Rabu, 25 Maret 2009

Telunjuk yang Bersyahadat




Ulama, da’i, serta para penyeru Islam yang mempersembahkan nyawanya di Jalan Allah, atas dasar ikhlas kepadaNya, senantiasa ditempatkan Allah sangat tinggi dan mulia di hati segenap manusia.

Di antara da’i dan penyeru Islam itu adalah Syuhada (insya Allah) Sayyid Qutb. Bahkan peristiwa eksekusi matinya yang dilakukan dengan cara digantung, memberikan kesan mendalam dan menggetarkan bagi siapa saja yang mengenal Beliau atau menyaksikan sikapnya yang teguh. Di antara mereka yang begitu tergetar dengan sosok mulia ini adalah dua orang polisi yang menyaksikan eksekusi matinya (di tahun 1966).

Salah seorang polisi itu mengetengahkan kisahnya kepada kita:

Ada banyak peristiwa yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya, lalu peristiwa itu menghantam kami dan merubah total kehidupan kami.

Di penjara militer pada saat itu, setiap malam kami menerima orang atau sekelompok orang, laki-laki atau perempuan, tua maupun muda. Setiap orang-orang itu tiba, atasan kami menyampaikan bahwa orang-orang itu adalah para pengkhianat negara yang telah bekerja sama dengan agen Zionis Yahudi. Karena itu, dengan cara apapun kami harus bias mengorek rahasia dari mereka. Kami harus dapat membuat mereka membuka mulut dengan cara apapun, meski itu harus dengan menimpakan siksaan keji pada mereka tanpa pandang bulu.

Jika tubuh mereka penuh dengan berbagai luka akibat pukulan dan cambukan, itu sesuatu pemandangan harian yang biasa. Kami melaksanakan tugas itu dengan satu keyakinan kuat bahwa kami tengah melaksanakan tugas mulia: menyelamatkan negara dan melindungi masyarakat dari para “pengkhianat keji” yang telah bekerja sama dengan Yahudi hina.

Begitulah, hingga kami menyaksikan berbagai peristiwa yang tidak dapat kami mengerti. Kami mempersaksikan para ‘pengkhianat’ ini sentiasa menjaga shalat mereka, bahkan sentiasa berusaha menjaga dengan teguh qiyamullail setiap malam, dalam keadaan apapun. Ketika ayunan pukulan dan cabikan cambuk memecahkan daging mereka, mereka tidak berhenti untuk mengingat Allah. Lisan mereka sentiasa berdzikir walau tengah menghadapi siksaan yang berat.

Beberapa di antara mereka berpulang menghadap Allah sementar ayunan cambuk tengah mendera tubuh mereka, atau ketika sekawanan anjing lapar merobek daging punggung mereka. Tetapi dalam kondisi mencekam itu, mereka menghadapi maut dengan senyum di bibir, dan lisan yang selalu basah mengingat nama Allah.

Perlahan, kami mulai ragu, apakah benar orang-orang ini adalah sekawanan ‘penjahat keji’ dan ‘pengkhianat’? Bagaimana mungkin orang-orang yang teguh dalam menjalankan perintah agamanya adalah orang yang berkolaborasi dengan musuh Allah?

Maka kami, aku dan temanku yang sama-sama bertugas di kepolisian ini, secara rahasia menyepakati, untuk sedapat mungkin berusaha tidak menyakiti orang-orang ini, serta memberikan mereka bantuan apa saja yang dapat kami lakukan. Dengan ijin Allah, tugas saya di penjara militer tersebut tidak berlangsung lama. Penugasan kami yang terakhir di penjara itu adalah menjaga sebuah sel di mana di dalamnya dipenjara seseorang. Kami diberi tahu bahwa orang ini adalah yang paling berbahaya dari kumpulan ‘pengkhianat’ itu. Orang ini adalah pemimpin dan perencana seluruh makar jahat mereka. Namanya Sayyid Qutb.

Orang ini agaknya telah mengalami siksaan sangat berat hingga ia tidak mampu lagi untuk berdiri. Mereka harus menyeretnya ke Pengadilan Militer ketika ia akan disidangkan. Suatu malam, keputusan telah sampai untuknya, ia harus dieksekusi mati dengan cara digantung.

Malam itu seorang sheikh dibawa menemuinya, untuk mentalqin dan mengingatkannya kepada Allah, sebelum dieksekusi.

(Sheikh itu berkata, “Wahai Sayyid, ucapkanlah Laa ilaha illa Allah…”. Sayyid Qutb hanya tersenyum lalu berkata, “Sampai juga engkau wahai Sheikh, menyempurnakan seluruh sandiwara ini? Ketahuilah, kami mati dan mengorbankan diri demi membela dan meninggikan kalimat Laa ilaha illa Allah, sementara engkau mencari makan dengan Laa ilaha illa Allah”. Pent)

Dini hari esoknya, kami, aku dan temanku, menuntun dan tangannya dan membawanya ke sebuah mobil tertutup, di mana di dalamnya telah ada beberapa tahanan lainnya yang juga akan dieksekusi. Beberapa saat kemudian, mobil penjara itu berangkat ke tempat eksekusi, dikawal oleh beberapa mobil militer yang membawa kawanan tentara bersenjata lengkap.

Begitu tiba di tempat eksekusi, tiap tentara menempati posisinya dengan senjata siap. Para perwira militer telah menyiapkan segala hal termasuk memasang instalasi tiang gantung untuk setiap tahanan. Seorang tentara eksekutor mengalungkan tali gantung ke leher Beliau dan para tahanan lain. Setelah semua siap, seluruh petugas bersiap menunggu perintah eksekusi.

Di tengah suasana ‘maut’ yang begitu mencekam dan menggoncangkan jiwa itu, aku menyaksikan peristiwa yang mengharukan dan mengagumkan. Ketika tali gantung telah mengikat leher mereka, masing-masing saling bertausiyah kepada saudaranya, untuk tetap tsabat dan shabr, serta menyampaikan kabar gembira, saling berjanji untuk bertemu di Surga, bersama dengan Rasulullah tercinta dan para Shahabat. Tausiyah ini kemudian diakhiri dengan pekikan, “ALLAHU AKBAR WA LILLAHIL HAMD!” Aku tergetar mendengarnya.

Di saat yang genting itu, kami mendengar bunyi mobil datang. Gerbang ruangan dibuka dan seorang pejabat militer tingkat tinggi datang dengan tergesa-gesa sembari memberi komando agar pelaksanaan eksekusi ditunda.

Perwira tinggi itu mendekati Sayyid Qutb, lalu memerintahkan agar tali gantungan dilepaskan dan tutup mata dibuka. Perwira itu kemudian menyampaikan kata-kata dengan bibir bergetar, “Saudaraku Sayyid, aku datang bersegera menghadap Anda, dengan membawa kabar gembira dan pengampunan dari Presiden kita yang sangat pengasih. Anda hanya perlu menulis satu kalimat saja sehingga Anda dan seluruh teman-teman Anda akan diampuni”.

Perwira itu tidak membuang-buang waktu, ia segera mengeluarkan sebuah notes kecil dari saku bajunya dan sebuah pulpen, lalu berkata, “Tulislah Saudaraku, satu kalimat saja… Aku bersalah dan aku minta maaf…”

(Hal serupa pernah terjadi ketika Ustadz Sayyid Qutb dipenjara, lalu datanglah saudarinya Aminah Qutb sembari membawa pesan dari rejim thowaghit Mesir, meminta agar Sayyid Qutb sekedar mengajukan permohonan maaf secara tertulis kepada Presiden Jamal Abdul Naser, maka ia akan diampuni. Sayyid Qutb mengucapkan kata-katanya yang terkenal, “Telunjuk yang sentiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalatnya, menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukan atau menyerah kepada rejim thowaghit…”. Pent)

Sayyid Qutb menatap perwira itu dengan matanya yang bening. Satu senyum tersungging di bibirnya. Lalu dengan sangat berwibawa Beliau berkata, “Tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah bersedia menukar kehidupan dunia yang fana ini dengan Akhirat yang abadi”.

Perwira itu berkata, dengan nada suara bergetar karena rasa sedih yang mencekam, “Tetapi Sayyid, itu artinya kematian…”

Ustadz Sayyid Qutb berkata tenang, “Selamat datang kematian di Jalan Allah… Sungguh Allah Maha Besar!”

Aku menyaksikan seluruh episode ini, dan tidak mampu berkata apa-apa. Kami menyaksikan gunung menjulang yang kokoh berdiri mempertahankan iman dan keyakinan. Dialog itu tidak dilanjutkan, dan sang perwira memberi tanda eksekusi untuk dilanjutkan.

Segera, para eksekutor akan menekan tuas, dan tubuh Sayyid Qutb beserta kawan-kawannya akan menggantung. Lisan semua mereka yang akan menjalani eksekusi itu mengucapkan sesuatu yang tidak akan pernah kami lupakan untuk selama-lamanya… Mereka mengucapkan, “Laa ilaha illah Allah, Muhammad Rasulullah…”

Sejak hari itu, aku berjanji kepada diriku untuk bertobat, takut kepada Allah, dan berusaha menjadi hambaNya yang sholeh. Aku sentiasa berdoa kepada Allah agar Dia mengampuni dosa-dosaku, serta menjaga diriku di dalam iman hingga akhir hayatku.

Diambil dari kumpulan kisah: “Mereka yang kembali kepada Allah”
Oleh: Muhammad Abdul Aziz Al Musnad
Diterjemahkan oleh Dr. Muhammad Amin Taufiq.

Mencermati Aliran-Aliran Sesat -Berdasarkan Al Quran dan Al Sunnah-


Pengantar: KH. DR. Miftah Faridl (Ketua MUI Bandung)
--------------------------------------

Saling menuduh sesat tidak asing lagi di kalangan umat Islam, etrutama aktifis dakwah. Hal ini akibat dari perpecahan. Mengapa mereka berpecah belah? Apabila sesama muslim saling menuduh sesat, siapa hakim yang menentukan kelompok mana yang sesat dan tidak sesat? Apa ukuran suatu kelompok disebut sesat?

Buku ini mengupas tuntas kelompok mana yang sebenarnya dikatakan sesat. Karena dalam buku ini dibahas secara tuntas standar atau ukuran kesesatan seseorang atau kelompok berdasarkan Al Quran dan AL Sunnah. Mungkin saja kelompok atau institusi yang gencar menuduh sesat yang sebenarnya sesat, karena didasari berbagai kepentingan. Atau sebaliknya, kelompok yang dituduh sesat ternyata adalah kelompok yang "mendapat petunjuk".

Isinya mencakup standar dan ukuran kebenaran, kriteria "jalan yang lurus", kriteria aliran sesat dalam bidang akidah, syariah maupun ijtihad. Organisasi atau jama`ah sesat menurut al Quran beserta kelompok aliran sesat dalam Islam (munafiq, fasiq, musyrikin dll). Tidak lupa membahas pula kriteria organisasi Jalan Yang Lurus berdasarkan tujuan, azas/landasan idiil-operasional, legitimasi, serta konsekuensinya.

Break a Leg!!!! Buku yang sangat bagus, dan sangat berbeda penyampaiannya bila dibandingkan dengan buku sejenis yang pernah saya baca (Virus-virus Syariat, ArRahmah Media dan WAMY) tapi sayang buku ini tidak dijual bebas :D

Jumat, 06 Maret 2009

10 Hal Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Propaganda

1 - Menyajikan fakta (kebenaran) bukan berarti terlepas dari yang namanya propaganda; propaganda berkembang pesat dalam menyajikan berbagai jenis kebenaran, termasuk fakta yang hanya mengandung setengah kebenaran, fakta yg sama sekali tidak benar, fakta yang terbatas, lepas dari konteks kebenaran itu sendiri. Propaganda modern yang paling efektif adalah ketika propaganda tersebut menyajikan informasi seakurat mungkin. Menyajikan Kedustaan yang besar atau Kebohongan Tinggi merupakan bentuk propaganda yang paling tidak efektif.

2 - Propaganda tidaklah begitu banyak didesign untuk mengubah pendapat sebanyak sebagaimana ia didesign untuk memperkuat pendapat, prasangka dan sikap yang ada. Propaganda yang paling berhasil adalah propaganda yang akan mendorong manusia untuk beraksi atau sebaliknya memperkuat sesuatu yang tadinya sudah diyakini oleh manusia sebagai kebenaran, kemudian dijadikan sedemikian hingga orang itu tidak lagi mempercayai kebenaran tersebut dan menjadikannya malas melakukan kebenaran yang sebelumnya telah ia yakini.

3 - Pendidikan tidaklah memerlukan perlindungan maksimal melawan propaganda. Para cendikiawan dan mereka "yang berpendidikan" merupakan komponen yang paling ringkih terhadap kampanye propaganda, karena mereka:

1. cenderung menyerap kebanyakan informasi (termasuk informasi dari tangan kedua, kabar dari orang, desas-desus, dan informasi yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya);
2. terpaksa memiliki pendapat atas hal-hal yang terjadi pada suatu hari tertentu dan hingga dengan begitu mereka mengekspos pendapatnya sendiri lebih daripada pendapat-pendapat orang lain dan mengkampanyekan propaganda; dan
3. menganggap diri mereka sendiri bebas dari pengaruh propaganda, dengan cara demikian mereka telah membuat diri mereka sendiri lebih rentan terhadap propaganda.


4 - Apa yang membuat penelitian mengenai propaganda menjadi demikian meragukan adalah bahwa secara umum hal tersebut dianggap sebagai penelitian sisi yang lebih gelap dari sifat kami; penelitian mengenai kejahatan mereka lawan sisi baik kami. Mereka yang kami pertimbangkan sebagai kejahatan yang berkembang pesat dalam propaganda, sementara kami hanya menyebarkan kebenaran saja. Cara terbaik untuk mempelajari propaganda adalah dengan memisahkan pertimbangan-pertimbangan etis seseorang dari fenomena gejala itu sendiri. Propaganda berkembang pesat dan eksis, demi kepentingan etis dan tidak etis.

5 - Propaganda mencoba mengubah pendapat umum, khususnya untuk menjadikan orang agar menyesuaikan diri terhadap sudut pandang propagandis. Dalam segi ini, propaganda manapun merupakan suatu bentuk manipulasi, untuk merubah aktivitas individu menjadi aktivitas khusus.

6 - Bentuk-bentuk komunikasi Modern, termasuk media massa, merupakan alat-alat propaganda. Tanpa pemusatan monopoli media massa, bisa dipastikan tidak ada terjadi propaganda modern. Untuk propaganda agar berkembang pesat, media harus tetap terpusat, kantor berita dan layanannya harus dibatasi, pers harus berada di bawah pimpinan pusat, dan radio, film, dan monopoli televisi harus meliputi semuanya.

7 - Setiap orang harus peduli terhadap yang namanya propaganda, keterbatasannya, kekuatannya, pengaruhnya, dan kualitas persuasifnya, manakala seseorang menguasainya. Dengan mengatakan bahwa "seseorang bebas dari pengaruh propaganda" justru itu merupakan suatu tanda pasti bahwa propaganda tersebut telah tersebar dalam masyarakat.

8 - Propaganda Modern bermula di negara berhukum thoghut Amerika Serikat pada awal Abad 20-an. Selama Perang Dunia I, media massa diintegrasikan dengan metode hubungan masyarakat dan periklanan demi mengadvokasi dan membiayai bantuan untuk perang. Dewan Kembu mendirikan kampanye humas Amerika pertama untuk menyebarkan dan menebarkan ajaran injil dengan cara Amerika ke seluruh penjuru bola dunia.

9 - Di Negara thoghut Amerika Serikat, propaganda komersial pribadi merupakan hal yang sama pentingnya dengan gagasan demokrasi propaganda pemerintah. Iklan komersial menarik perhatian orang-orang melalui periklanan, yang merangsang fantasi dan dorongan hati yang tidak masuk akal, merupakan beberapa bentuk propaganda yang paling tersebar dalam keberadaannya hari ini.

10 - Propaganda dalam suatu sistem kuffar demokrasi memperlihatkan fakta dalam pengertian bahwa propaganda tersebut menciptakan "pengikut sejati" yang secara ideologi terikat dengan perkembangan demokrasi tersebut sebagaimana lainnya yang terikat secara ideologi atas kontrolnya. Pengabadian sistem kuffar demokrasi dan keyakinan ideal dalam menghadapi kekuatan yang terpusat dalam institusi-institusi propaganda (baik itu media maupun institusi-institusi politik) merupakan suatu bentuk kemenangan propaganda busuk yang terjadi dalam masyarakat modern Amerika (ص'l).


