Jumat, 23 Januari 2009

Al-Walaa Wal Baraa' - Muwalat Dengan Kuffar

Al-Muwalat dengan non Muslim terbagi menjadi dua bagiani:

1. Kufur Akbar
2. Kufur Duna Kufur


Kufur Akbar

Ini disebut Al Muwalaat Zaahirah, yang didefenisikan sebagai berikut:
“Al Muwalaat Zahirah adalah seseorang yang dengan jelas, berdiri dengan kafir dan musyrik dengan lidahnya dan perbuatannya untuk menguatkan, meninggikan mereka, meningkatkan jumlah mereka serta bersekutu dengan mereka melawan Muslim tanpa mempedulikan apa yang ada dalam hatinya.”
Bentuk Muwalaat ini akan mengeluarkan seseorang dari ikatan Islam dan dengan jelas dalam ayat Qur’an surah Al-Ma’idah dimana Allah swt. berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS Al Ma’idah, 5: 51)

Dalam tafsir Imam Qurtubi tentang ayat ini beliau mengutip Ikrimah dan Abdullah Ibnu Abbas ra., beliau berkata:

“’Dia adalah salah satu dari mereka’ maksudnya bahwa hukumannya adalah seperti hukuman mereka, dia tidak akan menerima harta rampasan karena dia mutad, kita harus mendeklarasikan kebencian kepadanya seperti kita mendeklarasikan kebencian kepada mereka, dan kita berkewajiban untuk memeranginya seperti kita berkewajiban untuk memerangi mereka, dan dia akan masuk neraka seperti mereka. Ini adalah opini dari Ikrimah dan Ibnu Abbas ra.”
Lebih lanjut, Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengumpulkan sepuluh hal yang membatalkan Imaan, dan di antaranya adalah ‘bersekutu dengan Kuffar.’

Sayyid Quthb yang hidup pada masa Asy’ariyyah, tetapi telah berubah untuk mengikuti Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, berkata:

“Banyak orang-orang yang berfikir untuk ‘bersama mereka’ yang berarti mengikuti mereka (dien mereka), hal itu jauh dari kebenaran, itu adalah mendukung mereka dengan lidah dan anggota tubuh dan mencintai mereka.”
Selanjutnya dia berkata:

“Setiap Muwalaat kepada kuffar akan membuat kita kafir, dan membolehkan Muslim untuk memerangi dan membunuhnya, walau pun dengan mengklaim sebagai Muslim dan mendeklarasikan syahadah.”
Ini selanjutnya dipaparkan dalam Qur’an dimana Allah swt. berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri (kepada mereka) malaikat bertanya : "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?." Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)." Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?." Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah). mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS An Nisaa’, 4: 97-99)

Ayat ini diturunkan tentang orang-orang yang memeluk Islam di Mekkah, tetapi tidak bersama Rasulullah saw. pada saat Hudaibiyah, tetapi mereka tetap tinggal di Mekkah.
Ibnu Katsir dan Imam Qurtubi menafsirkan ayat ini, mereka berkata:

“Ayat ini adalah tentang kaum Muslimin yang tetap tinggal di Mekkah pada saat Hudaibiyah karena mereka mementingkan pada tanah dan rumah-rumah mereka, sampai Quraisy meminta mereka untuk bergabung dengan tentara Quraisy untuk berperang di Badar melawan Muslim. Mereka pergi ke medan Badar melawan Rasulullah saw., Allah menyebut mereka kafir dan memberikan izin untuk membunuh mereka semua.” [Qurtubi Jilid.5 hal. 349]
Allah menyebut mereka kafir dan memberikan izin untuk membunuh mereka semua, menempatkan mereka di neraka. Dia mengutip Ikramah ra. yang berkata:

“Telah ada sekelompok Muslim yang tidak mau berhijrah, mereka diminta untuk bergabung dengan tentara (Quraisy)…” [Qurtubi jilid. 5 hal. 349]
Karena ini, Rasulullah saw. bersabda:
“berperanglah dengan nama Allah, di jalan Allah, dan jika kamu bertemu dengan mereka, perangilah mereka.”

