dan kekuatan. Barisan kesatuan ummat, canangkan seruan peringatan. Seruan kebenaran dan peringatan kehancuran bila menolak kebenaran. Gemakan senantiasa kalam ilahi. Kumandangkan selalu seruan kebenaran. Sampaikan peringatan ini ke telinga setiap insan. Sebarkan kepada dunia luas ajaran tauhid plus anti kepada Thaghut, dengan ajaran cinta dan kedamaian.

WAROBBAKA FAKABBIR

Agungkan Robbmu diatas segalanya. Tiada keagungan yang menyamai keagungannya. Tiada kekuasaan yang menyamai kekuasaannya. Tiada perintah dan urusan yang lebih dipentingkan dari pada menjalankan perintahnya. Kecil semuanya dihadapan Allahu Akbar. Tiada ketakutan selain adzab dan siksanya. Tiada yang diharapkan selain ridhonya. Tiada lagi kesulitan yang menghambat bila diri bertumpu pada yang maha besar, yang maha kuasa dan maha tunggal.

WATSIYABAKA FATHOHIR

Bersihkan lahir dan batinmu dengan kesucian diri, amanah risalah dapat engkau jalankan. Ini risalah suci tak boleh dipegang oleh tangan yang kotor, apalagi jiwa yang berlumuran noda tidak mungkin memberi manfaat kepada dunia dan manusia.

WARUJZA FAHJUR

Jauhilah maksiat, hindari perbuatan durjana, maksiat dan kedurjanaan akan menodai dirimu dan menghitamkan sejarah hidupmu. engkau tidak akan diterima menghadap, jika dirimu hitam bercat maksiat. Namamu akan tercemar lagi hina dihadapan Allah SWT. Bersihkan keluargamu, tetanggamu dan masyarakatmu dari segala noda dan dosa. Bangsa dan negara yang adikuasa sekalipun akan karam di lembah kehancuran bila maksiat dan dosa merajalela. Tegaknya kebenaran dan kehancuran kemungkaran haruslah menjadi khittah perjuanganmu. Tegaknya Al Haq dan hancurnya Al Batil jadikan sebagai pokok jihadmu.

WALAA TAMNUN TASTAKTSIR

Jangan engakau memberi untuk mengharapkan balasan yang berlebih. Laksanakan tugas tanpa pamrih dan sesamamu. Menjalankan tugas adalah pengabdian dan kebaktian semata. Karena "harta dunia" tidak cukup untuk membalas amal sholehmu. Jadikanlah penyuluh bagi masyarakat ramai. Dengan itu yakinlah keridhoaan Robbmu ada di ambang pintu.

WALIROBBIKA FASHBIR

Karena Robbmu bersabarlah. Lakukanlah tugas dan kewajiban berjuang dengan sabar dan tahan mental. Sabar untuk menerima musibah dan cobaan yang silih berganti. Sabar menanti keberhasilan dan sabar menyampaikan kebenaran. Cabutlah rasa putus asa dan kecewa dari kamus hatimu. Dengan sabar segala kesulitan akan hilang. Dengan sabar perjuangan akan terlaksana dan dengan sabar Allah akan mencintai anda.

MAHA BENAR ALLAH DENGAN SEGALA FIRMANNYA. ( Al-Mudatsir : 2-7 )

from: Jundi

Sabtu, 06 Desember 2008

Masa Lalu...

Hari itu, sepotong episode masa lalu kembali hadir dalam benak Aisyah ra. Ketika seorang sahabat memintanya berkisah tentang apa yang paling berkesan baginya dari Rasulullah saw. Aisyah tak kuasa menahan tangis. Air matanya mengalir deras. Lalu ia berkata, "Yang manakah dari sifat Rasulullah yang tidak mengesankan? Pada suatu malam beliau datang kepadaku. Lalu ia berbaring bersamaku di tempat tidur. Hingga kulitnya menyentuh kulitku. Tiba-tiba beliau berkata, ”Wahai putri Abu Bakar, biarkan aku beribadah kepada Rabb-ku." Aku berkata, "Sungguh aku senang di dekat engkau, tetapi aku mengutamakan keinginan engkau (untuk beribadah)."