Artikel ini disusun oleh Nancy Snow, Ph.D. (Jacques Ellul, Propaganda) yang kemudian diterjemahkan secara bebas tanpa mengurangi makna yg sebenarnya.

Sumber: Theunjustmedia

20 Tahun Hengkangnya Sovyet Dari Afghanistan

"Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh."(Al-Anbiya' 21:105)

Bismillahirrohmanirrohim



Imarah Islam Afghanistan-Taliban
20 Tahun Hengkangnya Sovyet Dari Afghanistan
15 Februari 2009 M

"Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh."(Al-Anbiya' 21:105)

20 tahun yang lalu, 26 Dzul Qa'dah 1367 H bertepatan 15 Februari 1989 M, Rusia dipaksa keluar dan lari terbirit-birit dari bumi Afghanistan.

Pasukan Rusia yang dipersenjatai dengan berbagai jenis senjata modern kala itu, jatuh di tangan penduduk Afghanistan dan tak satupun kemenangan yang mereka raih dalam penjajahan yang mereka lakukan selama 10 tahun. Bahkan mereka mendapatkan kematian, luka dan hilangnya puluhan ribu tentara. Ribuan kendaraan tempur hancur. Mereka mengalami kerugian dana hingga trilyunan dolar. Itu semua adalah akhir kisah cerita sang adidaya nun perkasa yang tertipu yang dahulu kala dikenal dengan nama Uni Sovyet.

Dengan hengkangnya pasukan Uni Sovyet dari Afghanistan maka hancurlah kekaisaran Rusia. Bangsa-bangsa yang berada di bawah pemerintahannya mulai melepaskan diri dan merdeka. Robohlah pakta Warsawa dan Tembok Berlin.

Perjuangan jihad penduduk mujahid Afghan melawan Sovyet menyelamatkan dunia dari kejahatan komunisme. Dulu Sovyet tidak hanya semata menjajah Afghanistan, tapi dengan melakukan penjajahan di negeri ini mereka menginginkan air hangat di laut India, dan dari sana mereka akan melakukan perluasan/ekspansi terhadap lawan-lawan mereka.

Tapi dengan kurnia Allah dan disusul dengan keutamaan jihad Afghan yang suci, Uni Sovyet tidak hanya gagal menjajah Afghanistan, bahkan kekaisaran merah mereka berakhir di jantung Kremlin dan ideologi komunis menjadi hina, menjadi bahan tertawaan di seluruh dunia.

Dan dari keberkahan jihad Afghanistan dalam menghancurkan kekuatan komunis yang merajalela, maka giliran Amerika menjadi satu-satunya super power di dunia. Tapi sayangnya Amerika tidak memanfaatkan momen ini untuk kepentingan mereka dan dunia menuju hal positif, tapi justru mereka berjalan berlawanan dengan hal tersebut dengan meniti langkah Uni Sovyet dalam rangka politik ekspansi barat di seluruh dunia.

Dimulai dengan kejahatan dan pembantaian masal kaum muslimin di seluruh pelosok dunia. Mereka tidak memberikan hak hidup merdeka bagi seorang pun tanpa seizin mereka. Sampai mereka melakukan serangan brutal dan kejam terhadap Imarah Islam Afghanistan berlandaskan politik diktator mereka yang bertentangan dengan seluruh peraturan-peraturan dan norma-norma standar nasional dan internasional. Sebagaimana halnya dengan Sovyet, mereka juga melakukan pembakaran terhadap rakyat Afghanistan yang terdhalimi dalam kobaran-kobaran api. Rakyat yang semestinya mendapatkan penghormatan layaknya pahlawan.

Sebagaimana sitiran penduduk Afghanistan : "Sarang rajawali tidak akan kosong dari rajawali", maka di rumah-rumah rajawali itu terdapat rajawali lainnya yang akan merobek tulang belulang para penjajah Amerika yang tertipu dengan anti-peluru baja mereka sebaimana merobek tulang belulang tentara Sovyet dan yang sebelum mereka tentara kafir Inggris.

Imarah Islam Afghanistan di saat yang bersejarah dan membanggakan ini, bagi rakyat Afghanistan khususnya dan bagi umat islam umumnya, memanggil mereka lagi untuk menjaga parit-parit jihad yang suci untuk mempertahankan diri dari serangan Amerika dan sekutunya. Dan menyeru mereka agar berkonsentrasi pada persatuan dan kesatuan barisan jihad diantara mereka. Dan jangan pernah puas dan cukup kecuali dengan kemerdekaan penuh untuk negeri Islam Afghanistan dari penjajahan salibis Amerika.

Imarah Islam Afghanistan juga mengumumkan dalam perkataan yang jelas dan gamblang, pernyataan yang selalu diulang, pesan kepada para penanggung jawab Amerika yang tertipu; Agar mereka menarik seluruh pasukan penjajah dari negeri jihad Afghanistan sebelum mereka menemui nasib yang sama sebagaimana nasib Sovyet. Agar mereka mengambil pelajaran dari akhir kisah menyedihkan dan menghinakan Sovyet dengan menghentikan ekperimen kekuatan di bumi Afghanistan. Agar mereka mengerjakan hal-hal logis dan berpengetahuan untuk menemukan solusi seluruh persoalan. Bukan berdasar kepandiran dan keras kepala. Tak butuh waktu lama mulai dari sekarang bagi Amerika koboi untuk bangun dan menyelamatkan rakyat dan pemerintahannya dengan menarik prajuritnya, yang telah kehilangan semangat, dari Afghanistan.

Masa berlalu dan tak menyadarkan seorang pun. Hilangnya kesempatan yang tepat seperti ini tidak akan memberikan ketentraman dan kesenangan apa pun bagi pemerintahan Amerika melainkan derita dan penyesalan.

Wassalaam

Imarah Islam Afghanistan


Dan jika dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan." (Al-Baqarah 2:11)
Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (Al-Baqarah 2:12)


http://www.arrahmah.com/index.php/blog/read/3400/20-tahun-hengkangnya-sovyet-dari-afghanistan

Semakin kami disuruh melupakan syari’ah, khilafah dan jihad, semakin Muslim akan membayar dengan darah untuk menegakkan nilai-nilai itu

Ceramah Yvonne Ridley* di Global Peace & Unity Conference 2006, London 30-11-2006

Awalnya saya ingin mempersembahkan pidato saya di Global Peace and Unity Conference ini kepada Imam Anwar Al-Awlaki-seorang ulama terkemuka dan dihormati di komunitas Muslim berbahasa Inggris – yang ditahan di Yaman dua bulan yang lalu.

Namun, saya juga harus berterima kasih kepada saudara Fahad Ansari dari Islamic Human Rights Commission, penulis artikel “God Save The Deen”, yang menginspirasi saya menulis ceramah ini. Sebagian besar isi ceramah ini terinspirasi oleh tulisannya itu.

Keislaman saya masih amat belia, karena saya baru menjadi muslimah pada 2003 – dan meskipun masih banyak yang harus saya pelajari, saya dapat merasakan frustasi yang dirasakan umat muslim pada saat ini. Saya tahu serangan 11 September berdampak luar biasa besar pada dunia, tapi itu bukan suatu awal … itu adalah kelanjutan dari warisan imperalisme AS dan ketakutannya terhadap Islam.

Sekitar 10 tahun yang lalu, para pemuda Muslim dari berbagai belahan dunia membanjiri Bosnia untuk membantu saudara-saudara mereka berjuang mempertahankan diri menghadapi Serbia yang melancarkan genosida, sementara dunia hanya berdiam diri menontonnya. Jihad menyatukan Muslim dari segala kebangsaan, status, dan kultur. Semua disatukan, bahkan mereka yang tidak bisa berangkat untuk berperang berusaha mengulurkan bantuan dalam berbagai bentuk lain seperti penggalangan dana, penyelenggaraan acara penyadaran masyarakat, dan demonstrasi.

Hasilnya, umat Muslim berhasil mematahkan usaha genosida. Dunia Barat baru melakukan intervensi setelah tampak jelas bahwa Muslim Bosnia akan meraih kemenangan. Mereka tidak bisa menerima berdirinya sebuah negera Islam di jantung Eropa, sehingga mereka pun mengitervensi. Ini buka semata-mata kesimpulan saya, tapi mantan Presiden Bill Clinton pun mengakuinya dalam autobiografinya.

Ketakuan terhadap Islam telah berkembang selama 10 tahun belakangan, sehingga darah saudara-saudara kami kini mengalir bagaikan sugai-sungai yang melintasi Chechnya, Kashmir, Palestina, Afganistan, Irak, dan baru-baru ini kita semua menyaksikan apa yang terjadi di Lebanon. Saya pernah mendatangi banyak dari ladang-ladang pembantaian ini dan izinkan saya mengatakan kepada Anda bahwa tubuh-tubuh rusak, meledak berkeping-keping dari saudara-saudara Muslim kami sama persis dengan tubuh-tubuh yang tersebar pada hari ini sangat jelas: darah Muslim adalah komoditas murah.

Sementara itu, puluhan ribu Muslim tak bersalah masih disiksa di tempat-tempat terpencil seperti Teluk Guantanamo, Bandara Bagram di Afganistan, Abu Gharib, Diego Garcia, dan penjara-penjara rahasia di berbagai penjuru dunia.

Sementara itu, di penjara-penjara bawah tanah di Suriah, Yordania, Maroko, Tunisia, Algeria, Mesir … saudara-saudara kami disiksa atas prakarsa dan tuntutan pemerintah AS. Dan saya yakin pemerintah Inggris pun terlibat dalam hal ini … Para pejabat intelejen Inggris tidak lama lagi akan dipermalukan karena keterlibatan mereka.

Bahkan sampai sekarang, masih ada 9 warga negara Inggris yang ditahan di Guantanamo – orang-orang Amerika tidak menginginkan mereka, tapi pemerintah Inggris juga tidak mau menerima mereka. Meskipun Departemen Luar Negeri memberikan berbagai dalih, sebenarnya mereka hanya perlu menelepon untuk meminta pembebasan saudara kami itu. Dan jangan pikir hanya laki-laki yang disekap dan disiksa – Moazzam bisa mendengan jeritan seorang perempuan di sel penyiksaan di Afganistan tempat dia ditahan oleh Amerika.

Temuilah Moazzam Begg di stan Cage Prisoners hari ini dan tanyakan kepadanya, apa yang bisa Anda lakukan untuk membantu. Karena kita bisa membantu. Hampir tak ada tahanan yang dibebaskan berkat proses pengadilan, melalui tekanan politik … yaitu ketika pemerintah turut campur tangan.

Anda yang hadir hari ini bisa membuat perubahan. Jangan hanya duduk di sini dan memendam kegeramam – beraksilah. Tekanlah para politisi Anda dan ingatkan mereka bahwa Andalah tuan-tuan mereka.

Dalam surah Al-Áshr, Allah menyatakan bahwa seluruh umat manusia, termasuk Muslim, berada dalam kerugian; kecuali mereka yang BERIMAN, MELAKUKAN AMAL KEBAIKAN, dan SALING MENGINGATKAN TENTANG KEBENARAN DAN KESABARAN. Hanya dengan memenuhi 4 kriteria ini, kita akan dapat berjumpa dengan Tuhan. Namun, jika kita membenamkan kepala kita di pasir dan berpura-pura tidak ada penindasan di dunia, dan penderitaan saudara-saudara kita itu tak berarti apa pun bagi kita, maka mungkin kita tidak akan bisa berjumpa dengan-Nya.

Bahkan Ken McDonald, jaksa di Inggris, merasa jijik dengan tindakan-tindakan pemerintah – ia menyerang dengan sengit apa yang disebut “pengadilan-pengadilan rahasia“.

Pengadilan-pengadilan itu mengadili tersangka terorisme yang tidak diizinkan melihat bukti-bukti yang memberatkan mereka. Itu sungguh suatu penghinaan terhadap keadilan.

Dalam sebuah wawancara eksklusif denga Islam Channel News, dia berkomentar: “Kita harus menegaskan bahwa prinsip-prinsip ini tidak bisa ditawar-tawar. Dalam tekanan politik apa pun, dalam iklim apa pun, prinsip-prinsip ini adalah hakikat dari keadilan: persidangan yang terbuka dan dilakukan di hadapan pengadilan yang independen dan netral.

“Kita tidak menginginkan pengadilan-pengadilan rahasia, kita tidak menginginkan hakim yang dipilih secara rahasia, kita tidak menginginkan keadilan rahasia. Pengadilan yang berimbang; fairness di antara penuntut dan pembela tidak bisa ditawar-tawar; hak mendapat keterangan lengkap tentang kasus yang dituduhkan Negara terhadap Anda tidak bisa ditawar-tawar.

“Pembela berhak mengetahui tuduhan yang dihadapinya, dan mereka berhak mendapatkan bahan-bahan yang dimiliki Negara, termasuk yang merugikan tuduhan Negara atau menguntungkan tertuduh. Hak naik banding tidak bisa ditawar-tawar.

”Dan asas praduga tak bersalah, standar pembuktian kejahatan – yang melampaui keraguan-keraguan yang masuk akal – dengan tanggung jawab pembuktian terletak di pundak Negara, tak satu pun dari prinsip-prinsip ini bisa ditawar-tawar.”

Dan tentu saja ia benar – tapi Tony Blair berkata bahwa Muslim harus berhenti memiliki mentalitas korban. Namun, kalau kepala kejaksaan saja mengeluh, tentu kami punya alasan kuat.

Coba bayangkan, apa tanggapan anak-anak muda Muslim atas semua ini? Mereka membaca kisah-kisah kepahlawanan Salahuddin Al-Ayyubi, Khalid bin Walid, Tariq bin Ziad, dan menyimak kisah-kisah keberanian dan keperwiraan Nabi Muhammad saw, yang amat kami cintai. Tahukan Anda, 5 tahun lalu, saya sama sekali tidak tahu siapa Nabi saw itu. Namun, sekarang saya bersedia mengorbankan tetes darah terakhir saya untuk membela nama, kehormatan dan kenangan tentang beliau. Bahkan setelah wafat, beliau menunjukkan dirinya mampu menyatukan Ummah dalam protes terhadap karikatur jahat dari Denmark itu.

Pahlawan-pahlawan modern kami mencakup Malcolm X dan Sayyid Qutb, yang tulisan keduanya membantu saya mendefinisikan diri sebagai Muslim.

Mereka menjadi semacam role model yang diikuti anak-anak muda kami. Namun, mereka malah menerima informasi-informasi yang simpang siur dan membingungkan. Blair mencoba melarang Milestones (Buku karangan Sayyid Qutb) – ia diberi tahu bahwa Usamah bin Ladin membaca buku itu … Well, Usamah juga membaca Shakespeare. Apakah kita juga harus melarang Tweifth Nightm Hamlet, dan karya-karya klasiknya yang lain? Satu menit, anak-anak muda kami diberi tahu untuk hanya takut kepada Alla SWT, tapi menit berikutnya, mereka diberitahu untuk “melunakkan“ Islam mereka dan menunjukkan kepala dengan patuh.

Sejak peristiwa 11 September, diluncurkan kampanye gencar untuk mengubah Islam menjadi sesuatu yang lebih sesuai dengan menyuarakan Barat. Tujuannya adalah menciptakan satu Islam yang sekuler dan kultural yang rukun dengan dunia karena ia tunduk kepada penindas-penindasnya, bukannya kepada Allah; sebuah Islam tanpa jihad, syariah dan khilafah – hal-hal yang diperintahkan Allah kepada kami untuk menjalankannya, demi tegaknya din Allah di muka Bumi.

Dan upaya-upaya ini tampak di mana pun saya mengarahkan pandangan. Hijab direnggut dari kepala saudari-saudari kami di Tunisia, Prancis, dan Turki. Saudari-saudari kami di Belanda dan Jerman juga menjadi sasaran. Dan di Inggris, ada Jack Straw, mantan Menteri Luar Negeri Inggris yang mempermasalahkan Jilbab – dia mungkin tidak suka niqab, tapi saya berharap ia memakainya, ditambah sebuah berangus yang besar. Saya tidak membutuhkan laki-laki kulit putih setengah baya untuk memberi tahu saya atau saudari-saudari saya bagaimana kami harus berpakaian. Nikab, seperti jilbab, seperti hijab menjadi simbol penolakan terhadap gaya hidup Barat yang negatif seperti penggunaan obat-obatan terlarang, mabuk-mabukkan, dan seks bebas. Sikap tersebut adalah pernyataan kepada Barat bahwa kami tidak mau menjadi seperti dirimu.