Imam Qurtubi berkata:

“walaupun di bawah paksaan, tidak ada keringanan bagi mereka untuk memerangi saudara Muslimnya sendiri.” [Qurtubi jilid 5 hal. 349]

Abdullah ibnu Abbas berkata:

“Aku dahulu bersama ibuku – Al Mustadd’afin tinggal di Mekkah bahwa Allah swt. telah memberikan keringanan dalam Qur’an.”
Kaum Muslimin ini juga diperingati dalam ayat yang lain, karena itu telah terjadi bahwa orang-orang Muslim yang telah bergabung dengan tentara Quraisy melawan Muslim di Badar telah melewati Madinah dengan tujuan untuk berdagang, kaum Muslim di Madinah telah mendengar bahwa mereka akan datang ke Madinah dan mereka bersiap untuk membunuh mereka pada saat mereka tiba, namun sebuah kelompok Munafiqun datang dan menyalahkan mereka, bartanya bagaimana bisa membunuh orang-orang yang mengucapkan ‘laa ilaaha illallah’. Allah telah menurunkan sebuah ayat yang ditujukan kepada tentara Quraisy beserta kelompok Munafiq tersebut:
Allah swt. berfirman:

“Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri ? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah? Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya. Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong.” (QS An Nisaa’ 88-89)

Allah menyebut kedua munafiq, keduanya orang-orang yang telah memerangi Muslim, dan orang-orang yang telah membela mereka berasal dari kaum Munafiq di Madinah.

Ibnu Katsir mengutip perkataan Ibnu Abbas dalam tafsirnya tentang ayat ini:

“Ayat ini turun pada saat sebuah kelompok dari kaum Muslimin di Mekkah yang mengklaim Muslim. Mereka mendukung Kuffar melawan Muslim, mereka pergi ke Madinah kemudian orang-orang berselisih untuk membunuh mereka atau tidak, Allah swt. berfirman: “bunuhlah mereka dimana saja kamu menemui mereka.”

Dan Ibnu Abbas selanjutnya berkata,

Pada saat ayat ini diturunkan “bunuhlah mereka dimana saja kamu temui mereka.:, mereka berlari di sekitar Madinah, khawatir bahwa ayat itu diberlakukan untuk mereka.”
Dan Allah swt. mendeklarasikan orang-orang yang mengambil Kuffar sebagai teman adalah Kafir, Allah swt. berfirman:
“. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik (Fasiqun).” (QS Al Ma’idah, 5: 80-81)

- Al Fasiqun berarti non-Muslim.

Dalam tafsir ayat ini dia berkata:

“Ahlun Nifaq tidak diketahui oleh orang-orang kecuali oleh Muwahid, dan dimana saja telah diturunkan orang-orang yang dahulunya mereka saling melihat satu sama lain dan berfikir ‘Untuk siapa ayat ini diturunkan?”

Ini menunjukkan bahwa lebih dahulu mereka mengatakan jika mereka Muslim dan mengklaim telah beriman, karena perbuatan kufur mereka yang dinilai telah murtad, tidak ada seorang pun mengetahui orang-orang Munafiq kecuali dengan melihat perbuatan (munafiq) mereka.

Allah swt. juga berfirman:
“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (QS Ali Imran 3: 28)
“maka apakah orang-orang kafir menyangka bahwa mereka (dapat) mengambil hamba-hamba-Ku menjadi penolong selain Aku? Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka Jahannam tempat tinggal bagi orang-orang kafir.” (QS Al Kahfi, 18:102)

Allah swt. adalah wali bagi orang-orang beriman dan orang-orang beriman HARUS mempunyai walaa’ kepada Allah, kuffar terpisah dari Allah, dan mereka tidak dibolehkan untuk mempunyai walaa’ dengan orang-orang beriman.

Dalam Sunan Ad-Darimi tentang ayat ini telah dinyatkan bahwa:

“Ini adalah sebuah seruan yang jelas bahwa seorang kafir tidak bisa diambil oleh Muslim sebagai seorang teman, jika dia (Muslim) melakukannya, maka dia kafir.”