Maka, Rasulullah pun berdiri ke bak air, seraya berwudhu dengan tidak banyak menuangkan air. Kemudian berdiri shalat. Lalu menangis. Air matanya mengalir di dadanya. Kemudian beliau ruku’ dan menangis, kemudian sujud dan menangis, kemudian mengangkat kepala dan menangis. Tidak henti-hentinya beliau melakukan itu hingga Bilal mengumandangkan adzan shalat (Subuh). Maka aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang menjadikan engkau menangis, sedangkan Allah telah mengampuni dosa engkau yang lalu dan yang akan datang?” Rasulullah dengan lembut berkata, “Apakah tidak selayaknya jika aku menjadi hamba Allah yang banyak bersyukur?”

Begitulah. Kisah Aisyah di atas, tidak sekadar ungkapan haru biru dan kerinduan seorang isteri. Yang bertahun-tahun menemani suami tercintanya. Siang dan malam baginya adalah hari-hari perjuangan bersama Rasulullah. Segalanya begitu indah, meski kadang terasa melelahkan. Itu memang kisah tentang keluarga Rasulullah yang mulia. Tentang keagungan pribadi Rasul. Juga tentang kebahagiaan Aisyah mengisi hidupnya bersama manusia termulia, Rasulullah saw. Tetapi lebih dari itu, kisah Aisyah, adalah juga serangkaian makna-makna tentang bagaimana Rasulullah menyikapi masa lalu dan masa yang akan datang. Sebuah pelajaran sangat mahal bagi siapapun yang ingin mengikuti peri hidupnya dan meniti jalan kemuliaannya.

Kata kuncinya ada pada pertanyaan Aisyah, yang mencoba menghubungkan tangis-tangis deras Rasulullah dengan ampunan Allah atas dosa Rasulullah yang lalu dan yang akan datang. Mengapa engkau wahai Rasulullah mesti menangis, padahal masa lalu engkau telah ditutup dengan ampunan Allah. Padahal masa depan engkau telah diselimuti dengan ampunan Allah? Begitu kira-kira arti pertanyaan itu.

Tangis-tangis Rasulullah adalah cermin yang bening bagi kita. Tempat kita menatap jujur bayang-bayang wajah kita sendiri. Bila Rasulullah yang dosanya sudah diampuni masih terus menangis kepada Allah. Rasulullah yang masa lalunya telah bersih dan masa depannya dijamin cemerlang, masih menghadap Allah dalam tangis-tangis panjang. Bagaimana dengan kita? Bagaimana dengan diri kita yang jauh dari sempurna? Bahkan untuk mendekat ke titik sempurna pun masih sangat jauh? Bagairnana dengan kita, yang hari-hari-nya berlalu penuh bercak-bercak hitam?

Tak ada yang menolak kenyataan, betapa kita sangat perlu untuk banyak menambal dan mereparasi masa lalu kita. Kesalahan masa lalu itu ibarat utang. Bila kita tidak membayarnya, atau Allah tidak mengampuninya, maka ia akan dibayar dengan hukuman, setidaknya di akhirat kelak. Cara membayar utang itu ialah dengan memohon ampun kepada Allah dan dengan memperbanyak beramal shalih. Itu akan menjadi penghapus sekaligus pembayarnya. Allah SWT berfirman, ”Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.”(QS. Hud: 114). Sementara Rasulullah saw juga menjelaskan melalui sabdanya, ”Bertakwalah kamu di manapun kamu berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskannya. Dan bergaullah dengan manusia secara baik.”

Membayar keburukan dengan kebaikan, ibarat melapisi sisi-sisi gelap kita dengan ornamen hidup dan hiasan diri yang indah. Atau seperti hujan yang turun mendinginkan bumi yang panas. Atau seperti pewarna dinding yang keindahannya melupakan keras dan kelamnya pasir serta bebatuan di belakangnya. Seperti itulah kebaikan menghapus keburukan. Seperti itu pula ampunan Allah melebur kesalahan hamba-Nya.

Selain itu, tangis-tangis panjang Rasulullah ternyata juga tangis penghambaan sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Allah. Bahkan itu dilakukan dalam ibadah sunnah yang sangat tinggi nilainya, yaitu shalat malam. Itu sendiri juga bentuk lain dari rasa syukur. Rasulullah ingin menjadi hamba yang bersyukur, atas karunia Allah yang begitu banyak. Segala anugerah Allah -termasuk ampunan itu tidak sedikitpun menjadikan Rasulullah merasa cukup. Ia masih ingin menangis dalam jenak-jenak penghambaannya yang hening kepada Allah.