Muslim yang memilih menjadi lebih kebarat-baratan ketimbang orang Barat sendiri membuat saya tertawa – tidak sadarkah mereka bahwa tampak konyol di mata dunia? Mereka bersembunyi di balik deskripsi-deskripsi semacam moderat – lagi-lagi, pesan apakah yang ingin disampakan kepada anak-anak muda kami? Jika kita meminta mereka untuk menjadi moderat, tidakkah itu menyiratkan bahwa ada sesuatu yang salah dengan Islam yang perlu dilunakkan, dijinakkan?

Apa itu moderat dan apa itu ekstremis? Saya tidak tahu. Saya hanya seorang Muslim. Saya tidak mengikuti ulama atau aliran mana pun … saya hanya mengikuti Nabi saw. Dan Sunnahnya. Apakah itu membuat saya menjadi seorang ekstremis? Saya tidak yakin Tony Blair memahami dirinya sendiri – saya menulis surat kepadanya tiga bulan yang lalu dan sampai sekarang saya masih menunggu balasannya. Menjadi Muslim itu agak mirip dengan mengandung. Pernahkah mendengar ada orang yang mengandung dengan moderat?

Islam telah diserang selama 1.400 tahun dan kami sekarang sudah belajar untuk hanya bergantung kepada Allah. Namun, masih ada Muslim yang mencium tangan yang menampar mereka. Saya khawatir bahwa kita tak lagi bisa memercayai seseorang hanya karena mengenakan busana Islami. Ada pemimpin-pemimpin Muslim yang mengklaim bahwa mereka membimbing dan melindungi kami, tapi tidak semuanya memikirkan kepentingan kami. Generasi muda kami harus sangat hati-hati sejak peristiwa 11 September dan Bom London 7 Juli. Kami harus memberi tahu generasi muda kami bahwa apa yang terjadi di Palestina, kashmir, Chechnya, Irak dan Afganistan adalah perlawanan yang dibenarkan terhadap pendudukan militer yang brutal, sedangkan kejahatan-kejahatan seperti 11 September dan Bom London adalah terorisme. Menyamakan keduanya berarti mengkhianati saudara-saudara kami yang tak punya pilihan selain melawan atau terhapus dari muka planet ini.

Hamba-hamba baru Dunia Barat menghujat partai-partai Islam dan pemerintah-pemerintah yang menerapkan syari’ah. Saya menyebut mereka “Penggembira“. Mereka diterbangkan pemerintah dari AS, Kanada, Yaman, dan Mauritania untuk menyebarkan Islam yang jinak. Hasil akhirnya adalah penjinakan din Allah, sebuah Islam yang lemah dan pasif, mau menerima status quo yang menindas dan menghinakan Muslim; sebuah Islam yang mendorong Muslim mengutuk aksi saudara-saudara mereka yang denga gagah berani melawan pendudukan dan penindasan dengan segala yang mereka punya. Bahkan mendoakan mereka pun sekarang menjadi kejahatan – berapa lama lagi sebelum kami diberi tahu untuk tidak mendoakan mujahidin?

Salah satu panglima perang terbesar yang pernah dikenal dunia, Salahuddin Al-Ayyyubi, pembebas Al-Quds, pernah ditanya mengapa dia tak pernah tersenyum. Dia menjawab, bagaimana mungkin dia tersenyum padahal dia tahu Masjid Al-Aqsa masih diduduki? Saya bayangkan bagaimana tanggapannya terhadap situasi dunia sekarang? Saat ini para pemimpin Arab menari perut tanpa malu di hadapan Amerika sambil menyerahkan Irak di atas sebuah piring. Pemimpin-pemimpin Arab itu berpaling sementara Palestina yang jelita tak henti-hentinya diperkosa dan “putrid jelita” Arab lainnya, lebanon … kemanakah Dunia Arab ketika ia diserang dengan amat brutal?

Dan genderang perang kembali ditabuh. Bukan janya seluruh dunia menyaksikan, melainkan anak-anak kami, generasi muda kami, masa depan kami. Kita harus mendidik dan menginspirasi mereka dengan kisah-kisah Nabi dan para Sahabat. Selama Ummah memunculkan tokoh-tokoh seperti Khalid bin Walid, Salahuddin Al-Ayyubi, Sayyid Qutb, dan Malcolm X, kami tidak akan kalah. Semakin kami ditindas oleh para tiran, semakin sengit kami melawan. Inilah sifat Islam.

Dan inilah Islam yang perlu diikuti anak-anak muda kami, dengan bimbingan dan ispirasi. Kami harus mengganti pemimpin-pemimpin yang mengebiri diri mereka sendiri dalam upaya menyedihkan untuk menjadi lebih Barat ketimbang bangsa Barat sendiri. Banyak anak muda Muslim sekarang menyadari bahwa tak peduli seberapa keras mereka mengompromikan din mereka untuk melebur ke dalam masyarakat yang lebih luas, ketika keadaan menjadi runyam, mereka akan diperlakukan dengan penuh kecurigaan. Semakin kami disuruh melupakan syari’ah, khilafah dan jihad, semakin Muslim akan membayar dengan darah untuk menegakkan nilai-nilai itu. Jihad yang kita saksikan di Palestina, Irak, Afghanistan, Kashmir, dan Chechnya adalah sesuatu yang mulia, sebuah perang yang dibenarkan melawan kezaliman dan tirani.

Aksi para jihadis sama sekali tidak menimbulkan ancaman terhadap Barat atau gaya hidup orang Barat. Perlawanan mereka bukan hanya dibenarkan tetapi bahkan didukung oleh hukum international. Ekstremis religius yang sungguh-sungguh menimbulkan ancaman terbesar meradikalisasi anak-anak muda kita adalah Kristen Fundamentalis di Gedung Putih dan Downing Street. Bush dan Blair telah menjadi agen perekrutan terbaik Al-Qaidah.

Semakin banyak anak muda Muslim menyadari bahwa bukan terorisme atau ekstremisme yang menjadi target, tetapi Islam sendirilah yang menjadi target.

Kini Ummah-lah yang harus memimpin dan menginspirasi generasi muda Muslim, seperti Nabi memimpin dan menginspirasi jutaan manusia dan akan terus demikian adannya. Dan pelajaran pertama yang harus kami sampaikan kepada generasi muda kami adalah takut kepada Allah SWT.


*Yvonne Ridley, wartawati-feminis Inggris, yang menjadi mualaf setelah ditawan Taliban, dan kini menjadi pembela Islam di Barat



Sumber:
http://andricipta.wordpress.com/2007...n-menuju-iman/
http://s3nn4.multiply.com/journal/item/264
http://c4kra.multiply.com/journal/item/212/212

diterjemahkan dari:
http://yvonneridley.org/yvonne-ridle...don.-uk-4.html

Once Upon in Nusantara..











Foto-foto diambil dari Darul Islam: Sebuah Pemberontakan oleh C. Van Dijk

Meski, dengan mengutip Herman Ibrahim dalam salah satu artikelnya di Pikiran Rakyat, "Rakyat Indonesia selalu dicekoki tuduhan seakan-akan gerakan Islam identik dengan pemberontakan. Kehadiran dan deklarasi NII sebenarnya tidak pada posisi ada negara di dalam negara karena Republik Indonesia berdasarkan Perjanjian Renville hanya berada di Yogyakarta dan sekitarnya. Lebih tepat dikatakan kehadiran NII adalah sebuah negara dengan negara yang sejajar jika disandingkan dengan RI. Lain halnya dengan negara Pasundan yang benar-benar merupakan produk Belanda. Orang-orang nasionalis tidak bisa sependapat dalam perkara ini, tetapi kebenaran sejarah tidak bisa ditutupi terus-menerus."

Sekedar sebagai kenangan bahwa pada suatu ketika di nusantara, negara itu pernah ada..
dan kini ..?


copas dari http://c4kra.multiply.com/photos/album/31/Pada_Suatu_Ketika_di_Nusantara

Jumat, 27 Februari 2009

Kezaliman Dalam Penulisan Sejarah Islam

Saya harus minta maaf kepada ilmuwan sejarah untuk mengatakan bahwa sejarah adalah ilmu yang paling tidak imiah. Argumen saya adalah sesuatu dikatakan ilmiah pertama-tama harus objektif. Kedua, proses dan hasilnya harus terukur secara kuantitatif dan kualitatif. Ketiga, kebenarannya dapat dibuktikan secara empiris atau paling tidak secara laboratoris. Sejarah menjadi tidak objektif karena sejarah ditulis oleh penguasa dan disebarluaskan lewat kekuasaannya itu. Ukuran kebenarannya paling-paling hanya pada “waktu terjadinya peristiwa” bukan pada substansi. Juga ada kesulitan dalam menguji kebenaran sejarah secara empiris maupun laboratoris karena metodologinya sarat kepentingan kekuasaan.

Dalam penulisan sejarah nasional yang paling dirugikan dan dizalimi adalah Islam. Nyaris semua produk sejarah Indonesia yang diajarkan kepada anak sekolah sejak SD sampai perguruan tinggi adalah sejarah yang anti dan menegasikan Islam. Para pemuda kita dibutakan atas sejarah masa lalu kebesaran Islam. Para ilmuwan sejarah pun bisu atau membisukan diri atas penulisan sejarah yang tidak berpihak kepada kebenaran. Determinasi kekuasaan sejak zaman Belanda sampai pemerintahan sendiri sangat kuat, tetapi mereka paranoid terhadap Islam.

Tengok kebohongan kisah pertemuan Kartosoewiryo dengan Westerling di Gedung Pakuan Bandung. Kisah ini sangat keji karena sumber sejarahnya adalah pengadilan sandiwara atas kasus Schmidt dan Jungschlaeger. Hal ini ditulis ulang oleh Her Suganda di PIkiran Rakyat (5/2). Tentu saja Her Suganda mengambil dari sumber resmi yang dalam hal ini dibuat oleh penguasa saat itu. Haris bin Suhaemi yang dijadikan saksi dan dikutip kesaksiannya dalam tulisan itu digambarkan sebagai orang yang dekat dengan Imam Negara Islam Indonesia (NII), S.M. Kartosoewiryo as syahid. Padahal, nama Haris bin Suhaemi tidak dikenal di kalangan pimpinan tinggi maupun menengah NII.

Di pengadilan dia membual pernah menyaksikan pertemuan antara S.M. Kartosoewiryo dan wali negara Pasundan R.A.A. Wiranatakusumah dan bekas kapten Westerling. Dia juga berkisah melihat kapal selam menurunkan perlengkapan perang, senjata, adan munisi, serta droping dari epsawat terbang asing untuk melengkapi mesin perang DI/TII. Anehnya, di tulisan Her Suganda, di katakan bahwa Kartosoewiryo gagal melaksanakan ambisinya karena lemahnya persenjataan dan kesulitan komunikasi. Menurut Her Suganda, Kartosoewiryo hanya bisa mengacau di daerah Sukaraja dan Cikalong, Tasikmalaya Selatan.

Kebohongan dan fitnah yang dilansir oleh saksi lain di pengadilan tersebut sangat memojokkan perjuangan Islam NII. Meskipun demikian, harus diakui bahwa NII mengalami fragmentasi yakni NII pro-Proklamasi 17 Agustus 1945 pimpinan H.Zainal Abidin dan Ajengan Patah, NII pro-Belanda yang dipimpin Sultan Hamid II yang bersekutu dengan Westerling, serta NII pimpinan S.M. Kartosoewiryo yang menajiskan hubungan dengan kaum kafir. Dalam pernyataan bantahan yang dilansir oleh Komandemen Tertinggi ANgkatan Perang NII No. IX/7/1955, dinyatakan bahwa usaha merangkaikan dan mencampuradukkan (saman-smelten) perjuangan Islam NII dengan gerakan subversif yang dilakukan Westerling dan sekelompok orang Indonesia adalah sangat absurd dan sama sekali tidak mengandung kebenaran sedikitpun. Bantahan ini tidak mendapatkan tempat di media karena bias kekuasaan.

Rakyat Indonesia selalu dicekoki tuduhan seakan-akan gerakan Islam identik dengan pemberontakan. Kehadiran dan deklarasi NII sebenarnya tidak pada posisi ada negara di dalam negara karena Republik Indonesia berdasarkan Perjanjian Renville hanya berada di Yogyakarta dan sekitarnya. Lebih tepat dikatakan kehadiran NII adalah sebuah negara dengan negara yang sejajar jika disandingkan dengan RI. Lain halnya dengan negara Pasundan yang benar-benar merupakan produk Belanda. Orang-orang nasionalis tidak bisa sependapat dalam perkara ini, tetapi kebenaran sejarah tidak bisa ditutupi terus-menerus.

Menurut Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, M.A., M.Phil., sejarah Islam perlu dipaparkan dengan jujur dan diinternalisasi terus-menerus untuk membangun semangat perjuangan dan peradaban. Orang Yahudi sangat berkepentingan memalsukan sejarah Islam karena mereka paham bahwa sejarah bisa menjadi sumber inspirasi yang tiada habisnya bagi kemajuan umat manusia. Dengan segala cara mereka melakukan manipulasi sejarah seakan-akan sumbangan Barat terhadap peradaban manusia lebih hebat daripada Islam. Banyak contoh, betapa sejarah Islam bukan saja ditutup-tutupi, tetapi dikisahkan dalam bentuk kekalahan dan ketertinggalan.

Pembodohan bisa dilakukan lewat sejarah. Lihat sejarah Islam Nusantara yang tidak pernah sungguh-sungguh menggambarkan kejayaan Samudera Pasai, Ternate, dan Tidore serta pengislaman Papua oleh Kerajaan Islam Bacan. Anehnya, yang selalu dibanggakan adalah kisah kejayaan Majapahit dan Sriwijaya yang konon bisa mempersatukan Nusantara. Para ulama yang oleh pujangga Mataram Ronggowarsito pada abad XIX disebut Walisongo sebenarnya adalah penyebar dan penegak syariat Islam lewat kekuasaan yang dibangunnya. Dari mulai Giri, Demak, dan Cirebon. Di masa Mataram yang telah meramu Islam dengan sinkretisme, para ulama tersebut dimistifikasi sebagai tokoh-tokoh keramat dan digjaya tetapi pada saat yang sama direduksi menjadi pengembang ajaran tasawuf.

Krisis sejarah berikutnya adalah pengaburan Kebangkitan Nasional yang dimanipulasi seakan-akan berawal dari berdirinya paguyuban Boedi Oetomo. Bandingkan dengan Syarikat Dagang Islam (SDI) yang didirikan 25 tahun lebih tua daripada Boedi Utomo. Organisasi ini menjelma menjadi Syarikat Islam yang terbuka untuk seluruh rakyat Indonesia dari segala lapisan yang mayoritas beragama Islam. Faktanya, pendiri Syarikat Islam H.O.S. Cokroaminoto dan murid-muridnya adalah kaum pergerakan yang menjadi pejuang politik dan militer.

Hizbullah adalah laskar Islam yang menjadi inti peristiwa heroik 10 November di Surabaya. Di Jawa Tengah tatkala TNI di bawah Soedirman mengalahkan sekutu sebenarnya terdiri atas elemen-elemen tentara Islam. Peristiwa yang dikenal dengan Palagan Ambarawa 15 Desember 19435 dan dijadikan Hari Eka Paksi (hari TNI AD) itu sama sekali tidak mengisahkan keterlibatan laskar santri. Menjadi catatan penting bahwa pemberontakan PKI Madiun lebih banyak dihancurkan oleh Hizbullah, namun yang ditonjolkan dalam sejarah adalah prestasi Divisi Siliwangi.

Akhirnya di hari-hari kehidupan bangsa yang konon telah merdeka selama 63 tahun ini, umat Islam selalu terpinggirkan. Bangsa ini lebih memilih pendidikan sekuler dan mengikuti strategi Yahudi yang memisahkan agama dengan politik. Mayoritas umat Islam terbawa arus pemikiran yang menolak nilai-nilai agama menjadi sumber hukum positif. Sekarang dengan kecanggihan media yang dikontrol asing, perlawanan Islam politik pada tingkat tertentu dikategorikan sebagai tindak terorisme. Hasbunallah wa ni’mal wakil. Amin. ***

Penulis, pengamat politik dan militer

Sumber: Pikiran Rakyat, 18 Februari 2009

Rabu, 25 Februari 2009

Indonesia Miliki Dua Proklamasi?