Allah swt. telah menginformasikan kepada kita tentang seorang ulama yang sebelumnya berasal dari Yahudi:

“Mencertaikan kepada mereka cerita orang-orang yang Kami kirimkan tanda-tanda, tetapi meningglakannya dengan: begitu Syaitan mengikutinya dan membuatnya sesat. Jika kami kehendaki, Kami seharusnya mengangkatnya dengan tanda-tanda kami; tetapi dia cenderung pada dunia, dan mengikuti hawa nafsunya. Dia ibarat seekor anjing: jika kita

menyerangnya, dia akan menjulurkan lidahnya, atau jika kita meninggalkannya sendiri, dia masih mejulurkan lidahnya. Itu adalah ibarat orang-orang yang menolak tanda-tanda Kami; maka bercerita kisah; sekiranya mereka mungkin memikirkannya.”

Itu adalah tentang seseorang yang memberikan ‘ayat’ atau ‘ilmu’. Ada perselisihan dalam masalah orang ini, sebagian mengatakan bahwa mereka adalah seorang Nabi, yang lainnya mengimaninya untuk menjadi seorang ‘Alim dari Bani Israil, ini opini yang lebih kuat. Dia hidup di antara Kuffar pada masa Musa as., tetapi Musa as. dan pengikutnya datang untuk memerangi Kuffar, orang-orang ini datang pada orang ‘Alim ini dan mengadu ketakutan kepada pengikut Musa as.. Mereka memintanya untuk berdoa, sampai secepatnya Syaitan membisikan menyusul dan dia (Alim) berdoa memerangi Musa as. diluar rasa suka pada orang-orangnya di atas orang-orang yang beriman.

Inilah sebabnya Allah telah mengambil kembali apa yang Dia telah berikan kepadanya, dan mengutuknya dalam ayat ini.


Kufur Duna Kufur

Hampir kufur dari kufur, berarti bahwa Muwalaat jenis ini tidak akan mengeluarkan kita dari ikatan Islam. Al Muwalaat yang ini Kufur duna Kufur yang menjadi marah karena sebuah alasan kebangsaan, kesukuan, sampai kita melakukan Muwalaat yang lebih besar lagi (itu adalah kufur Akbar).

Seperti contoh pada saat Rasulullah saw. mendengar bahwa orang-orang membuat sebuah fitnah melawan Aisyah r.a. Itu tersebar dengan seorang pria yang telah pergi berdua bersamanya, Ummu Aisyah dan seorang penyair. Allah swt. menurunkan tujuh ayat yang menyatakan ketidakbersalahan Aisyah r.a., menyebutkan rumor , ‘Ifk (berita palsu) (Ifk bukan hanya umpatan, atau bualan tetapi sebuah fitnah, Kisah Aisyah r.a. dikenal dengan Hadits ‘Ifk atau Berita Palsu.)
Sa’ad Ibnu Mu’adz berkata pada Muhammad saw.:

“Jika dia adalah seorang dari aus kami akan membunuhnya, jika dia seseorang dari Khazraj, kamu akan memerintahkan kepada kami dan kami akan membunuhnya.” [yaitu bahwa jika dia berasal dari suku mereka, dia tidak akan membunuhnya kecuali jika Rasulullah memerintahkannya.
Rasulullah saw. menjawab:

"Seorang pria berasal dari Muhajirin telah bertempur dengan seorang pria dari Anshar, laki-laki mnyeru “Yaa kaum Anshar dukunglah aku” dan orang Muhajir, “Yaa Muhajirin, dukunglah aku.” (mereka berpecah dengan suku-suku mereka masing-masing dan berperang satu sama lain.) Rasulullah saw. bersabda:

“Tinggalkanlah Nasionalisme itu adalah sesuatu yang buruk.”
Selanjutnya, beliau tidak menyebut mereka kafir, mengindikasikan bahwa kebangsaan, kedaerahan adalah Kufur Duna Kufur, itu akan membuat kita berdosa tetapi tidak murtad.


ALlohua`lam bish showab


dari blog tetangga :)
souce:www.musallim.blogspot.com
Share This
Subscribe Here

0 komentar:

 

Site Info

Followers

Tidak Ada Dien Yang Diridhai Allah Selain Islam Copyright © 2010 HN-newby L-F is Designed by ri-cka
In Collaboration with smooTBuuz