Sikap Rasulullah tersebut membekaskan pelajaran yang begitu berharga bagi kita. Bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak terjadi kecuali dengan izin Allah. Ini menjadikan kita harus memahami dimensi lain dari tangis itu. Ia adalah tangisan tauhid. Sebuah kepasrahan, keyakinan, penyerahan diri sekaligus rasa terima kasih kepada Allah, Dzat yang telah mengangkatnya menjadi manusia pilihan. Allah berkehendak, dan apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi.

Seperti itu pula semestinya cara kita menyikapi masa lalu. Ada sisi yang harus kita benahi. Tetapi tetap saja ada sisi lain yang harus kita syukuri. Begitu banyak yang telah Allah berikan kepada kita. Kita lahir dan ada, tumbuh dan besar menjadi dewasa, bisa merasakan berbagai hal dengan hati, pikiran, perasaan, juga dengan panca indera kita. Bila bergunung syukur kita haturkan, sejujurnya tak akan pernah sebanding dengan nikmat-nikmat besar itu.

Allah SWT berfirman, ”Dan Dia (Allah) telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat dzalim dan sangat mengingkari nikmat Allah.” (QS. Ibrahim: 34).

Dalam ayat yang lain Allah juga berfirman, ”Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah datangnya, dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan. (QS. An-Nahl: 53).

Tetapi kita bukan manusia pilihan. Terlalu banyak kita berbuat salah. Terlalu sering kita bertindak ceroboh. Karenanya, selain mengambil pelajaran pada dimensi syukur, sekali lagi, tangis-tangis Rasulullah harus menjadi cermin bagi dimensi lain: dimensi perbaikan. Bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Masa lalu yang baik harus kita jadikan tenaga pendorong untuk terus berlangsungnya kebaikan itu. Sementara masa lalu yang buruk harus kita taburi bunga-bunga kebaikan, pada sisa-sisa umur dan nafas kita.

Setiap kita pasti punya masa lalu, hitam maupun putih, baik maupun buruk, gelap maupun terang. Apa yang sudah terjadi tidak mungkin diubah. Apa yang telah menjadi masa lalu, tidak mungkin dihadirkan kembali dalam lembaran hidup yang baru. Karena hidup tak lebih ibarat rantai panjang. Setiap mata rantainya hanya hadir sekali dalam seluruh rentang usia kita. Waktu dan sejarah hidup yang telah pergi tidak akan kembali, kecuali sebuah kemiripan baru yang berulang dan tidak akan sama persis.

Karenanya, apa yang telah lewat dari seluruh perjalanan hidup kita, harus kita pandang dengan arif dan bijak. Hidup ini terus berjalan, di atas rel perjuangan dan jalur kompetisi yang keras. Masa lalu tidak boleh menghanyutkan diri kita. Siapa yang hari kemarinnya lebih buruk, semestinya tidak putus asa dan tenggelam dalam kegalauan duka. Sementara, siapa yang hari kemarinnya jauh lebih baik dari hari ini, jangan sampai hanya bisa bernostalgia dengan masa lalu, tanpa mau bergerak dan mencoba memperbaiki diri.

Kita tidak boleh putus asa dari rahmat Allah. Setiap kali pagi datang, hal pertama yang harus kita pancangkan adalah deklarasi kebaikan. Bahwa hari ini kita harus lebih baik dari hari kemarin. Maka tidak ada kata yang lebih penting dari ’bangkit’. Ya. Kita harus bangun, bergegas, dan bersegera membayar kesalahan-kesalahan dengan amal-amal kebajikan. Menjadi kewajiban orang-orang yang jauh dari sempurna seperti kita untuk menebus kesalahan-kesalahan masa lalu dengan tangis dan juga amal kebaikan.

Hidup ini pasti berakhir. Sepanjang apapun masa lalu kita. Dalam sisa umur yang entah masih berapa, tiada yang lebih indah dari merasakan manisnya iman, dalam paduan rasa syukur dan permohonan ampunan. Seperti tangis-tangis Rasulullah itu. Seperti indahnya kenangan Aisyah itu. Wallahu’alam

Jumat, 05 Desember 2008

Puisi Dakwah

Assalamu 'alaikum wr.wb.