Indonesia Miliki Dua Proklamasi?
Oleh Prof. Usman Pelly, MA, Ph.D

WASPADA Online.
DR. Mohammad Noer, seorang Political Scientist, dari Universitas Nasional Jakarta, mantan aktivis PII Tanjung Pura, menyatakan dalam sebuah seminar nasional baru-baru ini di kota Padang (11 Agustus 2007), Indonesia sebenarnya memiliki dua buah proklamasi: Pertama Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, dan yang kedua Proklamasi Berdirinya NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) pada 17 Agustus 1950, yang diproklamirkan oleh orang yang sama, yaitu Soekarno dan Hatta.

Bedanya pada proklamasi pertama Soekarno-Hatta menyatakan dirinya atas nama bangsa Indonesia, sedang pada proklamasi kedua, ketika itu, Soekarno adalah Presiden RIS dan Hatta adalah Perdana Menteri RIS. Akan tetapi menurut Noer, perbedaan itu bukanlah sesuatu yang penting, ada yang lebih penting lagi yaitu perbedaan makna dan sejarah dari kedua proklamasi itu sendiri.

Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, yang kita rayakan setiap tahunnya adalah pernyataan bahwa 'penjajahan kolonial terhadap bangsa Indonesia telah berakhir dan bangsa itu menyatakan kemerdekaannya,' sedang Proklamasi berdirinya NKRI 17 Agustus 1950 adalah pernyataan 'pembubaran 17 Negara-Negara Bahagian yang tergabung dalam RIS, termasuk Negara RI Yogayakarta (yang diproklamirkan 17 Agustus 1945) dan meleburkan diri ke dalam sebuah negara baru yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

'Proklamasi kedua (17 Agustus 1950) itu bukan menyatakan 'kembali kepada RI yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945.' Karena, RI 1945 itu juga turut membubarkan diri bersama NST (Negara Sumatra Timur), Negara Pasundan dan NIT (Negara Indonesia Timur) dan kemudian meleburkan diri ke dalam NKRI. Ternyata dalam buku-buku Sejarah Nasional dari SD sampai ke Perguruan Tinggi, tidak ada yang menyebut atau mengutarakan peristiwa proklamasi kedua ini, sehingga banyak generasi muda kita yang tidak mengetahui kapan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) lahir.

Proklamasi kedua ini 'merupakan penyatuan kembali Republik Indonesia,' yang waktu itu pecah menjadi 17 Negara Bahagian. Pembentukan 17 Negara Bahagian ini, yang disponsori oleh pemerintah kolonial Belanda, merupakan negara-negara federasi dari RIS yang disebut juga sebagai BFO (Byzonder Federal Overleg). BFO ini adalah bentuk Negara RI yang merupakan landasan struktural dalam persetujuan KMB (Konferensi Meja Bundar), yaitu penyerahan Kedaulatan Kerajaan Belanda kepada RIS tanggal 27 Desember 1949 di Amsterdam, yang ditanda-tangani oleh Kepala Negara Kerajaan Belanda Ratu Juliana.

Republik Indonesia Serikat
Setelah Belanda berhasil menduduki Yogyakarta, ibu kota RI dalam pengungsian dan menawan Soekarno-Hatta, Van Mook Wakil Kerajaan Belanda di Indonesia, ketika itu berhasil membentuk Negara-Negara Bahagian (BFO), yang kemudian menjadi Republik Indonsia Serikat (RIS), sedang RI Proklamasi 1945 yang kemudian disebut sebagai RI Yogyakarta, dijadikan sebagai salah satu negara bahagian. Gagasan Van Mook ini merupakan politik 'devide et empera' (pecah dan kuasai), agar Belanda tetap dapat mengendalikan negara bekas jajahannya. Setelah KMB, RIS diterima sebagai suatu kenyataan, walaupun di daearah-daerah Negara Bahagian itu sendiri muncul berbagai kejolak politik (political anrest) yang menuntut untuk mengakhiri atau membubarkan RIS.

Pergolakan untuk membubarkan RIS dimulai oleh Dewan Perwakilan Rakyat Malang. Dalam rapatnya 4 Januari 1950, mereka memutuskan untuk melepaskan diri dari Negara Bagian Jawa Timur dan bergabung dengan Negara Bagian RI Yogyakarta. Di Ambon Ir. Soumokil memproklamirkan berdirinya Republik Maluku Selatan (RMS) dan dia sendiri sebagai presidennya. Sementara itu di Sumatra Timur, Dewan Permusyawaratan Rakyatnya menuntut agar RIS dipertahankan (7-9 Mei 1950), tetapi sebaliknya Kongres Rakyat Sumatra Timur tgl 7 Juli 1950 menuntut pembubaran NST (Negara Sumatra Timur).

Pertentangan pendapat di Sumatra Timur ini merupakan dampak dari 'Revolusi Sosial Sumatera Timur 1946. 'Mereka yang duduk dalam badan Permusyawaratan Rakyat NST banyak yang menjadi korban revolusi sosial, sedang yang berperan dalam Kongres Rakyat dari kelompok-kelompok radikal. Tetapi Wali Negara NST, Dr. Tengku Mansjur dalam pidatonya tanggal 11 Mei 1950 menganjurkan untuk 'mempercayakan kepada pemerintah RIS {di Jakarta} untuk penyelesaian bentuk negara ini dengan harapan di kemudian otonomi daerah juga ditegakkan (Mohd. Said, 1973: 27; Deliar Noer 1986: 260). Pergolakan untuk membubarkan RIS terus bergelinding diberbagai daerah, karena dirasakan RIS bukanlah apa yang dicita-citakan oleh Proklamasi 17 Agustus 1945.

Munculnya gagasan NKRI 1950
Menanggapi gejolak permasalahan yang marak dalam tubuh RIS di atas, muncul dua pendapat dalam Komite Nasional Indonesia (BP. KNIP), pendapat pertama berasal dari tokoh PNI, Susanto Tritoprojo, yang menganjurkan agar negara-negara bahagian yang ada bergabung ke Republik Indonesia (Yogyakarta). Dengan demikian RI Yogyakarta akan menggantikan RIS dalam memerintah seluruh Indonesia. Pendapat ini sangat sulit diterima oleh beberapa negara bahagian seperti NIT dan NST, karena mereka melihat RI Yogyakarta sama-sama berkedudukan sebagai negara bahagian, sederajat dengan mereka.

Apabila dipaksakan akan menimbulkan konflik antar berbagai negara bahagian dengan RI Yogyakarta. Pendapat kedua muncul dari Mohd. Natsir, seorang tokoh Masyumi. Beliau berpendapat, masalah pokok yang harus dipecahkan adalah bagaimana membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), apakah itu dengan cara penggabungan negara-negara bahagian ke RI Yogyakarta atau langsung semua negara-negara bahagian ke NKRI, itu menurutnya adalah masalah teknis. Yang penting menurut beliau, 'pembentukan NKRI itu harus tanpa menimbulkan konlik antar negara-negara bahagian dan golongan dalam masyarakat'(Noer 1986: 261).

DR. Mohd. Natsir yang dijuluki oleh George Mc T Kahin seorang Sosiolog dari Cornell University Amerika Serikat, sebagai 'the last giants among the Indonesia's nationalist and revolutionary political leaders' (raksasa terakhir {meninggal 1993} di antara tokoh nasionalis dan pemimpin politik revolusioner Indonesia), menamakan usulnya tersebut sebagai 'mosi integral' yang akhirnya setelah disetujui oleh Parlemen, diambil alih oleh pemerintah. Ada hal yang menarik untuk disimak dari mosi integral Mohd. Natsir yang telah menyelamatkan Republik Indonesia yang baru mendapatkan kedaulatan dari pemerintah kolonial Belanda itu.

Walaupun gagasan NKRI itu tidak lagi diperdebatkan oleh Negara-Negara Bahagian, tetapi bagaimana cara, agar semua Negara-negara Bahagian termasuk RI Yogyakarta tidak merasa dipermalukan atau tersinggung dan pemerintah Belanda tidak turut campur tangan merupakan masalah yang krusial. Apabila seluruh negara-negara bahagian membubarkan diri dan melebur kedalam RI Yogyakarta, ada yang merasa tersinggung dan direndahkan. Natsir menggagasi agar semua negara-negara bahgian meleburkan diri, termasuk Negara bahagian RI Yogyakarta kedalam negara baru NKRI.

Yang paling sulit diyakinkan, ternyata adalah Negara Bahagian RI Yogyakarta, walaupun Natsir telah pulang pergi ke Yogyakarta beberapa kali, berunding dengan Mr. Asad sebagai Pj. Presiden dan berbagai tokoh politik di sana. Setelah berunding dengan rekan-rekannya Mr. Kasimo (Partai Katholik), Mr. Tambunan (dari Parkindo) dan Ir Sakirman (dari PKI), akhirnya Natsir kembali ke Yogyakarta dan mengajukan dua pilihan kepada RI Yogyakarta: (1) membubarkan diri dan masuk ke NKRI, atau (2) berperang melawan negara-negara bahagian lain, seperti Negara Madura, NIT dan Pasundan.

Menurut Natsir meskipun RI Yogyakarta akan menang, tetapi akan menelan banyak korban. Natsir meyakinkan bahwa alternatif pertama, membubarkan diri kemudian bersatu dalam NKRI merupakan jalan yang terbaik. Beliau menambahkan bahwa Dwi Tunggal Soekarno-Hatta adalah modal utama RI Yogyakarta. Tidak ada Negara bahagian lain yang tidak setuju kalau Sukarno dan Hatta dijadikan presiden dan wakil presiden NKRI. Dengan lobbying yang ketat seperti itu RI Yogyakarta, yang semula merasa sulit untuk membubarkan diri yang berarti kehilangan negara, tetapi akhirnya setuju dengan mosi integral Natsir tersebut.

Ternyata keseluruhan isi 'mosi integral Natsir' yang tertuang dalam sebuah naskah autentik DPR Sementara RIS, baru akhir-akhir ini dapat ditemukan oleh para sejarawan. Pada tanggal 2 April Mohd. Natsir menyampaikan pidato 'mosi integral' yang bersejarah tersebut, dengan beberapa butir latar pemikiran yang penting (1) Semua negara-negara bahagian mendirikan NKRI melalui prosedur parlementer, (2) Tidak ada satu negara bahagian menelan negara bahagian lainnya dan (3) Masing-masing negara bahagian merupakan bahagian integral dari NKRI yang akan dibentuk.

Akhirnya DPR RIS Sementara, memutuskan: 'Menganjurkan kepada pemerintah supaya mengambil inisiatif untuk mencari penyelesaian atau sekurang-kurangnya menyusun suatu konsepsi, menyelesaikan soal-soal yang hangat yang tumbuh sebagai akibat perkembangan politik diwaktu akhir-akhir ini dengan cara yang integral dan menyusun program yang tertentu.' (Feisal 2007: 6).

Kemudian Mohd. Hatta sebagai Perdana Menteri RIS dalam sidang kabinetnya, menyatakan 'Mosi Integral Natsir akan di jadikan pemerintah sebagai dasar penyelesaian persoalan-persoalan yang sedang dihadapi.' Mosi Integral Natsir yang ditandatangani oleh seluruh wakil fraksi di DPR tanggal 2 April 1950 tersebut telah memulihkan NKRI secara demokratis dan konstitusional dan diproklamirkan oleh Presiden Soekarno dalam pidato kenegaraan pada 17 Agustus 1950.

Penutup
Menurut Dr.Mohammad Noer, anak Tanjung Pura (peternak kambing, memperoleh Ph.D dari USM, sekarang Direktur Pasca Sarjana Universitas Nasional Jakarta) itu, dalam wawancaranya dengan Pak Natsir di Jakarta (1990), bahwa dalam mensosialisasikan 'Mosi Integral' itu dia berusaha untuk tidak terbuka. Strategi ini menurut Natsir, karena waktu itu, Belanda masih bercokol di Indonesia. 'Saya adakan Mosi Integral yang kabur-kabur saja.

Karena kita tengah menghadapi Belanda. Jangan sampai Belanda bikin kacau lagi. Belanda tidak boleh tahu ke mana arah rencana itu.' Setelah terbentuk NKRI, Natsir diberi mandat oleh Presiden Sukarno sebagai Perdana Menteri Pertama NKRI (1950-1951). Pak Natsir mengetahui penunjukkan itu, pertama-tama dari wawancara wartawan Asa Bafaqih, waktu dia bertanya kepada Presiden Soekarno, 'siapa yang akan menjadi Perdana Menteri NKRI?' Dengan suara yang meyakinkan Soekarno menjawab, 'siapa lagi kalau bukan Natsir dari Masyumi. Mereka punya konsepsi untuk menyelamatkan Republik melalui konstitusi.'

Demikianlah Mohd. Natsir menjadi Perdana Menteri NKRI yang pertama setelah Presiden Soekarno memproklamirkan NKRI 17 Agustus 1950 Agar generasi muda kita tidak melupakan sejarah atau buta sejarah, mengapa pada setiap hari peringatan Proklamasi 17 Agustus 1945, kita juga secara implisit atau sekaligus bersedia memperingati Proklamasi NKRI (1950). Karena NKRI yang kita pertahankan sekarang ini, tidak muncul tiba-tiba dari atas langit, 'it has a history!' walaupun pembuat sejarah itu bukan orang yang selalu kita senangi. Insya Allah!


(Penulis adalah Antropolog, Universitas Negeri Medan)
http://www.waspada.co.id/Opini/Artik...roklamasi.html

Sabtu, 21 Februari 2009

Rosulullah Muhammad SAW adalah Teladan Kita, Apakah Beliau Pernah Ikut Pemilu ?

Arrahmah.Com Knowledge - Jika kita memperhatikan kebiasaan dan kenyataan dari pemilihan umum (pemilu) dan kemudian melihat firman Allah SWT dalam Al-Qur`an, kita akan menyadari bahwa ayat “Qul Yaa ayuhhal kafiruun” itu tidak punya arti sama sekali jika anda memilih orang kafir atau orang muslim dengan ideologi kafir dan mendukung partai mereka. Terlebih jika anda memilih mereka, anda akan mendukung seluruh tindakan yang mereka lakukan yang dalam prinsip Islam anda telah me-‘wakil’-kan segala urusan anda pada mereka. Oleh karena itu, kaum Muslimin tidak boleh memilih siapapun dalam pemilu kali ini, meskipun mereka semuanya terlihat Islami dan seolah-olah akan memperjuangkan Islam atau menggunakan ayat-ayat Al-Qur`an dalam kampanye-kampanye mereka!

Terlebih jika ada beberapa orang pergi dan mendaftarkan dirinya untuk menjadi anggota dewan, atau memilih anggota dewan untuk menduduki jabatan di legislatif (DPR/MPR), ini jelas-jelas sebuah kemusyrikan dalam Islam. Sebuah perkara, pada kenyataannya dalam pandangan Islam wajib diketahui dan tidak terdapat perbedaan pendapat dalam soal tersebut. Bagaimana mungkin seorang muslim yang mengatakan bahwa bahwa tidak ada Pembuat Hukum selain Allah SWT yang diikuti kalimat “Laa ilaha illallah” dan kemudian dia memilih seseorang untuk mengesahkan pemerintahan dan hukum kufur ? Lebih baik jika tauhid setiap muslim dipergunakan untuk menjaga kesucian Allah SWT semata-mata, yaitu untuk mentaati, untuk beribadah, dan semata-mata mengikuti perintahnya.

Sebagaimana setiap muslim tahu, Allah SWT memiliki 99 nama (Asmaul Husna) kemudian ini akan membuat 99 jalan bagi seorang seseorang untuk menjadi kafir jika dia menyekutukan sesuatu atau seseorang dengan nama Allah SWT. Salah satu contoh, nama Allah SWT adalah “Al-Hakim” yang artinya Allah SWT adalah satu-satunya pembuat hukum. Dan jika anda menyetujui seseorang untuk melakukan apa yang menjadi sifat dan hak Allah SWT, maka anda akan menjadi musyrik.

Lebih jauh, Allah SWT berfirman dalam Al-Qur`an :

“Barangsiapa berbuat kebaikan seberat atom (biji sawi), Allah SWT akan melihatnya. Dan barangsiapa berbuat kejahatan sebesar atom sekalipun, Allah akan melihatnya.” (QS, 99: 7-8)

Dalam tafsir Al-Qurthubi, tentang ayat di atas, kata “kebaikan” berdasar syariat. Dalam peryataannya tentang ayat tersebut, Abdullah Ibn Abbas r.a. berkata, jika kamu memilih itu tidak akan diterima sebagai amal baikmu, karena hal ini sama sekali bukan berdasarkan syariat. Hanya perbuatan-perbuatan yang berdasarkan syariat saja yang diterima Allah SWT dan sesungguhnya Rosulullah Muhammad SAW, teladan kita, tidak pernah memilih siapapun dalam parlemen Quraisy pada masa beliau, seperti memilih Abu Lahab atau Abu Jahal!

Insyaallah, jika seorang muslim membaca dan memahami ayat “Qul Huwallahu ahad”, maka Allah SWT akan memberi cahaya dengan sebuah pemahaman yang benar dalam hatinya, bahwa hanya Allah SWT sajalah yang menjadi pembuat hukum. Apa yang disebut syirik adalah beribadah kepada selain Al-Khaliq, mentaati atau mengikuti kepada selain-Nya. Hanya ada satu tujuan kita beribadah, mengikuti dan mentaati Allah SWT semata.

Menyekutukan sesuatu dengan Allah SWT dalam ke-Tuhanan-Nya atau fungsinya adalah syirik. Syirik juga didefinisikan sebagai “mengadakan aktivitas peribadatan kepada selain Allah SWT”. Salah satu aktivitas ibadah (selain sholat, shaum, dsb) adalah tahkim, yaitu memutuskan hukum/mengadili dalam sebuah perkara hanya dengan hukum Allah SWT semata. Jika kita bertahkim kepada thogut, yaitu menyerahkan perbuatan hukum atau memutuskan perkara dengan pengadilan atau hukum kufur adalah sebuah kemusyrikan.

Ibnu Taimiyah dalam “Majmu Al Fatawa” mendefinisikan tahkim (Al-Tahaakum) sebagai sebuah aktivitas ibadah dan berkata, jika seseorang memutuskan perkara dengan salain agama Allah SWT adalah musyrik! Jika seseorang berargumen bahwa dia tidak tahu bahwa memilih suatu kekufuran ataupun memilih orang muslim namun berideologi dan bercita-cita kufur (tidak ingin menegakan syariat Islam) adalah suatu hal yang serius, hendaknya dia mengambil pelajaran dari Abdullah bin Abbas r.a. yang berkata “Dan orang akan menjadi kafir karena ketidaktahuannya” . Sehingga hal ini dipandang sebagai syirik akbar yang tidak dapat diampuni. Naudzubilahi min dzalik!

Sebagai tambahan, Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa syirik bukan hanya menyekutukan seseorang dengan Allah SWT, tapi juga bagi seseorang yang melakukan sesuatu perbuatan yang hanya menjadi hak Allah SWT. Lebih jauh, bagi siapa saja yang mencoba membuat argumen palsu, alasan-alasan logis, dengan memelintir ayat-ayat ataupun memprediksi hal-hal yang sebenarnya masih ghoib (misalnya dengan mengatakan bahwa kalau kita tidak memilih pada saat ini, maka umat Islam akan dibantai, dimusnahkan dan sebagainya) agar umat memilih pada saat ini, maka kita harus mengingatkan mereka bahaw tidak satupun dari 4 Imam (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal) yang mengatakan bahwa kita boleh memilih untuk kekufuran!!!

Banyak ayat yang menyangkal perbuatan ini (pemilu) dan menyatakan bahwa barangsiapa mengambil bagian dalam perbuatan pemilihan ini, maka mereka terkategorikan musyrik. Contohnya, :

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah ? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang dzalim itu akan memperoleh adzab yang amat pedih.”
(QS. 42 : 21)

Untuk lebih membuat yakin orang-orang yang tetap melaksanakan pemilu dan menyerahkan serta memutuskan perkara dengan kehendak dan hawa nafsu mereka, maka perhatikan firman Allah SWT berikut ini :

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan rosul-Nya, jika kamu benar-benar beriman.” (QS 4 : 59)

Juga firman-Nya :

“Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya) dan tidak seseorang pun yang dapat menolak ketetapan-Nya.” (QS 13 : 41)

Bahkan jika hukum yang ada saat ini mencoba untuk setuju atau disesuaikan dengan hukum Islam, sebagai contoh jika besak presiden terpilih berkata : “Kita harus memotong tangan pencuri”. Karena itu tidak dibuat berdasar hokum Allah SWT. Peryataan tersebut tetap masih dianggap hukum kufur! Hal tersebut berdasarkan kaidah atau prinsip Islam : “Apapun yang setuju dengan Islam adalah kufur dan apapun yang tidak setuju dengan Islam juga kufur” (kecuali Islam itu sendiri)

Akhirnya, disimpulkan bahwa sistem pemerintahan yang berlaku saat ini adalah sistem toghut, tanpa keraguan sedikit pun. Dan Allah SWT berfirman :

“Barangsiapa yang ingkar terhadap thogut dan kemudian beriman kepada Allah SWT.” (QS 2 : 256)

Hal ini termasuk menyakini bahwa sistem yang ada sekarang adalah thogut, menjaga jarak dengannya, tidak bermanis muka, tidak menjilat, dan membenci thogut, menolaknya serta memiliki rasa benci terhadapnya. Setelah memahami hal ini bagaimana seorang muslim dapat memilih atau terpilih untuk kemudian duduk dengan tawaghit (sistem kufur) ?

Wahai kaum Muslimin, tanpa kita sadari kita telah terjerumus jauh mengikuti kaum Yahudi dan Nasrani ke lubang biawak, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sebagaimana dikatakan oleh Rosulullah SAW. Naudzubillahi min dzalik. Sadarlah wahai saudaraku, sadarlah wahai kaum Muslimin….!

Ya Allah…Saksikanlah, kami telah menyampaikannnya !

Prince of Jihad - www.arrahmah.com

--------------

Artikel udah agak lama sihh,, tp masih update koq sm Pemilu yg akan segera dihadapi..
Moga memberi sedikit informasi (dan bermanfaat) :)

Dua Polisi yang Menyaksikan Eksekusi atas Sayyid Qutb

Ulama, da’i, serta para penyeru Islam yang mempersembahkan nyawanya di Jalan Allah, atas dasar ikhlash kepadaNya, sentiasa ditempatkan Allah sangat tinggi dan mulia di hati segenap manusia.

Di antara da’i dan penyeru Islam itu adalah Syuhada (insya Allah) Sayyid Qutb. Bahkan peristiwa eksekusi matinya yang dilakukan dengan cara digantung, memberikan kesan mendalam dan menggetarkan bagi siapa saja yang mengenal Beliau atau menyaksikan sikapnya yang teguh. Di antara mereka yang begitu tergetar dengan sosok mulia ini adalah dua orang polisi yang menyaksikan eksekusi matinya (di tahun 1966).

Salah seorang polisi itu mengetengahkan kisahnya kepada kita:

Ada banyak peristiwa yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya, lalu peristiwa itu menghantam kami dan merubah total kehidupan kami.

Di penjara militer pada saat itu, setiap malam kami menerima orang atau sekelompok orang, laki-laki atau perempuan, tua maupun muda. Setiap orang-orang itu tiba, atasan kami menyampaikan bahwa orang-orang itu adalah para pengkhianat negara yang telah bekerja sama dengan agen Zionis Yahudi. Karena itu, dengan cara apapun kami harus bias mengorek rahasia dari mereka. Kami harus dapat membuat mereka membuka mulut dengan cara apapun, meski itu harus dengan menimpakan siksaan keji pada mereka tanpa pandang bulu.

Jika tubuh mereka penuh dengan berbagai luka akibat pukulan dan cambukan, itu sesuatu pemandangan harian yang biasa. Kami melaksanakan tugas itu dengan satu keyakinan kuat bahwa kami tengah melaksanakan tugas mulia: menyelamatkan negara dan melindungi masyarakat dari para “pengkhianat keji” yang telah bekerja sama dengan Yahudi hina.

Begitulah, hingga kami menyaksikan berbagai peristiwa yang tidak dapat kami mengerti. Kami mempersaksikan para ‘pengkhianat’ ini sentiasa menjaga shalat mereka, bahkan sentiasa berusaha menjaga dengan teguh qiyamullail setiap malam, dalam keadaan apapun. Ketika ayunan pukulan dan cabikan cambuk memecahkan daging mereka, mereka tidak berhenti untuk mengingat Allah. Lisan mereka sentiasa berdzikir walau tengah menghadapi siksaan yang berat.

Beberapa di antara mereka berpulang menghadap Allah sementar ayunan cambuk tengah mendera tubuh mereka, atau ketika sekawanan anjing lapar merobek daging punggung mereka. Tetapi dalam kondisi mencekam itu, mereka menghadapi maut dengan senyum di bibir, dan lisan yang selalu basah mengingat nama Allah.

Perlahan, kami mulai ragu, apakah benar orang-orang ini adalah sekawanan ‘penjahat keji’ dan ‘pengkhianat’? Bagaimana mungkin orang-orang yang teguh dalam menjalankan perintah agamanya adalah orang yang berkolaborasi dengan musuh Allah?

Maka kami, aku dan temanku yang sama-sama bertugas di kepolisian ini, secara rahasia menyepakati, untuk sedapat mungkin berusaha tidak menyakiti orang-orang ini, serta memberikan mereka bantuan apa saja yang dapat kami lakukan. Dengan ijin Allah, tugas saya di penjara militer tersebut tidak berlangsung lama. Penugasan kami yang terakhir di penjara itu adalah menjaga sebuah sel di mana di dalamnya dipenjara seseorang. Kami diberi tahu bahwa orang ini adalah yang paling berbahaya dari kumpulan ‘pengkhianat’ itu. Orang ini adalah pemimpin dan perencana seluruh makar jahat mereka. Namanya Sayyid Qutb.

Orang ini agaknya telah mengalami siksaan sangat berat hingga ia tidak mampu lagi untuk berdiri. Mereka harus menyeretnya ke Pengadilan Militer ketika ia akan disidangkan. Suatu malam, keputusan telah sampai untuknya, ia harus dieksekusi mati dengan cara digantung.

Malam itu seorang sheikh dibawa menemuinya, untuk mentalqin dan mengingatkannya kepada Allah, sebelum dieksekusi.

(Sheikh itu berkata, “Wahai Sayyid, ucapkanlah Laa ilaha illa Allah…”. Sayyid Qutb hanya tersenyum lalu berkata, “Sampai juga engkau wahai Sheikh, menyempurnakan seluruh sandiwara ini? Ketahuilah, kami mati dan mengorbankan diri demi membela dan meninggikan kalimat Laa ilaha illa Allah, sementara engkau mencari makan dengan Laa ilaha illa Allah”. Pent)

Dini hari esoknya, kami, aku dan temanku, menuntun dan tangannya dan membawanya ke sebuah mobil tertutup, di mana di dalamnya telah ada beberapa tahanan lainnya yang juga akan dieksekusi. Beberapa saat kemudian, mobil penjara itu berangkat ke tempat eksekusi, dikawal oleh beberapa mobil militer yang membawa kawanan tentara bersenjata lengkap.

Begitu tiba di tempat eksekusi, tiap tentara menempati posisinya dengan senjata siap. Para perwira militer telah menyiapkan segala hal termasuk memasang instalasi tiang gantung untuk setiap tahanan. Seorang tentara eksekutor mengalungkan tali gantung ke leher Beliau dan para tahanan lain. Setelah semua siap, seluruh petugas bersiap menunggu perintah eksekusi.

Di tengah suasana ‘maut’ yang begitu mencekam dan menggoncangkan jiwa itu, aku menyaksikan peristiwa yang mengharukan dan mengagumkan. Ketika tali gantung telah mengikat leher mereka, masing-masing saling bertausiyah kepada saudaranya, untuk tetap tsabat dan shabr, serta menyampaikan kabar gembira, saling berjanji untuk bertemu di Surga, bersama dengan Rasulullah tercinta dan para Shahabat. Tausiyah ini kemudian diakhiri dengan pekikan, “ALLAHU AKBAR WA LILLAHIL HAMD!” Aku tergetar mendengarnya.

Di saat yang genting itu, kami mendengar bunyi mobil datang. Gerbang ruangan dibuka dan seorang pejabat militer tingkat tinggi datang dengan tergesa-gesa sembari memberi komando agar pelaksanaan eksekusi ditunda.

Perwira tinggi itu mendekati Sayyid Qutb, lalu memerintahkan agar tali gantungan dilepaskan dan tutup mata dibuka. Perwira itu kemudian menyampaikan kata-kata dengan bibir bergetar, “Saudaraku Sayyid, aku datang bersegera menghadap Anda, dengan membawa kabar gembira dan pengampunan dari Presiden kita yang sangat pengasih. Anda hanya perlu menulis satu kalimat saja sehingga Anda dan seluruh teman-teman Anda akan diampuni”.

Perwira itu tidak membuang-buang waktu, ia segera mengeluarkan sebuah notes kecil dari saku bajunya dan sebuah pulpen, lalu berkata, “Tulislah Saudaraku, satu kalimat saja… Aku bersalah dan aku minta maaf…”

(Hal serupa pernah terjadi ketika Ustadz Sayyid Qutb dipenjara, lalu datanglah saudarinya Aminah Qutb sembari membawa pesan dari rejim thowaghit Mesir, meminta agar Sayyid Qutb sekedar mengajukan permohonan maaf secara tertulis kepada Presiden Jamal Abdul Naser, maka ia akan diampuni. Sayyid Qutb mengucapkan kata-katanya yang terkenal, “Telunjuk yang sentiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalatnya, menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukan atau menyerah kepada rejim thowaghit…”. Pent)

Sayyid Qutb menatap perwira itu dengan matanya yang bening. Satu senyum tersungging di bibirnya. Lalu dengan sangat berwibawa Beliau berkata, “Tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah bersedia menukar kehidupan dunia yang fana ini dengan Akhirat yang abadi”.

Perwira itu berkata, dengan nada suara bergetar karena rasa sedih yang mencekam, “Tetapi Sayyid, itu artinya kematian…”

Ustadz Sayyid Qutb berkata tenang, “Selamat datang kematian di Jalan Allah… Sungguh Allah Maha Besar!”

Aku menyaksikan seluruh episode ini, dan tidak mampu berkata apa-apa. Kami menyaksikan gunung menjulang yang kokoh berdiri mempertahankan iman dan keyakinan. Dialog itu tidak dilanjutkan, dan sang perwira memberi tanda eksekusi untuk dilanjutkan.

Segera, para eksekutor akan menekan tuas, dan tubuh Sayyid Qutb beserta kawan-kawannya akan menggantung. Lisan semua mereka yang akan menjalani eksekusi itu mengucapkan sesuatu yang tidak akan pernah kami lupakan untuk selama-lamanya… Mereka mengucapkan, “Laa ilaha illah Allah, Muhammad Rasulullah…”

Sejak hari itu, aku berjanji kepada diriku untuk bertobat, takut kepada Allah, dan berusaha menjadi hambaNya yang sholeh. Aku sentiasa berdoa kepada Allah agar Dia mengampuni dosa-dosaku, serta menjaga diriku di dalam iman hingga akhir hayatku.



Diambil dari kumpulan kisah: “Mereka yang kembali kepada Allah”
Oleh: Muhammad Abdul Aziz Al Musnad
Diterjemahkan oleh Dr. Muhammad Amin Taufiq.

Courtesy: Al Firdaws English Forum


-Forum Jihad al Tawbah-

Jumat, 06 Februari 2009

Kisah Semangat Jihad Anak-anak Pada Zaman Rasulullah SAW

Kisah Semangat Jihad Anak-anak Pada Zaman Rasulullah SAW
Percakapan dan perbualan para sahabat Rasulullah (saw) mengenai jihad sedemikian rupa, sehingga hal itu sangat berpengaruh kepada cita2 dan semangat juang anak2 mereka. Jika hari ini anak2 kita berbincang hal2 kosong tentang tokoh2 fiktif yang tidak ada kaitannya dengan aqidah mereka, maka perbincangnan diantara anak2 para sahabat adalah keberanian dan tanggung jawab orangtua2 mereka dalam meninggikan kalimah Allah (swt).

Sedemikian rupa keadaan mereka, sehingga setiap dari mereka ingin segera terlibat bersama orang2 dewasa dalam memperjuangkan agama mereka. Meskipun mereka belum lagi mencapai usia baligh, akan tetapi sepak terjang mereka yang heroik telah menjadi kisah2 abadi yang menjadi teladan bagi orang2 di belakang hari. Bukan saja terhadap anak2 kita, akan tetapi juga menjadi teladan bagi orang2 dewasa, bagaimana seharusnya kita bersikap dalam memperjuangkan agama ini.