Katakanlah, "Inilah jalanku, aku mengajak kalian kepada Allah dengan bashiroh, aku dan pengikut-pengikutku mahasuci Allah, dan aku bukan termasuk orang-orang yang musyrik"

Jalan dakwah panjang terbentang jauh ke depan Duri dan batu terjal selalu mengganjal, lurah dan bukit menghadangUjungnya bukan di usia, bukan pula di dunia. Tetapi Cahaya Maha Cahaya, Syurga dan Ridha Allah. Cinta adalah sumbernya, hati dan jiwa adalah rumahnyaPergilah ke hati-hati manusia ajaklah ke jalan Rabbmu. Nikmati perjalanannya, berdiskusilah dengan bahasa bijaksana. Dan jika seseorang mendapat hidayah karenamu Itu lebih baik dari dunia dan segala isinya.

Pergilah ke hati-hati manusia ajaklah ke jalan Rabbmu..

Jika engkau cinta maka dakwah adalah fahamMengerti tentang Islam, Risalah Anbiya dan warisan ulama Hendaknya engkau fanatis dan bangga dengannyaSeperti Mughirah bin Syu'bah di hadapan Rustum Panglima Kisra

Jika engkau cinta maka dakwah adalah ikhlasMenghiasi hati, memotivasi jiwa untuk berkarya. Seperti Kata Abul Anbiya, "Sesungguhnya sholatku ibadahku, hidupku dan matiku semata bagi Rabb semesta"Berikan hatimu untuk Dia, katakan "Allahu ghayatuna"

Jika engkau cinta maka dakwah adalah amal membangun kejayaan ummat kapan saja dimana saja beradayang bernilai adalah kerja bukan semata ilmu apalagi lamunanSasarannya adalah perbaikan dan perubahan, al ishlah wa taghyir. Dari diri pribadi, keluarga, masyarakat hingga negaraBangun aktifitas secara tertib tuk mencapai kejayaan

Jika engkau cinta maka dakwah adalah jihad Sungguh-sungguh di medan perjuangan melawan kebatilan. Tinggikan kalimat Allah rendahkan ocehan syaitan durjanaKerjakeras tak kenal lelah adalah rumusnya, Tinggalkan kemalasan, lamban, dan berpangkutangan

Jika engkau cinta maka dakwah adalah taat. Kepada Allah dan Rasul, Alqur-an dan Sunnahnya serta orang-orang bertaqwa yang adalah wujud syukurmu kepada hidayah Allah karenanya nikmat akan bertambah melimpah penuh berkah

Jika engkau cinta maka dakwah adalah tadhhiyah, Bukti kesetiaan dan kesiapan memberi, pantang memintaBersedialah banyak kehilangan dengan sedikit menerima. Karena yang disisi Allah lebih mulia, sedang di sisimu fana belakaSedangkan tiap tetes keringat berpahala lipat ganda

Jika engkau cinta maka dakwah adalah tsabat, Hati dan jiwa yang tegar walau banyak rintangan. Buah dari sabar meniti jalan, teguh dalam barisanIstiqomah dalam perjuangan dengan kaki tak tergoyahkan. Berjalan lempang jauh dari penyimpangan

Jika engkau cinta maka dakwah adalah tajarrud Ikhlas di setiap langkah menggapai satu tujuanPadukan seluruh potensimu libatkan dalam jalan ini, Engkau da'i sebelum apapun adanya engkau. Dakwah tugas utamamu sedang lainnya hanya selingan

Jika engkau cinta maka dakwah adalah tsiqoh. Kepercayaan yang dilandasi iman suci penuh keyakinanKepada Allah, Rasul, Islam, Qiyadah dan Junudnya. Hilangkan keraguan dan pastikan kejujurannya.Karena inilah kafilah kebenaran yang penuh berkah

Jika engkau cinta maka dakwah adalah ukhuwwahLekatnya ikatan hati berjalin dalam nilai-nilai persaudaraan. Bersaudaralah dengan muslimin sedunia, utamanya mukmin mujahidin. Lapang dada merupakan syarat terendahnya , itsar bentuk tertingginya.
Dan Allah yang mengetahui menghimpun hati-hati para daie dalam cinta-Nyaberjumpa karena taat kepada-Nya. Melebur satu dalam dakwah ke jalan Allah, saling berjanji untuk menolong syariat-Nya
 

Site Info

Followers

Tidak Ada Dien Yang Diridhai Allah Selain Islam Copyright © 2010 HN-newby L-F is Designed by ri-cka
In Collaboration with smooTBuuz