Sedemikian rupa keadaannya, maka hampir menjadi kebiasaan Rasulullah (saw) untuk meminta kepada mereka yang siap keluar jihad, untuk berparade dalam suatu barisan. Hal itu selain sesuai dengan kehendak Allah (swt) [1], juga agar Rasulullah (saw) dapat memastikan bahwa tidak ada anak2 di bawah umur yang turut serta bersama mereka.

Demikian pula halnya pada hari2 menjelang perang Uhud. Nabi (saw) terpaksa meredam semangat jihad anak2 dengan cara mengembalikan mereka ke rumah2 orangtua mereka masing2. Diantara mereka adalah Abdullah bin Umar (ra), Zaid bin Tsabit (ra), Usamah bin Zaid (ra), Zaid bin Arqam (ra), Barra bin Azib (ra), Amr bin Hizam (ra), Usaid bin Zhuhair (ra), Urabah bin Aus (ra), Abu Sa'id al Khudri (ra), Samurah bin Jundub (ra) dan Rafi' bin Khadij (ra).

Tentu saja, anak2 tersebut merasa sangat kecewa. Dan melihat kekecewaan anaknya, maka Khadij (ra) berusaha untuk membela anaknya agar dia tetap dapat pergi ke medan perang. Khadij (ra) berkata, "Rafi' anak saya ini pandai memanah." Dan seiring dengan pembelaan ayahnya tersebut, dengan semangat baja, Rafi' menjijitkan kakinya agar terlihat lebih tinggi. Dan selanjutnya Rasulullah (saw) mengizinkan Rafi' bin Khadij (ra) ikut berperang.

Melihat keberhasilan Rafi' (ra), maka Samurah bin Jundub (ra) merayu ayah tirinya, Murrah bin Sinan (ra), "Ayah, Rafi' diperbolehkan ikut berperang, sedangkan saya tidak, padahal saya lebih kuat daripadanya. Jika adu tanding, pasti saya dapat mengalahkannya."

Rasulullah (saw) memperkenankan usulannya, sehingga keduanya ditandingkan di hadapan beliau. Ternyata Samurah bin Jundub (ra) dapat mengalahkan Rafi' bin Khadij (ra). Kemudian Samurah diizinkan beliau untuk ikut berperang.

Pertandingan itu benar2 membangkitkan semangat anak2 yang lain, sehingga banyak diantara mereka yang kembali mengajukan permohonan kepada Nabi (saw) agar mereka diijinkan untuk ikut berperang. Bagaimanapun akhirnya Nabi (saw) hanya membenarkan beberapa anak saja yang dapat menyertai peperangan ini. Subhanallah.


Catatan kaki:
[1] "Sesungguhnya Allah menyukai orang2 yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur se-akan2 mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (Qs ash Shaff 61:4).

Disarikan dari Subhan Ibn Abdullah, Pattaya, 15/04/2005


sumber :kebun hikmah

-------------

subhanalloh.. ^^
merasa tertinggal jauuuhhhh

Dicari: Muka Baru di Kursi Presiden

Pemilihan umum tinggal lima bulan lagi. Namun pemimpin dambaan ummat belum juga muncul. Kepada siapa ummat berharap?



Supangat benar-benar pusing. Awal pekan lalu anak sulungnya yang duduk di bangku kelas dua SLTP, meminta uang untuk membayar tunggakan SPP. Adiknya yang masih kelas V SD juga menagih janjinya. Seminggu lalu, lelaki itu berjanji akan melunasi uang ekstrakurikuler yang diminta anaknya. “Tinggal saya yang belum bayar, Pak. Saya malu,” kata sopir taksi itu menirukan ucapan anaknya, pekan lalu.

Tapi lelaki itu hanya bisa mengelus dada. Tak ada uang sepeser pun mampir di koceknya, kecuali sekadar untuk mengepulkan asap dapur. Sudah seminggu ini setorannya ke pool tak mencapai target. Selain kemacetan Jakarta makin tak pilih waktu, orang pun makin jarang naik taksi butut yang dikendarainya. “Kayaknya orang pada segen naik taksi saya kecuali kepepet,” ujarnya pelan.

Kesempitan hidup tak urung membuat Supangat apatis. Ia mengaku pusing memikirkan persoalan politik. Pemilu tinggal lima bulan, tapi ia merasa kenduri politik nasional itu tak punya greget. Meski para calon presiden mulai rajin tampil dalam kampanye di televisi, ia mengaku tak tertarik. “Buat saya, siapa saja presidennya terserah, yang penting aman, barang kebeli, beras murah, dan anak-anak bisa sekolah,” kata lelaki asal Tegal itu.

Harapan Supangat tampaknya perlu dicamkan para calon presiden yang bakal bertarung dalam pemilu nanti. Sebab, apatisme tak hanya melanda masyarakat kelas bawah. Para eksekutif yang berkantor di sepanjang jalan utama Ibukota pun terjangkit penyakit serupa. “Saya nggak punya gambaran tentang siapa presiden kita nanti,” kata Suryana, seorang manajer di sebuah perusahaan asing di kawasan Kuningan.

Bagi ummat Islam, urusan memilih presiden menjadi perkara yang sangat pelik. Sebab, hingga kini belum ada calon pemimpin yang sesuai dengan kriteria ummat Islam. “Saya lihat, belum ada calon presiden yang benar-benar mampu mengayomi aspirasi mayoritas ummat,” kata mantan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA), KH Cholil Badawi, beberapa waktu lalu.

Kerinduan akan pemimpin ummat yang mampu mengayomi dan menjamin stabilitas politik dan ekonomi memang bukan basa-basi. Sayang, kandidat presiden yang diperkirakan bakal mampu memenuhi harapan mereka masih belum juga muncul. Beberapa kandidat yang muncul rata-rata muka-muka lama yang kartunya sudah banyak terbaca selama orde reformasi ini berjalan.



Bursa Muka Lama



Dibandingkan para kandidat lainnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono jelas punya kans yang lebih besar. Selain didukung Partai Demokrat, posisinya sebagai calon incumbent jelas sangat strategis untuk berupaya kembali menduduki kursi empuk kepresidenan. Dukungan birokrat dan aparat, meski telah mengklaim diri netral, mau tak mau akan tetap terasa. Dalam berbagai poling, SBY pun masih tetap bertengger di urutan pertama.

Sebagai Presiden, SBY yang memang hobi tampil di depan publik tentu lebih banyak muncul di media ketimbang calon-calon lain. Sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, ia pun akan dianggap lebih banyak berbuat dari kandidat lain. Tapi, perlambatan ekonomi belakangan ini menurut berbagai pengamat politik dan ekonomi telah memurukkan citra SBY. “Masyarakat mulai merasa pesimis terhadap kondisi ekonomi nasional di bawah SBY-JK,” kata pengamat politik UI, Arbi Sanit.

Bagi umat Islam, SBY juga bukan pilihan yang menarik. Sebab, jenderal lulusan General Staff and College di Fort Leavenworth, Amerika Serikat ini sering tampil ragu. SBY pun sering terlihat lembek di hadapan Paman Sam. Berbagai kebijakannya juga dinilai tak berpihak kepada ummat, seperti keengganan dia membubarkan Ahmadiyah serta hobi kleniknya yang cukup gawat. Semua itu membuat nama SBY semakin jauh dari mata ummat.

Calon presiden yang paling siap menyaingi SBY adalah Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri. Mega kini rajin turun ke bawah sambil memoles performancenya. Tampaknya ia belajar dari kesalahan saat dikalahkan SBY, lima tahun lalu. Ia pun mulai rajin mendekati kantong-kantong ummat dan mendirikan Baitul Muslimin Indonesia (BMI) yang disetting sebagai sayap Islam Nasionalis PDIP.

Namun, manuver Mega di kalangan ummat Islam bukan tak mengundang kecurigaan. Sebab, selama ini PDIP justru sering menghempang aspirasi ummat Islam, seperti upaya PDIP menggagalkan pengesahan RUU Antipornografi dan Pornoaksi. Sebagian ummat Islam pun masih meragukan komitmen dan keabsahan Mega sebagai calon presiden. “Wanita tidak boleh menjadi kepala negara,” kata Ustadz Syamsuddin Ramadhan dari Hizbut Tahrir Indonesia.

Kandidat lain yang cukup potensial adalah Pemimpin Partai Gerindra Prabowo Subianto. Menjelang Pemilu 2009, intensitas iklan Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani dan Nelayan (HKTI) itu di televisi, makin kencang. Kampanye Prabowo lewat iklan ini pun berdampak positif bagi popularitas bekas menantu mantan Presiden Soeharto itu. “Popularitas Prabowo kini mencapai 7,8 persen,” kata Direktur Eksekutif Reform Institute Yudi Latief.

Prabowo memang pernah dikenal sebagai “Kepala Suku” “TNI Hijau” yang dekat dengan Islam. Kedekatan dia dengan beberapa kelompok Islam pula yang ditengarai menjadi salah satu sebab putra begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo ini diganjal karier militernya. Ia “kalah perang” dengan mantan Panglima TNI Jenderal Wiranto yang dianggap representasi pemimpin TNI “Merah Putih”.

Namun kini, beberapa kelompok Islam mempertanyakan Prabowo. Sebab, partainya –Partai Gerindra— meski sebagian diawaki mantan aktifis Islam, namun juga merekrut banyak kader kiri dan non muslim sebagai pengurus dan calon legislatif. Prabowo pun seolah trauma dengan kelompok Islam sehingga ia memilih berada di tengah semua pihak. Keberpihakannya kepada umat Islam yang ingin menegakkan syariat pun masih menjadi tanda tanya.

Kandidat lain yang rajin beriklan di koran dan televisi adalah Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat, Jenderal Wiranto. Tema iklannya sering menyentil kebijakan pemerintahan Presiden SBY, terutama soal harga BBM, dan ajakan agar rakyat tidak memilih pemimpin yang sering mengingkari janji dan ucapannya sendiri. Gara-gara iklan itu, SBY terpaksa harus beberapa kali berkomentar.

Wiranto juga semakin rajin menggalang dukungan ke berbagai daerah, termasuk ke kantong-kantong ummat. Ia hanya meneruskan langkah yang disusunnya sejak masih menjadi Panglima TNI dan calon presiden Golkar dalam pemilu lalu. Ia pun cukup dekat dengan beberapa kelompok Islam, seperti Partai Keadilan sejahtera. Selain sebagian faksi PKS mendukung dia dalam pemilu presiden putaran pertama pada 2004, kedua anak dan menantunya pun aktif di PKS.

Namun, hubungan Wiranto dengan PKS kini tak lagi seindah dulu. Ada yang membuat Wiranto kurang sreg pada beberapa elit PKS yang dinilainya kurang amanah, terutama soal uang. “Untuk PKS saja habis banyak. Pak Wiranto bilang, sampai Rp 35 milyar,” kata mantan Anggota DPR Ahmad Sumargono dua pekan lalu. Kini, di saat partai-partai Islam ragu mendukung Wiranto, PKS pun seolah enggan berjalan seiring dengan Hanura.

Sri Sultan Hamengku Buwono X belakangan dijagokan sebagai calon kuda hitam. Popularitasnya terus meningkat setelah dua bulan lalu mendeklarasikan tekadnya untuk maju menjadi calon presiden. Menurut hasil poling Reform Institue, elektibilitas Sultan kini mencapai 10 persen. Semboyan “Apa Bisa Tahan...” yang dipakai Sultan sebagai simbol tekadnya untuk mengentaskan kesengsaraan rakyat dinilai sukses.

Namun hingga kini belum ada kejelasan sikap kelompok Islam untuk mendukung Sultan. Sebab, Gubernur DIY ini kurang dekat dengan ummat, sementara aroma klenik tercium keras ketika ia memastikan diri untuk mencalonkan diri sebagai presiden. “Katanya beliau mendapat dawuh,” kata pengamat budaya Jawa, MT Arifin. Yang lebih gawat, sumber SI memastikan bahwa di belakang Sultan ada Paman Sam. “Kuat dugaan, pendukung Sultan terutama Garin Nugroho, adalah agen Amerika,” kata sumber tadi.



Apa Kabar Tokoh Ummat?



Di kalangan organisasi Islam ada pula beberapa nama yang muncul. Dari PKS, ada 8 kandidat yang dielus-elus, meski hanya Ketua Umum MPR Hidayat Nurwahid yang punya kans. Dari PAN mantan Ketua MPR Amien Rais masih layak diharapkan, dari PPP ada Ketua Umum sekaligus Menteri Koperasi dan Pengusaha Kecil Suryadharma Ali, sementara dari PBB Ketua Dewan Syuro Yusril Ihza Mahendra. Meski kandas dalam verivikasi, PKB Ciganjur masih ingin mengusung KH Abdurrahman Wahid.

Meski sebagian konstituen telah mengharapkan Hidayat maju sebagai calon presiden, tapi tampaknya PKS justru masih menunggu angin baik. “Kita masih terus menggodog delapan calon itu,” kata Presiden PKS Tifatul Sembiring beberapa waktu lalu. PAN juga belum memastikan calonnya. Selain Amien, Ketua Umum PAN Sutrisno Bachir pun berambisi menjadi calon presiden. Sementara itu, Partai Matahari Bangsa konon berniat mendukung Ketua PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin.

Partai Bulan Bintang memang telah mengelus-elus Yusril. Namun perolehan suara mereka di tahun 2004 yang tidak masuk electoral treshold memaksa mereka berpikir realistis. Demikian juga PPP jika berencana mengusung Suryadharma Ali. Sebab, beberapa pengamat politik menilai PPP telah menjadi partai orang tua, walaupun masih punya captif market. Pemilih PPP diduga akan semakin menurun. Mereka juga belum bisa mewakili mayoritas ummat Islam di Indonesia.

Di luar para tokoh-tokoh partai dan organisasi Islam itu sebenarnya masih ada beberapa tokoh umat yang cukuo dikenal masyarakat. Dari kalangan tokoh senior ada sesepuh pesantren Langitan, KH Abdullah Faqih, sesepuh Pesantren Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, tokoh ulama Betawi KH Abdul Rasyid Abdullah Syafi’i, Ketua Umum MUI KH Sahal Mahfudz, Ketua MUI KH Ali Yafie, Ketua MUI KH Ma’ruf Amien dan sebagainya.

Sementara itu, dari kalangan tokoh Islam yang lebih muda lagi, ada Ketua Umum FPI Habib Riziq Shihab, Sekjen FUI Muhammad Al Khaththath, Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia Ismail Yusanto, ada pula Komandan Laskar Islam Munarman, pemimpin jamaah dzikir Ustadz Arifin Ilham, pemimpin pesantren Darut Tauhid Bandung Ustadz Abdullah Gymnastiar, dan sebagainya. Tapi tampaknya, ummat masih juga belum sepakat untuk memilih dan mendukung para tokoh itu sebagai pemimpin ummat.

Mantan Wakil Ketua DPA Cholil Badawi mengaku gundah dengan ketidakpastian soal pemimpin nasional mendatang. Apalagi dari tokoh yang memiliki keberpihakan kepada ummat. Menurut dia, hingga saat ini belum ada seorang pemimpin di negeri ini yang memiliki kualitas lengkap. Padahal, kepemimpinan bukan perkara sembarangan. “Sampai kapan kita masih harus terus menunggu,” ujarnya. (Abu Zahra/mj/www.suara-islam.com)

------------

muka baru/lama sama aja.. sepertinya bukan orangnya yg diganti, tp sistemnya.. :P

Izinkan Aku Bercerita Tentangmu…

Jangan pernah lelah wahai Mujahidku
Karena ku kan senantiasa dibelakangmu untuk mendukungmu
Jangan kau tengok ke belakang, lihatlah kedepan
Didepan ada musuhmu, musuh Tuhan kita
Jadikan mereka terhina dengan kekuatanmu
Janganlah ragu untuk melepaskan peluru dari selongsong senapanmu
Bidiklah tepat dijantungnya
Jadikan ia mati sia-sia, tak memberi kemenangan bagi sekutunya
Maju terus jangan pernah menyerah
Lepaskanlah duniamu
Karena sungguh dunia ini hina
Sesungguhnya disisi Tuhan kitalah sebenar-benarnya kebahagiaan
Ingatlah isteri-isteri akhiratmu menunggumu dengan penuh cinta
Mereka senantiasa mendendangkan syair kerinduan
Hanya untukmu, hanya untukmu..

Disaat kau pulang dengan membawa kemenangan
Maka janganlah kau merasa puas hingga Allah memenangkan agama ini atau kau menemui syahid dimedan itu
Dua pilihan yang menguntungkan, bukan?
Siapakah yang tidak suka dengan perniagaan demikian?
Sungguh merugi bagi orang yang membeli kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat
Bukankah kau tidak demikian?

Kau sering bercerita kepadaku tentang indahnya syurga
Dengan berbagai kenikmatan didalamnya
Dan akupun mendengarkan dengan seksama
Betapa indahnya jika kita termasuk penghuni didalamnya
Menuai keridhaan-Nya selamanya

Wahai Mujahidku.. aku sering melihatmu bercucuran air mata
Dan seketika itu kau tersungkur bersujud
Memanjatkan sebuah doa
Aku tak bisa mendengarnya karena suaramu tertahan oleh gejolak didadamu
Namun ku tau
Itu adalah gemuruh kerinduanmu padanNya
dan kau memohon untuk bisa membela saudara-saudaramu dari para Thagut kaum kuffar
mengembalikan izzah mereka

wahai Kekasihku.. ku kan senantiasa berdoa untuk mu agar harapanmu terpenuhi
untuk bisa kembali ke medan pertempuran itu
sungguh aku ridha jika harus dua kali atau bahkan berulang kali ditinggal olehmu
meski kerinduanku belumlah pupus
meski sajadahku belumlah kering karena banyaknya air mata kerinduan mengharap hadirmu disisiku
meski hari-hariku kan kembali sepi oleh canda dan petuahmu

meski kau tak lagi mengimamiku shalat
meski kau tak akan menyakasikan kehadiran Mujahid kecilmu menghirup udara kehidupan
aku ridha, sungguh aku ridha
asalkan Rabb kita memperkenankan kita bersua dan berkumpul di JannahNya
untuk selamanya
Jika kita tak berjumpa kembali
Maka kan ku semai cintamu disyurga
Dalam istana takwa

senyumku mengembang jika ku membayangkannya(syurga)
namun ku tak bisa menyembunyikan rasa cemburuku pada bidadari bermata jeli
yang akan membagi kasihmu dengan ku
kecantikan mereka tiada tandingan
meski kau selalu menyanjungku tiap pagi dan malam hari
namun seperti yang kau tau aku adalah wanita pecemburu
jiaka rasa itu menyerang maka aku kan mengingat kata-katamu
“kecantikan bidadari memang tiada duanya namun wanita dunia lebih mulia dan tiada tandingannya karena mereka bersusah payah beribadah sewaktu didunia
Dan seketika itu pula hatiku riang
Ahhh..kau selalu mengerti bagaimana caranya membuatku senang

Wahai pujaanku..tiada berita yang lebih kusukai selain berita tentang kesyahidanmu
Oleh karena itu janganlah berhenti untuk mengharap syahadah pada-Nya
Mudah-mudahan Allah melapangkan jalanmu menujuNya
Kau ingat bukan Rabb kita telah berfirman
"Barang siapa menolong agamanya maka dia akan menolongnya pula"
Yakinlah itu

Wahai kekasih hati..jangan pernah ragu untuk meninggalkanku kembali
Jangan fikirkan aku
Karena ku kan baik-baik saja
Ku kan setangguh isteri Handzalah
yang merelakan malam pengantinya untuk memenuhi seruan-Nya
Kan kutopang hidupku tanpamu
Karena kini ku telah terbiasa
Kau yang mengajarkannya padaku, bukan?
Bukankah kita telah berkomitmen dari awal perjumpaan
dan saat ijab Kabul diucapkan
untuk mendirikan bangunan kasih kita diatas jalanNya
hingga syahid menjemput?
Kita tau perjumpaan didunia adalah sementara
Karenanya kita memohon perjumpaan yang kekal
Hingga kau dan aku tak terpisahkan lagi oleh ruang dan waktu
Allaahumma Amiin

Salam rinduku untuk mu selalu

Aisyah-mu

-----

(dari seorang teman)

mempersiapkan diri untuk hal terburuk.. hmm.. sebenarnya bukan hal terburuk, tapi terindah.. :)

Selasa, 27 Januari 2009

MENAPAKI JALAN ISLAM

Banyak orang mengharapkan kesuksesan dan keselamatan dalam kehidupan ini. Akan tetapi, sedikit sekali orang yang mengetahui jalan kesuksesan dan keselamatan tersebut. Lebih sedikit lagi adalah orang yang mengetahui, kemudian menapaki jalan kesuksesan dan keselamatan tersebut dengan benar.

Di antara rahmah Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah Ia tidak membiarkan manusia hidup di dunia ini dalam kebingungan dan kesesatan. Oleh karena itu, Ia mengutus para nabi dan rasul untuk menyampaikan jalan petunjuk-Nya kepada manusia. Pada akhir zaman ini, Allah mengutus Rasul-Nya Muhammad shallallahu 'alahi wa sallam dengan membawa risalah Islam sebagai penyempurna risalah para rasul sebelumnya. Maka, siapa yang menapaki jalan Islam pasti selamat. Sebaliknya, siapa yang menjauhinya pasti sesat dan binasa.

Akan tetapi, Islam tidak cukup dengan pengakuan; tidak pula dengan kerja keras tanpa aturan. Al-Qur'an memberikan pelajaran kepada kita mengenai penyimpangan umat sebelum kita dari jalan petunjuk yang dibawa oleh rasul mereka. Hal ini bertujuan agar kita –umat Islam— tidak mengulang sejarah penyimpangan mereka dari petunjuk Rabbani. Allah berfirman :

"Tunjukkanlah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan yang Engkau anugerahkan kepada mereka (para nabi, shiddiqin, syuhada', dan shalihin); bukan jalan orang-orang yang dimurkai, bukan pula jalan orang-orang yang tersesat." (QS Al-Fatihah [1] : 6-7)

Para ulama mengatakan bahwa "orang-orang yang dimurkai" adalah Yahudi, sedangkan "orang-orang yang tersesat" adalah Nasrani. Yahudi dimurkai Allah karena mengetahui kebenaran, tetapi tidak mau mengamalkannya. Sebaliknya, Nasrani tersesat karena beramal dengan menyelisihi kebenaran.

Adapun Islam adalah agama moderat. Umatnya pun umat moderat sebagaimana firman Allah :

"Dan demikianlah Kami jadikan kalian sebagai umat moderat (pertengahan) agar menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi pula atas (perbuatan) kalian." (QS Al-Baqarah [2] : 143)

Islam berada di pertengahan antara Yahudi dan Nasrani. Oleh karena itu, siapa saja yang hendak menapaki jalan Islam harus menyelisihi jalan yang pernah ditempuh oleh ahlul kitab. Mereka yang hendak menapaki jalan Islam dan hendak memperjuangkannya harus memenuhi dua hal :

Pertama, mengetahui dienullah 'Azza wa Jalla.

Kedua, mengamalkan ajaran dien sehingga dien itu menjadikan mereka berkuasa di muka bumi.

Beramal untuk mencari keridhaan Allah tanpa dasar ilmu adalah sangat berbahaya, sementara ilmu tanpa adanya amal jauh lebih berbahaya. Maka dapatlah dimengerti bahwa manusia yang paling berbahaya terhadap dienul Islam adalah orang-orang 'alim yang tidak mengamalkan ajaran dien. Sebab, mereka mngetahui celah-celah dan tempat-tempat untuk berkilah dari dien ini dan melepaskan diri dari tuntutan-tuntutan nash-nash Al-Qur'an dan hukum-hukum syar'i, kemudian mereka menfatwakan kepada umat perkara-perkara yang meringankan. Kebenaran mereka anggap sebagai syubhat. Sebaliknya, syubhat justru mereka anggap sebagai kebenaran. Pada hakikatnya, mereka ini menyembunyikan kebenaran dan menutupinya dengan hapalan pengetahuan mereka. Terhadap orang-orang seperti ini, Allah berfirman :

"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada mereka dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknat. Kecuali mereka yang telah bertaubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (QS Al-Baqarah [2] : 159-160)

Dalam menjelaskan ayat ini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabat, "Tahukah kalian, siapa para pelaknat itu?" Para sahabat menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahuinya." Beliau bersabda, "Binatang di permukaan bumi yang ditimpa paceklik dan kelaparan lantaran perbuatan para ulama su' 'jahat' sehingga jarang sekali turun hujan." (Hadits hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah)

Imam Al-Auza'i mengatakan dalam sebuah atsar, "Pekuburan mengadu kepada Allah 'Azza wa Jalla karena bau busuk bangkai orang-orang kafir. Lalu Allah mewahyukan kepadanya, 'Maukah Aku beritahukan kepadamu bau yang lebih busuk dari bangkai-bangkai itu?' Pekuburan menjawab, 'Ya, kami mau wahai Tuhanku.' Allah berfirman, 'Perut-perut ulama su'.'"

Di sisi lain, mereka yang mau beramal untuk dienul Islam namun tidak disertai ilmu, maka bisa jadi mereka mencemarkan dien tanpa mereka sadari. Orang yang beribadah kepada Allah tanpa dasar pengetahuan juga berbahaya. Karena itu, Imam Ibnu Sirin rahimahullah mengatakan, "Takutlah kalian terhadap dua fitnah karena fitnah keduanya adalah fitnah yang menyebabkan kehancuran manusia. Kedua fitnah itu adalah 'alim yang bejat dan ahli ibadah yang jahil." 'Alim yang bejat adalah orang 'alim yang tidak mengamalkan ilmunya, sedangkan ahli ibadah yang jahil adalah yang tidak mempunyai pengetahuan tentang dien, maka dia menyembah Allah 'Azza wa Jalla atas dasar kebodohan.

Dengan demikian, siapa saja yang ingin menapaki jalan Islam haruslah dengan ilmu dan amal secara seimbang sehingga mengantarkannya kepada kesuksesan dan keselamatan dunia-akhirat. Wallahu a'lam.

http://gedublaks.multiply.com/journal/item/2/MENAPAKI_JALAN_ISLAM

MENEGAKKAN SYARI'AT ISLAM

Terjemah dari kitab Tahkim Asy-Syari’ah karya Syaikh Abdul Aziz bin Baz



MUQADDIMAH



Segala puji bagi Allah; Rabb alam semesta. Saya bersaksi bahwa tidak ada Dzat yang berhak disembah kecuali hanya Allah semata; tiada sekutu bagi-Nya. Dia lah sesembahan makhluk pertama dan terakhir, Tuhan seluruh manusia, Sang Raja Diraja, Yang Maha Tunggal lagi Tempat Bergantung. Dia tidak dilahirkan dan tidak melahirkan serta tidak ada seorang pun yang bisa menandingi-Nya. Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepadanya. Dia telah menyampaikan risalah dan menunaikan amanah. Dia berjihad di jalan Allah dengan sungguh-sungguh. Dia tinggalkan umatnya dalam keadaan putih terang; malamnya seperti siang harinya. Tidak ada seorang pun yang menyimpang dari ajarannya melainkan pasti hancur. Amma ba’du.

Ini adalah tulisan sederhana sebagai keharusan nasihat tentang kewajiban berhukum kepada syari’at Allah dan peringatan dari berhukum kepada syari’at selain-Nya. Saya menulisnya karena melihat sebagian manusia pada zaman ini terjerumus ke dalam berhukum kepada selain syari’at Allah. Mereka berhukum kepada selain Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya; baik kepada tukang ramal, dukun, pemimpin suku, para pembela hukum positif, dan semisalnya. Sebagian mereka melakukan hal itu karena bodoh terhadap hukum perbuatan itu dan sebagian lain sengaja menentang Allah dan Rasul-Nya.

Saya berharap nasihatku ini bisa menjadi petunjuk bagi mereka yang bodoh dan peringatan bagi mereka yang lalai sehingga menjadi sebab keistiqamahan hamba Allah dalam meniti jalan-Nya yang lurus. Allah ta’ala berfirman,

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ

“Berilah peringatan karena ia bermanfaat bagi orang-orang beriman.” (QS Adz-Dzariyat: 55)

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ

“Ingatlah tatkala Allah mengambil janji orang-orang yang diberikan kitab kepada mereka, ‘Hendaklah kalian menjelaskannya kepada manusia dan jangan menyembunyikannya.” (Ali Imran: 187)

Saya memohon kepada Allah agar memberikan bermanfaat melalui tulisan ini dan menunjukkan kaum Muslimin secara umum untuk senantiasa konsisten dengan syari’at-Nya, berhukum dengan Kitab-Nya, dan mengikuti Sunnah Nabi-Nya Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Wahai kaum Muslimin! Allah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Tuhanmu memerintahkan agar engkau tidak menyembah kecuali kepada-Nya dan berbuat baik kepada kedua orang tuamu.” (Al-Isra’: 23)

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Sembahlah Allah dan janganlah engkau sekutukan Dia dengan sesuatu apa pun serta berbuat baiklah kepada kedua orang tuamu!” (An-Nisa’: 36)

Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal radhiyallaahu ‘anhu bahwa ia berkata,

كُنْتُ رِدْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حِمَارٍ يُقَالُ لَهُ عُفَيْرٌ قَالَ فَقَالَ يَا مُعَاذُ تَدْرِي مَا حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ قَالَ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا أُبَشِّرُ النَّاسَ قَالَ لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا

“Aku memboncengkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam di atas unta. Beliau bertanya, ‘Wahai Mu’adz! Tahukah engkau apa hak Allah atas hamba-Nya dan apa pula hak hamba dari Allah?’ Aku jawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Beliau bersabda, ‘Hak Allah atas hamba-Nya adalah mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun dan hak hamba dari Allah adalah Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun’.” Mu’adz berkata, “Aku bertanya, ‘Ya Rasulullah, bolehkah aku memberi kabar gembira manusia (dengan hadits ini)?’ Rasulullah menjawab, ‘Jangan engkau beritahu mereka agar tidak menyandarkan diri’.” (HR Bukhary)

Para ulama rahimahumullah telah menafsirkan ibadah dengan pengertian yang saling berdekatan. Di antara pengertian yang paling komprehensif adalah yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, “Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh perkataan dan perbuatan yang dicintai dan diridhoi Allah; baik yang lahiriah maupun batiniah.”

Pengertian ini menunjukkan bahwa ibadah menuntut ketundukan yang sempurna kepada Allah Ta’ala; baik dalam perintah, larangan, keyakinan, perkataan, maupun perbuatan. Demikian pula, hendaknya kehidupan seseorang tegak di atas syariat Allah. Ia menghalalkan apa yang dihalalkan Allah dan mengharamkan apa yang diharamkan Allah. Ia tunduk terhadap syariat Allah dalam semua tingkah laku dan perbuatannya. Ia lakukan itu dengan murni tanpa pengaruh hawa nafsunya. Dalam perkara ini, antara individu dan kelompok atau laki-laki dan wanita adalah sama. Bukan hamba Allah namanya jika seseorang tunduk kepada Rabbnya dalam sebagian aspek kehidupannya namun juga tunduk kepada makhluk dalam aspek lainnya. Pengertian ini dipertegas oleh firman Allah,

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa’: 65)

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maidah: 50)

Demikian juga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga keinginan (hawa nafsu)nya mau mengikuti risalah yang aku sampaikan.”

Tidak sah keimanan seorang hamba kecuali apabila ia beriman kepada Allah, ridho dengan hukumnya dalam sedikit maupun banyak, dan berhukum dengan syariat-Nya semata dalam seluruh aspek kehidupannya, baik dalam jiwa, harta, maupun kehormatan. Jika tidak mau, berarti ia telah beribadah (menyembah) kepada selain Allah. Allah berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut’.” (An-Nahl: 36)

Barang siapa tunduk hanya kepada Allah, mentaati-Nya, dan berhukum dengan wahyu-Nya, maka ia adalah hamba Allah. Sebaliknya, barang siapa tunduk kepada selain Allah dan berhukum kepada selain syariat-Nya, sungguh ia telah beribadah dan tunduk kepada thoghut. Allah berfirman,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ ءَامَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (An-Nisa’: 60)

Beribadah hanya kepada Allah semata dan baro’ (berlepas diri) dari beribadah dan berhukum kepada thoghut termasuk konsekuensi syahadat “tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya serta Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.” Allah Subhanahu adalah Rabb dan sesembahan manusia. Dia lah yang menciptakan mereka. Dia pula yang berhak memerintah dan melarang mereka. Dia lah yang menghidupkan dan mematikan mereka serta memberi hukuman maupun pahala kepada mereka. Dia semata yang berhak untuk diibadahi; bukan selain-Nya. Allah berfirman,

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ

“Ketahuilah bahwa mencipta dan memerintah adalah hak-Nya.” (Al-A’raf: 54)

Sebagaimana halnya Allah semata Sang Pencipta, maka Dia pun yang berhak memerintah. Kita wajib mentaati perintah-Nya.

Allah menceritakan orang-orang Yahudi bahwa mereka menjadikan orang alim dan rahib mereka sebagai sesembahan selain Allah ketika mereka mentaati orang alim dan rahib itu dalam menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Allah berfirman,

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (At-Taubah: 31)

Diriwayatkan dari ‘Ady bin Hatim radhiyallahu ‘anhu bahwa ia menyangka yang dimaksud dengan menyembah orang alim dan rahib itu adalah ketika menyembelih hewan korban, bernadzar, sujud, dan ruku’ untuk mereka saja maupun yang serupa. Pada saat baru saja masuk Islam, ‘Ady datang kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan mendengar beliau membaca ayat di atas. ‘Ady menyanggah, “Ya Rasulullah, kami tidak menyembah mereka.” Yang ia maksud adalah orang-orang Nasrani karena dahulunya ‘Ady adalah seorang Nasrani sebelum masuk Islam. Rasulullah bertanya, “Bukankah mereka mengharamkan apa yang dihalalkan Allah lalu kalian ikut-ikutan mengharamkannya dan menghalalkan apa yang diharamkan Allah lalu kalian pun juga ikut-ikutan menghalalkannya?” ‘Ady menjawab, “Memang betul!” Rasulullah bersabda, “Itulah bentuk penyembahan (peribadatan) mereka.” (HR Ahmad dan At-Tirmidzy)

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata ketika menafsirkan ayat di atas, “Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا

“Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa”, yaitu Tuhan yang apabila mengharamkan sesuatu maka itulah yang haram, apa yang Dia halalkan maka itulah yang halal, apa yang Dia syariatkan diikuti, dan apa yang Dia tentukan hukumnya dilaksanakan.

لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” Maksudnya, Maha Tinggi dan Maha Suci Allah dari segala sekutu dan tandingan. Tidak ada yang berhak disembah selain Dia dan tidak ada Rabb selain Dia.



PASAL

Apabila diketahui bahwa berhukum kepada syariat Allah termasuk konsekuensi syahadat “Laa ilaaha illallaah, Muhammad ‘abduhu wa Rasuluh”, maka berhukum kepada thoghut, para tokoh, tukang ramal, dan yang sejenis mereka dapat melenyapkan keimanan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Perbuatan ini adalah kekufuran, kezhaliman, dan kefasikan. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (Al-Maidah: 44)

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zhalim.” (Al-Maidah: 45)

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (Al-Maidah: 47)

Allah Ta’ala menjelaskan bahwa hukum selain syariat yang diturunkan Allah adalah hukum orang-orang jahiliyyah. Allah juga menjelaskan bahwa menolak hukum Allah Ta’ala adalah penyebab memperoleh siksa-Nya yang tidak akan dihindarkan dari kaum yang zhalim. Allah berfirman,

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ ÿ أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maidah: 49-50)

Orang yang membaca dan mentadabburi ayat ini akan jelas baginya bahwa masalah berhukum dengan syariat yang Allah turunkan ditegaskan dengan delapan penegasan.

Pertama, perintah untuk berhukum dengan syariat Allah dalam firman-Nya,

( وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ ) “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah”

Kedua, janganlah hawa nafsu dan keinginan manusia merintanginya untuk berhukum dengan syariat Allah dalam kondisi apa pun. Ini berdasarkan firman Allah,

( وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ ) “janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka”

Ketiga, peringatan dari sikap tidak mau berhukum dengan syariat Allah, baik dalam hal yang sedikit maupun banyak serta hal yang kecil maupun yang besar. Ini berdasarkan firman Allah, ( وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ ) “Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.”

Keempat, berpaling dan menolak sedikit pun dari hukum Allah adalah dosa besar yang pasti mendapat siksa pedih. Allah berfirman,

( فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ ) “Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka”

Kelima, peringatan agar tidak terpedaya dengan banyaknya orang yang menolak hukum Allah karena hanya sedikit orang yang mau bersyukur dari hamba-hamba Allah. Allah berfirman, ( وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ ) “Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik”

Keenam, pensifatan hukum selain syariat yang diturunkan Allah sebagai hukum jahiliyyah. Allah berfirman, ( أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ ) “Apakah hukum jahiliyah”

Ketujuh, penetapan makna yang agung bahwa hukum Allah adalah hukum paling baik dan paling adil. Allah berfirman, ( وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا ) “(hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah”

Kedelapan, konsekuensi dari keyakinan adalah ilmu (mengetahui) bahwa hukum Allah adalah hukum paling baik, paling sempurna, dan paling adil. Wajib bagi manusia untuk tunduk kepadanya disertai dengan keridhoan dan kepatuhan. Allah berfirman,

( وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ ) “dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”

Pengertian-pengertian ini terdapat dalam banyak ayat Al-Qur’an dan juga ditunjukkan oleh sabda Rasul shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan perbuatan beliau. Di antaranya adalah firman Allah,

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (An-Nur: 63)

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan.” (An-Nisa’: 65)

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.” (Al-A’raf: 3)

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (Al-Ahzab: 36)

Diriwayatkan sebuah hadits dari Rasul shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga keinginan (hawa nafsu)nya mau mengikuti risalah yang aku sampaikan.”

Imam An-Nawawy mengatakan, “Hadits ini shahih, kami meriwayatkannya dalam kitab al-hujjah dengan isnad shahih.”

Beliau juga bersabda kepada ‘Ady bin Hatim, “Bukankah mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah lalu kalian ikut-ikutan menghalalkannya dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah lalu kalian juga ikut-ikutan mengharamkannya?” ‘Ady menjawab, “Memang betul.” Rasulullah bersabda, “Itulah bentuk peribadatan mereka.”

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata kepada sebagian oarng yang mendebatnya dalam sebagian masalah, “Sungguh, hampir saja batu turun dari langit menimpa kalian. Aku katakan, ‘Rasulullah bersabda’, tapi kalian malah membantah dengan mengatakan, ‘Kata Abu Bakar dan Umar’.”

Maknanya, seorang hamba wajib tunduk dengan sempurna terhadap firman Allah Ta’ala dan sabda Rasul-Nya serta mendahulukannya atas perkataan semua orang. Ini adalah perkara yang sudah diketahui dalam agama secara pasti.

Oleh karena itu, di antara konsekuensi rahmat dan hikmah-Nya adalah Ia menjadikan syariat dan wahyunya sebagai landasan hukum di antara hamba-hamba-Nya. Sebab, Allah Maha Suci dari segala kelemahan, hawa nafsu, dan kebodohan yang menimpa manusia. Allah Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, lagi Maha Lembut. Ia mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya dan apa yang bermaslahat bagi mereka, baik pada saat ini maupun saat yang akan datang. Di antara kesempurnaan rahmat-Nya, Allah mengurusi keputusan di antara mereka ketika terjadi perselisihan dan dalam urusan-urusan hidup agar tercapai keadilan, kebaikan, dan kebahagiaan di antara mereka. Bahkan, tercapai juga kerelaan dan ketenangan jiwa.

Demikianlah. Tatkala seorang hamba mengetahui bahwa hukum yang diterapkan dalam perkara yang diperselisihkan adalah hukum Allah Sang Pencipta Yang Maha Mengetahui, ia pun menerima, rela, dan mematuhinya. Hingga …, meskipun hukum tersebut menyelisihi hawa nafsu dan keinginannya. Berbeda halnya jika ia mengetahui bahwa hukum yang diterapkan berasal dari manusia seperti dirinya. Mereka memiliki syahwat dan hawa nafsu. Dalam kasus ini, orang tersebut tidak akan rela serta terus melanjutkan tuntutan dan gugatannya sehingga perselisihan pun tidak berhenti. Ketika Allah mewajibkan hamba-Nya untuk berhukum dengan wahyu-Nya, hal itu sebagai bentuk rahmat-Nya dan kebaikan-Nya kepada mereka. Allah telah menjelaskan jalan umum ini dengan sangat gamblang dalam firman-Nya,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا ÿ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa’: 58-59)

Dalam ayat di atas terdapat nasihat umum, baik untuk orang yang menghukumi dan yang dihukumi atau untuk pemimpin dan rakyat. Dalam ayat di atas juga terdapat nasihat untuk para hakim dan penguasa tentang keadilan. Allah memerintahkan mereka agar menetapkan hukum dengan adil. Allah juga memerintahkan orang-orang beriman agar menerima hukum tersebut yang merupakan konsekuensi dari syariat-Nya yang diturunkan kepada Rasul-Nya dan mengembalikan segala perkara kepada Allah dan Rasul-Nya di saat terjadi perselisihan.

Dari pembahasan yang sudah lalu, wahai saudaraku muslim, jelaslah bagi Anda bahwa menerapkan syariat Allah dan berhukum kepadanya termasuk di antara ketentuan yang diwajibkan Allah dan Rasul-Nya. Perkara ini termasuk konsekuensi dari peribadatan kepada Allah dan kesaksian terhadap risalah Nabi-Nya Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Siapa yang menentang syariat Allah atau sebagian darinya, maka ia wajib mendapatkan adzab Allah. Masalah ini sama saja, baik yang dilakukan oleh negara kepada rakyatnya atau dilakukan oleh kelompok kaum muslimiin di setiap tempat dan zaman, baik dalam perselisihan khusus atau umum. Begitu pula, baik antara satu negara dengan negara lain, antara satu kelompok dengan kelompok lain, atau antara individu muslim dengan muslim lainnya. Hukum dalam semua kasus itu sama. Allah lah yang memiliki hak untuk mencipta dan memerintah, dan Dia seadil-adilnya hakim.

Tidak ada keimanan bagi orang yang meyakini bahwa hukum dan pendapat manusia lebih baik daripada hukum Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada keimanan pula bagi orang yang meyakini bahwa hukum Allah dan Rasul-Nya serupa dengan hukum manusia atau membolehkan untuk mengambil hukum positif dan aturan manusia meskipun ia meyakini bahwa hukum Allah lebih baik, lebih sempurna, dan lebih adil.

Wajib atas seluruh kaum muslimin secara umum, penguasa mereka, dan ahlul halli wal ‘aqdi[1] untuk bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan menerapkan hukum syariat-Nya di negara-negara mereka dan dalam seluruh urusan hidup mereka serta memelihara diri mereka dan orang-orang yang menjadi tanggungan mereka dari adzab Allah di dunia dan di akhirat. Wajib pula atas mereka untuk mengambil pelajaran dari apa yang terjadi di negeri-negeri yang menolak hukum Allah serta malah membeo bangsa Barat dan mengikuti jalan mereka. Di negeri-negeri tersebut sering terjadi perselisihan dan perpecahan, muncul berbagai bencana, sedikit kebaikan, dan saling membunuh. Kedaaan mereka tidak akan pernah baik dan hegemoni politik maupun intelektual musuh yang menguasai mereka tidak akan lenyap kecuali apabila mereka mau kembali kepada Allah dan meniti jalan-Nya yang lurus yang Ia ridhoi untuk hamba-hamba-Nya. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk meniti jalan tersebut dan menjanjikan surga An-Na’im bagi mereka. Maha Benar Allah ketika berfirman,

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى. قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا. قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ ءَايَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia, ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?’ Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan". (Thaha: 124-126)

Tidak ada kesempitan melebihi hukuman yang Allah berikan kepada orang yang mendurhakainya dan tidak melaksanakan perintah-Nya, lalu ia mengganti hukum Allah dengan hukum makhluk yang lemah. Alangkah bodohnya pendapat orang yang Al-Qur’an ada padanya –hendaknya dia menyampaikan kebenaran, menjelaskan perkara dan jalan keluarnya, dan memberikan petunjuk kepada orang yang sesat—, lalu ia mencampakkannya. Sebagai gantinya, ia mengambil pendapat tokoh-tokoh manusia atau peraturan suatu negara? Tidakkah mereka ini mengetahui bahwa mereka telah rugi dunia akhirat? Mereka tidak mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan di dunia. Di akhirat pun, mereka tidak selamat dari siksa Allah pada hari kiamat. Hal itu karena mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah kepada mereka dan meninggalkan apa yang diwajibkan Allah kepada mereka.

Saya memohon kepada Allah agar menjadikan kata-kataku ini sebagai peringatan dan penyadar bagi kaum muslimin untuk memikirkan kondisi mereka dan memperhatikan diri dan bangsa mereka sehingga kembali kepada petunjuk mereka dan konsisten dalam menjalankan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam agar mereka benar-benar menjadi umat Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula, agar nama baik mereka kembali terangkat di kalangan bangsa-bangsa di muka bumi sebagaimana terangkatnya nama baik salafush shalih dan generasi utama umat ini hingga mereka menguasai dunia ini dan manusia pun tunduk kepada mereka. Semua itu terwujud dengan pertolongan Allah yang menolong hamba-hamba-Nya yang beriman yang mau memenuhi panggilan-Nya dan Rasul-Nya. Oh…, andai saja mereka tahu. Dosa apakah yang telah mereka perbuat? Bencana apakah yang mereka timpakan kepada umat? Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَ وَسَوْفَ تُسْأَلُونَ

“Dan sesungguhnya Al Qur'an itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab.” (Az-Zukhruf: 44)

Disebutkan dalam sebuah hadits dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang maknanya adalah, bahwa Al-Qur’an akan diangkat dari hapalan (benak) dan mushaf di akhir zaman ketika ditinggalkan oleh manusia. Mereka menolak untuk membaca dan menerapkan hukum-hukumnya. Hati-hatilah agar musibah ini tidak menimpa kaum muslimin atau menimpa generasi mereka yang akan datang karena perbuatan mereka. Innaa lillaahi wa innaa ilahi rooji’uun!

Nasihatku ini juga saya tujukan kepada kelompok-kelompok muslim yang hidup di tengah-tengah mereka. Yaitu mereka yang mengetahui dien dan syariat Allah, akan tetapi tetap berhukum kepada tokoh-tokoh mereka yang menerapkan adat dan budaya ketika terjadi perselisihan. Mereka memutuskan hukum dengan syair-syair dan sajak-sajak, persis seperti perbuatan orang-orang jahiliyah dahulu.

Saya berharap terhadap orang yang telah sampai kepadanya nasihatku ini agar bertaubat kepada Allah, berhenti melakukan perbuatan-perbuatan haram itu, meminta ampunan kepada Allah, dan menyesali kesalahan yang telah lalu. Demikian pula, hendaknya ia saling menasihati saudara-saudaranya yang ada di sekitarnya untuk membuang semua tradisi jahiliyah atau adat yang menyelisihi syariat Allah. Sesungguhnya taubat mampu menghapus dosa-dosa sebelumnya. Orang yang bertaubat dari suatu dosa seperti orang yang tidak melakukan dosa.

Kepada para penguasa dan pembantunya, hendaknya mereka giat mengingatkan dan menasihati umat manusia dengan kebenaran, menjelaskannya kepada mereka, dan mengangkat hakim-hakim yang shalih di antara mereka agar tercapai kebaikan dengan izin Allah. Hendaknya pula mereka menghentikan hamba-hamba Allah yang menentang-Nya dan berbuat maksiat kepada-Nya. Sungguh, alangkah butuhnya kaum muslimin pada hari ini terhadap rahmat Rabb mereka. Dengan rahmat tersebut, Allah akan mengubah kondisi mereka dan mengangkat mereka dari kehidupan yang hina menuju kehidupan yang mulia.

Saya memohon kepada Allah dengan perantara nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi agar Ia membuka hati kaum muslimin untuk memahami dan menerima firman-Nya, menerapkan syariat-Nya, menolak semua peraturan yang menyelisihi syariat-Nya, dan konsisten menjalankan hukum-Nya sebagai bentuk pengamalan firman-Nya,

إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Keputusan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Yusuf: 40)

Semoga shalawat dan salam Allah senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad serta keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik hingga hari kiamat.

[1] . Dewan penasihat dalam sebuah negara Islam yang bertugas memilih, mengangkat/menurunkan, dan membai’at khalifah.
 

Site Info

Followers

Tidak Ada Dien Yang Diridhai Allah Selain Islam Copyright © 2010 HN-newby L-F is Designed by ri-cka
In Collaboration with smooTBuuz